Inggris Dukung Ekonomi Hijau di Sulsel, Sampah Diolah Jadi Cuan

- Unhas dan Inggris mengembangkan proyek pengolahan sampah organik di Sulawesi Selatan menjadi maggot, kompos, dan cacing untuk mendukung ekonomi sirkular serta pembangunan rendah karbon.
- Kerja sama Inggris-Indonesia mencakup perlindungan hutan, pelatihan digital bagi kelompok rentan, serta pemberdayaan masyarakat Maros melalui mata pencaharian berkelanjutan dan ekowisata.
- Proyek pengolahan sampah Unhas telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan beroperasi pada Februari 2027, dengan harapan memberi manfaat lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat.
Makassar, IDN Times - Sampah organik tidak selalu berakhir sebagai limbah yang mencemari lingkungan. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat diolah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Gagasan inilah yang dikembangkan Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui proyek pengelolaan sampah terpadu menggunakan teknologi maggot dan ayam Alope di Sulawesi Selatan. Proyek tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi Indonesia dan Inggris dalam mendorong pembangunan rendah karbon.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, mengunjungi Unhas pada Senin (19/10/2026) untuk melihat hasil kolaborasi tersebut. Kunjungan ini juga dirangkaikan dengan kuliah umum bertajuk Green Economy and Low-Carbon Growth: The UK and Indonesia's Shared Agenda for the Future.
Melalui proyek yang didukung program Low Carbon Development Initiative Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF), sampah organik diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari maggot, kompos, hingga cacing. Maggot juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ayam Alope sehingga membentuk rantai produksi yang mendukung ekonomi sirkular.
1. Kolaborasi untuk mengurangi emisi karbon

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menyampaikan kuliah umum bertajuk Green Economy and Low-Carbon Growth: The UK and Indonesia's Shared Agenda for the Future di Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (19/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Bagi Inggris, pengembangan solusi pengolahan sampah merupakan bagian dari agenda kerja sama yang lebih luas dengan Indonesia. Kedua negara mendorong pembangunan rendah karbon melalui perlindungan hutan, dukungan kepada para pembela hutan, pengembangan ekonomi sirkular, dan kebijakan pengurangan emisi.
Dominic Jermey mengatakan kolaborasi rendah karbon menjadi salah satu bidang utama dalam Kemitraan Strategis Inggris-Indonesia. Kolaborasi ini merupakan bidang utama.
"Itu tentang mendukung perlindungan hutan, mendukung para pembela hutan, mendukung inisiatif rendah karbon seperti inisiatif yang baru saja kita dengar dari Pak Rektor di sini, yang semuanya tentang ekonomi sirkular," katanya.
Menurut Jermey, kedua negara juga perlu memperkuat kebijakan bersama untuk mengurangi emisi karbon. Inggris menargetkan pencapaian emisi nol bersih pada 2050, sedangkan Indonesia menargetkan 2060 atau lebih cepat.
Upaya tersebut menjadi semakin penting di tengah dampak perubahan iklim yang dirasakan berbagai negara. Karena itu, kerja sama lintas negara diperlukan untuk mempercepat penerapan solusi yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Bersama kita bisa," kata Jermey.
2. Dari perlindungan hutan hingga peluang ekonomi masyarakat

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, meninjau proyek pengelolaan sampah terpadu menggunakan teknologi maggot dan ayam Alope di Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (19/10/2026). (Dok. Tim Media dan Komunikasi British Embassy) Kerja sama Inggris dan Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan tidak hanya berlangsung di lingkungan perguruan tinggi. Di Sulawesi Selatan, dukungan juga diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan keterampilan digital, dan pelestarian lingkungan.
Melalui program Skills for Inclusive Digital Participation (SIDP), perempuan, anak muda, dan penyandang disabilitas mendapat pelatihan untuk meningkatkan keterampilan digital. Program ini bertujuan membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja dan kewirausahaan.
Sementara itu, melalui program SETAPAK, Inggris mendukung masyarakat di Kabupaten Maros dalam melindungi hutan dan sumber daya alam sekaligus mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan. Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah ekowisata berbasis masyarakat dengan keterlibatan perempuan lokal.
Dominic Jermey mengatakan dirinya bertemu dengan perempuan dan anak muda yang mengikuti pelatihan digital melalui program SIDP. Dia juga bertemu dengan perempuan dan pegiat konservasi lokal di Maros yang mendapat dukungan melalui program SETAPAK.
"Mereka melindungi lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan bagi komunitas mereka," katanya.
Jermey mengatakan dirinya mengunjungi Taman Arkeologi Leang-Leang untuk melihat lukisan gua prasejarah dan stalagmit di Kabupaten Maros. Dia menyebut situs tersebut telah menginspirasi penelitian dan kolaborasi seni yang didukung British Council dengan melibatkan seniman Inggris.
"Saya harap kunjungan ini dapat memperdalam bersama dengan Sulawesi Selatan untuk mendorong pertumbuhan di jauh inklusi digital dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat," katanya.
3. Unhas targetkan proyek pengolahan sampah beroperasi Februari 2027

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, bersama jajaran Universitas Hasanuddin dan peserta kuliah umum di Makassar, Senin (19/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, mengatakan riset perguruan tinggi harus menghasilkan solusi yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, hasil penelitian perlu dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan perekonomian.
"Bagi Unhas, misinya adalah bagaimana mengembangkan riset untuk mendapatkan solusi-solusi. Jadi hasil riset itu harus menjadi solusi," kkayanya.
Menurut Prof JJ, sapaannya, pengembangan ekonomi rendah karbon perlu memberikan manfaat yang lebih luas. Upaya tersebut tidak hanya berorientasi pada perlindungan lingkungan, tetapi juga harus membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dia berharap proyek pengolahan sampah ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Meski pengerjaannya belum rampung, progres proyek telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan beroperasi pada Februari 2027.
"Saya berharap ini menjadi awal yang baik. Memang belum selesai, tapi ini sudah sekitar 60 persen yang kita harapkan di bulan Februari nanti yang akan beroperasi," katanya.




















