Harga Emas hingga Beras Dorong Inflasi Sulsel 3,12 Persen pada Mei 2026

- BPS Sulsel mencatat inflasi tahunan Mei 2026 sebesar 3,12 persen, naik dari 2,04 persen tahun sebelumnya dengan IHK meningkat dari 108,28 menjadi 111,66.
- Emas perhiasan dan tomat jadi penyumbang utama inflasi tahunan di Sulsel, masing-masing berkontribusi 0,79 persen dan 0,31 persen terhadap kenaikan harga.
- Kelompok perawatan pribadi alami inflasi tertinggi mencapai 10,62 persen, sementara tren dua tahun terakhir menunjukkan inflasi Sulsel terus meningkat hingga Mei 2026.
Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 3,12 persen pada Mei 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 2,04 persen.
Berdasarkan siaran pers BPS Sulsel yang dikutip Rabu (3/6/2026), inflasi terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,28 pada Mei 2025 menjadi 111,66 pada Mei 2026. Selain inflasi tahunan, Sulsel juga mengalami inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,09 persen dan inflasi tahun kalender (year to date) sebesar 2,18 persen.
1. Emas perhiasan dan tomat jadi pemicu utama inflasi

BPS mencatat emas perhiasan menjadi komoditas yang paling besar menyumbang inflasi tahunan di Sulawesi Selatan. Komoditas ini memberikan andil sebesar 0,79 persen terhadap inflasi y-on-y Mei 2026.
Selain emas perhiasan, kenaikan harga tomat turut memberi andil sebesar 0,31 persen. Disusul beras sebesar 0,17 persen, nasi dengan lauk sebesar 0,11 persen, sigaret kretek mesin sebesar 0,11 persen, daging ayam ras sebesar 0,10 persen, serta minyak goreng sebesar 0,09 persen.
Pada level bulanan, cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,06 persen. Kenaikan harga tomat dan nasi dengan lauk masing-masing juga menyumbang 0,05 persen terhadap inflasi Mei 2026.
2. Tekanan harga paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi

Dari sisi kelompok pengeluaran, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan harga paling tinggi secara tahunan. Inflasi kelompok ini mencapai 10,62 persen, jauh melampaui inflasi umum Sulawesi Selatan yang sebesar 3,12 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 5,40 persen. Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi sebesar 3,03 persen.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil mencapai 1,68 persen. Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,86 persen, sedangkan kelompok restoran menyumbang 0,24 persen terhadap inflasi Sulsel.
3. Inflasi Mei 2026 lebih tinggi dibanding dua tahun terakhir

Tren inflasi Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir. Pada Mei 2024, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,42 persen, kemudian turun menjadi 2,04 persen pada Mei 2025, sebelum kembali naik ke level 3,12 persen pada Mei 2026.
Kondisi serupa juga terlihat pada inflasi tahun kalender. Hingga Mei 2026, inflasi year to date mencapai 2,18 persen, lebih tinggi dibandingkan Mei 2025 yang sebesar 1,90 persen dan Mei 2024 yang sebesar 1,10 persen.
Di tengah kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi tahunan sebesar 0,62 persen. Kelompok ini menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang mencatat penurunan harga dibandingkan Mei tahun lalu.



















