Mengenang Radi A. Gany, Rektor Unhas yang Berjasa Besar untuk Wajo

Makassar, IDN Times - Sivitas akademika Universitas Hasanuddin tengah dirundung duka. Mantan rektor mereka di periode 1997-2006, Prof. Dr. Ir. Radi Andi Gany, berpulang ke pangkuan Ilahi pada Kamis (13/2) pukul 2.13 WITA di usia 77 tahun.
Sesuai informasi dari Direktur Komunikasi Universitas Hasanuddin yakni Suharman Hamzah, jenazah beliau disemayamkan di Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin. "Setelah itu, akan diantar ke Pemakaman UNHAS di Pattene," tulis Suharman dalam pesan singkatnya pada Kamis (13/2) pagi.
Prof. Radi dikenang sebagai sosok akademisi yang berhasil menerapkan ilmunya di masyarakat, dengan cara duduk di jajaran pemerintahan. Atas prestasinya, ia pun mendapat sejumlah penghargaan dari pemerintah Indonesia pada dekade 1990-an.
Berikut ini IDN Times menjabarkan profil singkat Prof. Radi, seperti yang tertulis dalam buku memoar beliau yakni Realitas Tanpa Batas (PK Identitas Unhas, 2009).
1. Usai menggenggam gelar insinyur di IPB, Radi Andi Gany kembali ke Unhas sebagai tenaga pengajar

Radi Andi Gany lahir pada 30 Oktober 1942 di Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Masa-masa awal menempuh ilmu dihabiskannya di kampung halaman. Mulai dari Sekolah Rakyat No. 1 Watansoppeng (lulus 1955) kemudian SMP Muhammadiyah Watansoppeng (lulus 1958).
Tamat SMP, Prof. Radi hijrah ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan dengan masuk ke SMA Negeri 1 Makassar dan lulus pada tahun 1962. Selepas masa putih abu-abu, beliau menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.
Fakultas Pertanian Unhas waktu itu baru sebatas menghasilkan sarjana muda lengkap (bachelor degree on Agricultural Field) yang diraihnya pada 1967. Maka, Prof. Radi pun melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk gelar insinyur hingga 1969.
Lulus dari IPB, Prof. Radi kembali mengabdi ke Fakultas Pertanian Unhas sebagai dosen. Beberapa jabatan penting di tingkat dekanat dan rektorat sempat diembannya selama menjadi dosen.
Antara lain Sekretaris Departemen Sosial Ekonomi (1974-75), Sekretaris Lembaga Kependudukan Unhas (1975), Sekretaris Fakultas Pertanian (1975), Kepala Pusat Pelayanan Pada Masyarakat (LPPM) Unhas (1984-85) sebelum berganti menjadi Kepala Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (1987).
2. Prof. Radi (kedua dari kanan) sempat menjadi Bupati Wajo selama satu periode (1988-1993), lalu menjabat Pembantu Rektor I untuk Prof. Dr. Basri Hasanuddin (paling kanan)

Usai meraih gelar magister (1976) dan doktoral (1984) di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, tantangan lebih besar menunggu Prof. Radi. Ia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Wajo periode 1988-1993.
Latar belakangnya sebagai akademisi memberi banyak perubahan utamanya dalam sektor pertanian. Danau Tempe, yang selalu menjadi sumber banjir, dibuatkan kanal sebagai jalur transportasi masyarakat. Selain itu, Danau Tempe yang pada dekade 1950-an dikenal sebagai penghasil ikan air tawar, disulap menjadi penghasil kedelai.
Di sela kesibukan jadi pemimpin Wajo, Prof. Radi masih menyempatkan diri untuk mengajar berkat izin dari Gubernur Sulsel waktu itu yakni mendiang Ahmad Amiruddin, yang juga mantan rektor Unhas periode 1973-1982.
Usai memimpin Wajo selama satu periode, Prof. Radi tak perlu waktu lama untuk menduduki jabatan struktural di lingkup kampus. Dirinya dipercaya sebagai Pembantu Rektor I pada jabatan periode kedua rektor Prof. Dr. Basri Hasanuddin (1993-1997),
3. Jabatan sebagai rektor baru diemban oleh Prof. Radi (kedua dari kiri) pada tahun 1997 hingga 2006

Tahun 1997 jadi masa terpenting bagi Prof. Radi, sebab ia akhirnya terpilih menjadi rektor Universitas Hasanuddin. Jabatan tersebut ia emban selama dua periode, yakni di masa 1997-2001 dan 2002-2006.
Lepas menjadi orang nomor satu di Kampus Merah, beliau kemudian diangkat menjadi anggota Komisaris PTPN XIV tahun 2004-2008. Berkat rekomendasi dari Jusuf Kalla, ia turut ambil bagian dalam Dewan Pertimbangan RI Bidang Pertanian dari tahun 2007 hingga 2010.
Sejatinya, riwayat politik suami dari Andi Dahlia ini tak hanya sebatas Bupati. Ayah dari empat anak ini sempat menjadi anggota MPR Fraksi Golkar (1990-92) dan penasihat Gubernur Sulsel Amin Syam (2002-2007) di bidang politik.
Prestasi sebagai Bupati Wajo membuatnya banjir apresiasi dari pemerintah. Ada penghargaan dari Menteri Kesehatan dr. Adhyatma MPH pada 1992, Satya Lencana bidang pembangunan tahun 1992, Anugerah Aksara dari Mendikbud Fuad Hassan di tahun 1992, serta penghargaan dari Departemen Pertanian pada 1993.
4. Berkarier di pemerintahan dan bidang akademik membuatnya memetik banyak pengalaman berharga
Lama terjun di pemerintahan dan akademik, beliau menganggap kedua dunia tersebut pada dasarnya sama saja. "Keduanya berintikan interaksi insaniah. Keduanya memerlukan integritas, etika dan moralitas. Keduanya, mementingkan interkoneksitas atau kepiawaian hidup dalam perbedaan dan saling ketergantungan," tulisnya (hal. 230-231).
Pengalaman sebagai rektor dan bupati membuatnya berkesimpulan bahwa dua dunia yang dijejaki tak lepas dari peradaban, budaya dan perilaku. Lebih jauh, Prof. Radi dalam buku Realitas Tanpa Batas (2009) turut memberi pesan kepada para pemimpin daerah ketika mengemban amanah.
"Dari pengalaman selama lima tahun di Kabupaten Wajo, aku menyadari bahwa mengubah perilaku, pola pikir dan kebiasaan masyarakat di tingkat bawah itu tak mudah dan memerlukan waktu serta kesabaran. Tidak semudah membalik telapak tangan, kata orang bijak," tutupnya.
Selamat jalan, Prof. Jasa-jasamu takkan dilupakan masyarakat Wajo dan sivitas akademika Universitas Hasanuddin.


















