Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi job fair dipadati peminat lowongan kerja. (IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Tingkat Pengangguran Terbuka Makassar mencapai 9,60 persen atau 66.055 orang usia kerja, turun 0,11 poin dari tahun sebelumnya tetapi masih melampaui rata-rata provinsi dan nasional.
  • Pengangguran didominasi lulusan SMA, SMK, hingga perguruan tinggi dengan persentase 8,90 persen; perusahaan lebih banyak menyerap lulusan SMK, sementara sarjana terserap sekitar 34 persen.
  • Disnaker Makassar menjalankan pelatihan vokasi, portal lowongan, job fair, dan kerja sama sekolah-kampus; hingga September 2026, program tersebut memfasilitasi penempatan 5.361 tenaga kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Gelar pendidikan ternyata belum menjadi jaminan seseorang mudah mendapatkan pekerjaan. Fenomena ini tergambar dari kondisi ketenagakerjaan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Di tengah kebutuhan dunia usaha terhadap tenaga kerja, pengangguran justru masih banyak berasal dari kalangan terdidik.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Makassar tercatat mencapai 9,60 persen. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi maupun nasional, meskipun menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Makassar, Jusman, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) berbasis tahun 2025 yang dipublikasikan pada 2026, jumlah penduduk usia kerja yang menganggur di Makassar mencapai 66.055 orang.

"Pengangguran di Kota Makassar ini sebenarnya cukup tinggi dibanding dengan provinsi, rata-rata provinsi dan rata-rata nasional," kata Jusman, Sabtu (7/11/2026).

1. Angka pengangguran masih di atas rata-rata provinsi dan nasional

Ilustrasi Pengangguran (IDN Times/Arief Rahmat)

TPT Makassar mencapai 9,60 persen. Meski masih tergolong tinggi, angka tersebut sebenarnya menunjukkan tren perbaikan. Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran di Makassar turun sekitar 0,11 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Jusman mengatakan penurunan tersebut menjadi perkembangan positif. Namun, pemerintah kota belum bisa berpuas diri karena angka pengangguran Makassar masih melampaui rata-rata provinsi dan nasional.

"Walaupun sebenarnya turun, kita lihat data-datanya ini setiap tahun terjadi penurunan yang signifikan angka pengangguran di Kota Makassar. Tapi persentasenya masih tetap tinggi dibanding rata-rata provinsi dan nasional," katanya.

2. Lulusan terdidik justru mendominasi pengangguran

Ilustrasi pendidikan. Senin (27/1/2025). Desain (IDN Times/Aditya Pratama)

Persoalan pengangguran di Makassar tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja. Kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan dunia usaha juga menjadi tantangan tersendiri.

Jusman mengungkapkan pengangguran di Makassar didominasi kalangan terdidik. Berdasarkan data BPS, persentase pengangguran terdidik mencapai 8,90 persen, mencakup lulusan SMA, SMK, hingga perguruan tinggi.

"Kalau di Makassar ini umumnya pengangguran terdidik, ini pun juga hasil data dari BPS," ungkapnya.

Di sisi lain, data penempatan tenaga kerja Disnaker Makassar memperlihatkan bahwa kebutuhan perusahaan masih banyak mengarah pada lulusan SMK dan sederajat. Kelompok ini menyumbang lebih dari 50 persen penempatan tenaga kerja, sedangkan lulusan sarjana baru terserap sekitar 34 persen.

Sektor keuangan dan makanan cepat saji (fast food) menjadi bidang yang banyak menyerap tenaga kerja. Selain itu, sektor pemasaran dan penjualan (sales marketing) juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja di Makassar.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota Makassar. Salah satu upaya yang perlu dilaksanakan adalah menarik investasi dari sektor industri yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lulusan perguruan tinggi.

"Memang berarti beratnya kita adalah bagaimana sarjana ini banyak yang terserap di dunia kerja," katanya.

3. Disnaker perkuat pelatihan hingga fasilitasi pencari kerja

Ilustrasi pelatihan kerja (ANTARA FOTO/Rahmad)

Menghadapi persoalan tersebut, Disnaker Makassar berupaya memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan keterampilan pencari kerja. Intervensi tersebut mencakup pelatihan vokasi, peningkatan produktivitas, dan optimalisasi penempatan tenaga kerja.

Pelatihan diberikan kepada tenaga kerja pemula dengan berbagai keterampilan, seperti tata boga, menjahit, hingga kerajinan tangan. Program ini diharapkan dapat membuka peluang usaha baru sehingga peserta tidak hanya bergantung pada lowongan pekerjaan yang tersedia.

Disnaker juga memfasilitasi pencari kerja melalui portal resmi lowongan pekerjaan, penyelenggaraan job fair, serta kerja sama dengan perguruan tinggi dan SMK untuk memperluas akses informasi pekerjaan. Jusman menyebut hingga September 2026, Disnaker Makassar telah memfasilitasi penempatan sebanyak 5.361 tenaga kerja melalui berbagai program, termasuk job fair dan rekrutmen pemerintahan.

"Ini akan terus kita dorong agar serapan tenaga kerja semakin optimal," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article