Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Okupansi Hotel di Sulsel Masih Lesu selama New Normal
Hotel Claro menyalakan lampu-lampu kamarnya membentuk lambang hati di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (19/4/2020). (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

Makassar, IDN Times - Pemerintah daerah di Sulawesi Selatan melonggarkan sejumlah pembatasan seiring new normal atau kenormalan baru di tengah pandemik COVID-19. Meski demikian, perekonomian di sektor perhotelan belum benar-benar pulih.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Anggiat Sinaga mengatakan, tingkat okupansi atau hunian hotel di Sulsel masih lesu. Kondisinya belum jauh berbeda dengan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Hunian triwulan II masih sama dengan hunian triwulan I yakni hanya rata-rata hunian di bawah 10 persen. Terbukti masih banyak hotel belum buka karena melihat (hunian) yang masih drop," kata Anggiat yang diwawancarai via Whatsapp, Selasa (4/8/2020).

1. Pemerintah belum memberikan izin penyelenggaraan acara di hotel

Pj Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin menerima Ketua PHRI Sulsel Anggiat Sinaga di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu (22/7/2020). Humas Pemkot Makassar

Anggiat menjelaskan, lesunya okupansi hotel di masa new normal ini disebabkan pemerintah belum memberikan izin bagi hotel untuk menyelenggarakan acara. Terutama hajatan yang mengumpulkan banyak orang, seperti pertemuan atau acara pernikahan. 

Imbasanya, belum ada pergerakan signifikan terhadap sektor perhotelan karena hotel hanya dimanfaatkan sebagai penginapan. Sementara pendapatan hotel terbesar berasal dari penyelenggaraan acara atau pertemuan.

"Itu sangat berpengaruh. Apalagi Makassar hidupnya hanya dari meeting pemerintah dan korporasi, dan semua event belum bisa digelar," katanya.

2. Hotel-hotel sulit beradaptasi dengan situasi

Ilustrasi hotel. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Untuk tetap bertahan dalam kondisi pandemik COVID-19, hotel dituntut untuk mampu melakukan inovasi. Apalagi dalam situasi new normal, tidak saja perhotelan, semua sektor dituntut harus melakukan inovasi utamanya dalam menerapkan protokol kesehatan.

Menurut Anggiat, sejumlah inovasi sudah dilakukan dengan mengedepankan protokol kesehatan. Namun hal itu terbentur pada ketidaksiapan secara teknis.

"Tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Misalkan saja seperti Claro launching virtual wedding atau drive thru wedding. Semua tidak jalan karena belum terbiasa dengan konsep ini," kata Anggiat.

3. Masih banyak karyawan hotel yang dirumahkan

Ilustrasi hotel di situasi pandemi COVID-19. (IDN Times/Wildan Ibnu)

Kondisi pandemik COVID-19 diketahui memang sangat memukul sektor perhotelan. Di awal-awal masa pandemik ini di Sulsel, PHRI Sulsel mencatat okupansi hotel hanya 20 - 30 persen saja. Bulan lalu, Anggiat menyebut tingkat okupansi hotel anjlok hingga 2 - 8 persen saja. 

Konsekuensinya, ribuan karyawan hotel harus dirumahkan dan puluhan hotel terpaksa tutup. Dia menyebut ada sekitar 3.500 karyawan hotel yang dirumahkan dan 26 hotel yang masih belum buka.

"Tapi hotel yang masih operasional pun masih banyak karyawan dirumahkan karena hotel masih sepi," katanya.

Editorial Team

Related Article