Puluhan Siswa dari Tiga Sekolah di Tomohon Diduga Keracunan MBG

- Puluhan siswa di Tomohon diduga keracunan MBG.
- Mereka dirawat di 4 rumah sakit.
- SPPG Kolongan Satu ditutup sementara.
Manado, IDN Times - Puluhan siswa di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, dilarikan ke rumah sakit pada Senin, 26 Januari 2026 malam. Mereka diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG).
Siswa-siswa tersebut berasal dari 3 sekolah, yaitu SMA Karitas Tomohon, SMK Santa Familia Tomohon, dan SMAN 1 Woloan. Mereka mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi MBG, yaitu pusing, mual, diare, hingga muntah.
"Sementara ada 4 rumah sakit yang merawat para siswa," ujar Kapolres Tomohon, AKBP Nur Kholis, Selasa (27/1/2026).
1. Menu nasi kuning

Rinciannya terdapat 40 siswa dirawat di RS Gunung Maria, 30 di RS Anugerah, 2 di RS Sonder Kabupaten Minahasa. "Sisanya di RS Bethesda Tomohon," tambah Kholis.
Namun pihak kepolisian masih terus mendata jumlah pasti karena hingga tengah malam siswa terus berdatangan. Bagi siswa yang sudah membaik, langsung diperbolehkan pulang.
Mereka sendiri mulai merasakan gejala sekitar pukul 15.00 WITA ketika sudah pulang sekolah. Siang sebelumnya, mereka mengonsumsi MBG dengan menu nasi kuning, abon cakalang, bihun, timun, dan melon.
2. SPPG melayani 12 sekolah

Koordinator MBG Wilayah Tomohon, Stefania Runtuwene, menyebut bahwa MBG di 3 sekolah tersebut didistribusikan oleh SPPG Kolongan Satu. SPPG tersebut melayani 12 sekolah.
"Tapi tidak semua yang terdampak. Berdasarkan informasi sementara, hanya 3 sekolah," tuturnya.
Hingga saat ini Stefania masih terus memantau kondisi para siswa. Di sisi lain, polisi telah mengambil sampel makanan dan muntahan sejumlah pasien untuk diperiksa.
3. SPPG ditutup sementara

Wakil Wali Kota Tomohon, Sendy Rumajar, mendatangi rumah sakit tempat para siswa dirawat. Ia meminta seluruh pihak tetap tenang dan menunggu hasil pemeriksaan.
Untuk itu, SPPG Kolongan Satu ditutup sementara. Ia pun mengimbau SPPG lain agar lebih teliti dalam memproduksi dan mendistribusikan MBG.
"SPPG harus menaati SOP. Kalau ada yang tidak sesuai SOP, maka SPPG kami rekomendasikan untuk ditutup," tutur Sendy.


















