Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Didek, Seni Bertutur Unik Milik Masyarakat Kabupaten Selayar
Didek, tradisi bertutur/lisan milik masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar. (dok. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar)
  • Didek adalah tradisi lisan khas Selayar yang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2019, menggambarkan ekspresi kegembiraan dan kebersamaan masyarakat setempat.
  • Pertunjukan didek dilakukan berkelompok dengan format berbalas syair antara putra-putri, diiringi musik gambus, serta memuat pesan moral, kritik sosial, dan hiburan bernuansa romantis atau jenaka.
  • Penggunaan majas litotes dalam didek mencerminkan kerendahan hati warga Selayar; kini pemerintah menetapkan Dusun Tenro sebagai Kampung Didek untuk melestarikan tradisi ini bagi generasi muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Kabupaten Kepulauan Selayar tak hanya dikaruniai pesona pantai yang memikat mata. Daerah berjuluk Bumi Tanadoang ini juga menyimpan kekayaan warisan leluhur yang sarat akan nilai historis dan sosiokultural.

Salah satu khazanah budaya yang paling membanggakan adalah Didek, sebuah tradisi lisan asli masyarakat Selayar. Kesenian bertutur ini telah resmi ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dengan nomor SK 362/M/2019.

1. Secara etimologis, "didek" memiliki arti "kegembiraan karena berhasil mendapat sesuatu"

Didek, tradisi bertutur/lisan milik masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar. (dok. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar)

Menurut Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, secara etimologis, kata "didek" berasal dari kosakata bahasa Makassar dialek Selayar. Dalam bahasa Indonesia, "didek" memiliki arti "kegembiraan, ungkapan rasa gembira, senang, serta rasa bahagia karena berhasil memperoleh sesuatu." Sesuai namanya, tradisi ini lahir sebagai wadah ekspresi kebahagiaan kolektif warga setempat.

Didek adalah sebuah pertunjukan seni bertutur yang memiliki kemiripan dengan tradisi berbalas pantun, tetapi tidak mengikuti kaidah pantun pada umumnya. Kesenian ini disajikan dalam bentuk kelong (sanjak/syair nyanyian) berbalasan. Keunikannya ditandai dengan kemunculan kosakata "kelong" pada setiap awal tuturan yang dilantunkan oleh padide' (pemain didek).

2. Didek dimainkan secara berkelompok dengan iringan musik gambus

Didek, tradisi bertutur/lisan milik masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar. (dok. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar)

Dahulu, didek dibawakan sepenuhnya dalam bahasa Makassar dialek Konjo yang digunakan masyarakat Selayar. Pertunjukan ini dimainkan secara berkelompok (minimal empat orang) yang terbagi atas kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Kelompok pertama adalah atraksi berbalasan, menggunakan format putra-putri yang saling berbalas syair. Kelompok kedua adalah alat musik, penampilan berbalas syair ini diiringi secara ritmis oleh petikan alat musik gambus yang dimainkan pihak putra.

Isi dari syair didek sangat dinamis dan kaya makna. Kadang kala bermuatan romantis yang saling menggoda, bernada jenaka, hingga memicu gelak tawa penontonnya. Lebih dari sekadar hiburan saat pesta panen, syukuran, atau pernikahan, didek juga digunakan sebagai media penyampai pesan moral, kearifan lokal, hingga penyalur kritik sosial bagi masyarakat maupun pihak kerajaan di masa lalu.

3. Majas litotes pada didek jadi cerminan sifat rendah hati milik warga Kepulauan Selayar

Peresmian Dusun Tenro di Desa Bontolempangan, Kecamatan Buki, Kabupaten Kabupaten Selayar, sebagai Kampung Didek oleh Bupati Kepulauan Selayar pada 19 Mei 2025. (dok. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar)

Dari kacamata kebahasaan, naskah tuturan didek banyak menggunakan majas seperti personifikasi, metafora, hingga hiperbola. Namun, jenis majas yang paling mendominasi teks didek adalah litotes. Dominasi majas litotes (pernyataan yang merendahkan diri) ini menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Selayar memiliki karakter luhur yang sangat menghargai sesama dengan cara tetap rendah hati.

Kini, demi menjaga keberlanjutan tradisi WBTb ini agar tidak punah ditelan zaman, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar bahkan telah meresmikan Dusun Tenro di Desa Bontolempangan sebagai "Kampung Didek" pada 19 Mei 2025. Menurut Pemkab Selayar, langkah ini diharapkan mampu memantik semangat generasi muda untuk terus merawat nyanyian warisan leluhur mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article