Ilustrasi warga mengantre untuk membeli bahan pangan saat Gerakan Pangan Murah dan Pasar Murah. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Selain memantau distribusi, TPID Sulsel menyiapkan Gerakan Pangan Murah dengan mempertemukan produsen dan penjual secara langsung dengan konsumen. Langkah ini diharapkan dapat memangkas rantai distribusi sehingga cabai bisa dijual dengan harga lebih rendah.
“Nah ini mungkin kita akan lihat dulu berapa sebenarnya yang keluar ke daerah lain. Kemudian yang lain kita akan melakukan Gerakan Pangan Murah dengan mencoba memasarkan langsung dari produsen, dari penjual untuk bisa bersama-sama kita menyiapkan. Cabai dengan harga yang langsung dari pasar, dari produksi, dari produsen,” kata Muhammad Ilyas.
Pemerintah juga membahas kemungkinan memberikan dukungan terhadap biaya transportasi bagi pengecer. Intervensi tersebut masih akan dicarikan skema, termasuk kemungkinan memanfaatkan dukungan dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kita juga akan mengusulkan, barangkali mungkin bisa nanti intervensi, transportasi kepada para pengecer ini, mudah-mudahan bisa nanti mungkin kita coba cari jalan keluar dari CSR, nanti coba kita berikan intervensi itu,” ujarnya.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Firman Hidayat mengatakan pihaknya siap bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menjaga pasokan dan harga pangan. Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah serta kerja sama pasokan antardaerah.
“Stoknya masih ada. Tinggal kita ketemukan antara produsen dan pembeli di sini,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPS Sulsel Aryanto mengatakan cabai menjadi salah satu komoditas hortikultura yang mengalami perubahan harga pada pekan ketiga September. Menurutnya, harga cabai memang cenderung mudah berubah karena sangat dipengaruhi kondisi produksi dan pasokan.
“Cabai memang di mana-mana naik. Cabai itu sangat volatile, bisa naik tinggi dan bisa turun tinggi,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah komoditas pangan yang berada dalam pengendalian pemerintah, seperti beras dan minyak, relatif stabil.