Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ini Penyebab Pengangguran Terdidik di Makassar Sulit Terserap Industri

Kota Makassar
3 min read
Ini Penyebab Pengangguran Terdidik di Makassar Sulit Terserap Industri
Ilustrasi pencari kerja melamar pekerjaan di job fair. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
  • Disnaker Makassar menyebut pengangguran terdidik dipicu ketidaksesuaian kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri, sehingga banyak lowongan tidak terisi maksimal.
  • Dalam job fair yang melibatkan 50 perusahaan dengan lebih dari 1.500 formasi dan 334 jabatan, hanya 607 pendaftar lolos seleksi karena kualifikasi menjadi faktor penentu.
  • Disnaker mendorong penyelarasan kurikulum, peningkatan pelatihan dan kewirausahaan, optimalisasi Makassar Creative Hub, serta pemutakhiran data pengangguran hingga tingkat kelurahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Makassar mengungkap salah satu penyebab tingginya pengangguran terdidik adalah ketidaksesuaian kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan dunia industri. Persoalan ini membuat banyak lowongan pekerjaan tidak terisi secara maksimal meskipun jumlah pendaftar cukup banyak.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kota Makassar, Jusman, mengatakan persoalan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lowongan. Pemerintah juga perlu mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan keterampilan yang dimiliki para pencari kerja melalui konsep business matching.

"Kalau saya melihatnya bahwa ini memang perlu business matching," kata Jusman, Sabtu (7/11/2026) 

  1. 1. Ribuan pencari kerja bersaing memperebutkan lowongan

    Ilustrasi pencari kerja (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi pencari kerja (IDN Times/Arief Rahmat)

    Jusman mencontohkan pelaksanaan job fair terakhir yang melibatkan 50 perusahaan. Terdapat lebih dari 1.500 formasi kebutuhan tenaga kerja atau manpower dengan 334 jenis jabatan yang ditawarkan. Namun, dari ribuan pendaftar, hanya 607 orang yang berhasil lolos seleksi.

    Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan lowongan pekerjaan belum tentu berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja. Kualifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan menjadi salah satu faktor penentu.

    Dia menjelaskan lulusan sarjana maupun SMK tidak selalu gagal terserap karena kekurangan keterampilan. Banyak lulusan perguruan tinggi yang sebenarnya memiliki kemampuan baik, tetapi kompetensinya belum sesuai dengan kebutuhan sektor industri yang dilamar.

    "Apakah ini skill juga? Tidak juga, karena kan S1 ini kan lebih banyak yang punya skill bagus, tapi tidak terserap. Kalau saya melihatnya bahwa ini memang perlu bisnis matching," jelasnya.

  2. 2. Kompetensi lulusan SMK belum sesuai kebutuhan industri

    ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (IDN Times/Nathan Manaloe).
    ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (IDN Times/Nathan Manaloe).

    Jusman mencontohkan lulusan SMK yang memiliki kompetensi pada bidang tertentu, tetapi melamar pekerjaan di sektor industri dengan kebutuhan keterampilan berbeda. Ketidaksesuaian tersebut membuat perusahaan kesulitan mendapatkan tenaga kerja sesuai kualifikasi yang dibutuhkan.

    "Keterampilan yang dimiliki oleh lulusan-lulusan SMK kita itu tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dunia industri. Kebutuhan industri C dengan lulusan-lulusan SMK itu didesain A. Ketika dia mau masuk di sektor C di perusahaan, industri itu tidak matching," tuturnya.

    Selain ketidaksesuaian kurikulum, kualitas tenaga pengajar di sekolah kejuruan juga menjadi perhatian. Menurut Jusman, masih banyak guru SMK yang belum tersertifikasi sehingga metode pembelajaran belum sepenuhnya menyesuaikan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

    "Selain itu karakteristik pendidikan kita, guru-guru di SMK itu masih banyak tidak tersertifikasi, jadi cara pengajarannya itu belum bisa disesuaikan dengan apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan industri," ungkapnya.

  3. 3. Disnaker dorong kolaborasi pendidikan dan pengembangan keterampilan

    Ilustrasi pelatihan kerja (ANTARA FOTO/Rahmad)
    Ilustrasi pelatihan kerja (ANTARA FOTO/Rahmad)

    Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disnaker Makassar mendorong kolaborasi lintas sektor. Salah satunya dengan meminta Dinas Pendidikan, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan menyelaraskan kurikulum agar lebih adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja.

    Pemkot juga mendorong pengembangan wirausaha baru berbasis potensi wilayah. Salah satu contohnya pengembangan usaha olahan hasil laut di kawasan pesisir utara Makassar, khususnya Kecamatan Tallo.

    Selain itu, fasilitas Makassar Creative Hub (MCH) dioptimalkan untuk meningkatkan keterampilan generasi muda. Pelatihan yang diberikan mencakup pengembangan merek produk atau branding hingga keterampilan digital.

    Disnaker juga menilai pemutakhiran data pengangguran perlu diperkuat hingga tingkat kelurahan. Klasifikasi data ketenagakerjaan perlu disesuaikan dengan perkembangan pekerjaan sektor informal, seperti kreator konten dan pengemudi ojek online, agar kondisi pasar kerja di Makassar dapat tergambar lebih akurat.

Related Articles

See More