Prof. Habibah S. Muhiddin, Direktur Utama RS Mata dan Klinik Utama Mata JEC Orbita @ Makassar dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Hasanuddin, Selasa (18/2/2025). (Dok. Istimewa)
Berlandas analisis situasi dan berpijak pada tujuan agar bonus demografi tidak menjadi kesia-siaan, Prof. Habibah merumuskan tiga kebutuhan krusial untuk pencegahan kebutaan akibat RD di Indonesia. Pertama, political will - dengan menempatkan RD sebagai prioritas indikator kesehatan, layaknya kesehatan ibu dan anak, stroke atau penyakit kardiovaskular lainnya.
Kedua, sarana dan prasarana yang memadai - baik untuk skrining maupun terapi, termasuk laser fotokoagulasi seharusnya tersedia di seluruh kabupaten. Ketiga, kolaborasi lintas profesi dan sektoral - dari tenaga kesehatan tingkat primer hingga tersier, antar dokter spesialis penyakit dalam endokrin metabolik dan spesialis mata, serta kerja sama dengan berbagai organisasi (baik pemerintah maupun non-pemerintah, dan nasional maupun internasional).
Sebagai realisasi pencegahan kebutaan akibat RD, sebelumnya Prof. Habibah telah menggagas berbagai inisiatif strategis di Sulawesi Selatan. Melalui Departemen Ilmu Kedokteran Mata Unhas dan PERDAMI, Habibah telah bekerja sama dengan Helen Keller International, Lions International, Yayasan Layak, CBM, Foresight Australia, Orbis International, Royal College of Ophthalmology, University of Dundee, Standard Chartered dan berbagai organisasi lain. Kolaborasi tersebut telah melahirkan berbagai program, seperti pelatihan untuk dokter umum, dokter mata, perawat, optometrist, kader dan guru untuk skrining gangguan penglihatan, termasuk RD.
Mengakhiri pidatonya, Habibah menyampaikan harapannya agar upaya preventif ini dapat terus berkembang dan berdampak. “Untuk mengatasi masalah kebutaan dan gangguan penglihatan RD perlu tata laksana dari hulu sampai ke hilir, terutama pada usia produktif agar bonus demografi memberi impak positif bagi Indonesia. Kita semua bertanggung jawab untuk memastikan bahwa generasi mendatang memiliki akses ke layanan kesehatan mata yang berkualitas. Bersama, kita bisa membangun masa depan yang lebih cerah bagi bangsa ini,” ucapnya.
Pengukuhan Prof. Dr. dr. Habibah S. Muhiddin, Sp.M(K) menambah jumlah dokter spesialis mata dari jaringan JEC Group yang menjadi delapan guru besar ilmu penyakit mata di berbagai universitas terkemuka Indonesia. Sebelumnya, gelar tersebut juga pernah dikukuhkan oleh Universitas Indonesia kepada (Almarhum) Prof. Istiantoro Sukardi, Prof. Tjahjono D. Gondhowiarjo, Prof. Widya Artini Wiyogo, dan baru-baru ini, Prof. Yunia Irawati. Selain itu, Universitas Diponegoro mengukuhkan pula Prof. Winarto, serta Universitas Hasanudin telah memberikan gelar serupa kepada Prof. Budu, dan Prof. Andi Muhammad Ichsan.