Makassar, IDN Times - Di ujung jalan setapak berliku di kawasan padat penduduk Pampang, Kecamatan Panakkukang, Makassar, sebuah rumah panggung kayu berdiri rapuh tepat di bibir anak Sungai Tallo. Dinding seng membuat hawa terik siang itu terperangkap di dalamnya. Cahaya matahari menerobos masuk dari sela-sela dinding yang tak sepenuhnya rapat.
Karpet plastik bermotif ubin merah yang sudah memudar menutupi lantai kayu di ruangan utama berukuran 3x3 meter. Di satu sudut, lemari plastik berdiri mepet ke dinding, menjadi tempat penyimpanan utama bagi tujuh anggota keluarga yang tinggal di sana. Di sisi lainnya, sebuah kasur dengan sprei ungu bermotif bunga tergelar, mengisi sebagian besar ruang lantai. Di sanalah tempat beragam aktivitas sekaligus area istirahat.
Siang itu, Jumat (26/6/2026), Muhammad Raihan Firmansyah (14) yang sedang menghabiskan libur semester tampak duduk bersila di lantai. Sementara ibunya, Marhani, duduk tak jauh dari dia. Sesekali mata merekasaling beradu pandang.
Setahun lalu, sebelum remaja ini berseragam Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar, hari-hari Raihan banyak dihabiskan di rumah reyot itu. Bukan cuma buat belajar atau main, tapi juga bekerja. Sebab sebelum rutinitasnya berubah seperti sekarang, Raihan dan adik-adiknya adalah 'karyawan' andalan sang ibu untuk urusan mengupas bawang.
Pekerjaan ini biasanya dimulai pagi-pagi buta. Bahkan sebelum matahari naik seutuhnya, tumpukan bawang sudah menggunung dalam baskom besar di bagian depan rumah. Raihan dan saudara-saudaranya akan duduk berjam-jam untuk mengupas kulit, membersihkan, lalu mengumpulkan bawang-bawang. Biasanya aktivitas itu baru selesai sekitar pukul tiga sore.
“Kalau ada bawang masuk, saya mengupas bawang. Tidak setiap hari. Kalau lancar, upahnya seribu rupiah per kilo yang sudah bersih ditimbang," katanya saat berbincang dengan IDN Times.
Marhani sehari-harinya memang buruh pengupas bawang untuk sebuah usaha dapur pembuatan bawang goreng. Pekerjaan ini normalnya dilakukan di dapur produksi. Namun karena bosnya sudah percaya, sebagian garapan diizinkan untuk dibawa pulang. Di titik itulah anak-anaknya ikut turun tangan.
Tangannya bergerak pelan mengiringi ceritanya. Jemari wanita itu tampak kasar, merekam jejak pekerjaan berat yang ia lakoni berulang kali setiap hari. Dengan upah tergantung timbangan, aktivitas itulah yang jadi salah satu tiang penyangga napas keluarga mereka.
"Tergantung besarnya bawang, kalau lagi besar saya bisa dapat satu karung sehari, sekitar 43 sampai 45 kilo,” tutur Marhani.
Sang suami, Hamzah, hanya pekerja serabutan. Kadang ia disuruh membersihkan empang milik orang kalau kebetulan ada panggilan. Kadang ada tawaran tenaga lain, tapi tak jarang juga ia menganggur sama sekali.
“Sembarang saja dikerja,” ucap Marhani pasrah.
Di rumah sesempit itu, tujuh nyawa hidup berdampingan. Raihan adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakaknya sudah lulus sekolah. Sementara adiknya yang baru mau masuk SMP, kata Marhani, sekarang juga tengah didaftarkan ke Sekolah Rakyat.
Bagi keluarga di kelas ekonomi ini, hidup ibarat berjalan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Penghasilan tak pernah bisa dipastikan, sementara perut dan kebutuhan rumah tak bisa disuruh menunggu.
Urusan sekolah, sayangnya, jadi salah satu beban paling nyata. Bukan karena mereka malas menyekolahkan anak, tapi karena kata 'sekolah' selalu datang beriringan dengan daftar panjang. Mulai dari seragam, buku, sepatu, ongkos jalan, uang jajan, dan tetek bengek pengeluaran kecil yang kalau ditotal bikin pusing kepala.
Sebelum kenal Sekolah Rakyat, Raihan bersekolah di salah satu SMP swasta di Kota Makassar. Selepas lulus pada tahun 2025, ia nyaris putus sekolah karena orang tuanya sulit mencari biaya untuk keperluan mendaftar ke Tingkat SMA.
Jalan keluar itu perlahan terbuka saat Marhani, yang berstatus penerima Program Keluarga Harapan (PKH), menghadiri sebuah pertemuan. Di sana diumumkan tentang pembukaan Sekolah Rakyat, dan keluarga yang ingin mendaftar dibukakan jalan untuk mengajukan diri sebagai peserta.
“Pas ada rapat, diumumkan bagi yang mau mendaftarkan anaknya ke Sekolah Rakyat dipersilakan. Jadi kami ajukan pendaftaran,” kenang Marhani.
Waktu itu, Marhani sama sekali tak punya bayangan wujud sekolah tersebut seperti apa. Yang terngiang di kepalanya cuma satu, yaitu semua biaya sekolah ditanggung penuh oleh pemerintah alias gratis Anak-anak tidak hanya diberi akses pendidikan, melainkan juga dapat tempat tinggal dan keperluan hidup sehari-hari.
Bagi Marhani, alasan itu sudah lebih dari cukup.
