Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPS: Inflasi Sulsel 3,56 Persen pada Juni 2026, Emas Penyumbang Utama
Perhiasan emas. (IDN Times/Muhammad Saifullah)
  • BPS Sulsel melaporkan inflasi tahunan Juni 2026 mencapai 3,56 persen dengan inflasi bulanan 0,36 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 2,54 persen.
  • Kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi, disusul komoditas perawatan pribadi seperti pasta gigi dan sabun mandi yang turut mendorong kenaikan indeks harga.
  • Luwu Timur mencatat inflasi tertinggi di Sulsel sebesar 4,32 persen, sedangkan Bulukumba terendah 2,57 persen; sektor pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi tahunan 0,42 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan merilis data perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode Juni 2026. Berdasarkan siaran pers resmi BPS Sulsel pada Rabu (1/7/2026), tingkat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) di wilayah tersebut tercatat mencapai 3,56 persen.

Selain inflasi tahunan, angka inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) pada Juni 2026 juga dilaporkan mengalami peningkatan sebesar 0,36 persen. Sementara itu, untuk tingkat inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) Provinsi Sulawesi Selatan hingga bulan Juni 2026 tercatat berada di angka 2,54 persen.

1. Emas perhiasan jadi penyumbang inflasi tertinggi

ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Kenaikan harga secara umum di Sulawesi Selatan utamanya didorong oleh lonjakan pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Dokumen statistik mencatat kelompok pengeluaran ini mengalami inflasi tahunan paling tinggi dibandingkan kelompok lain, yakni mencapai 10,48 persen secara year on year.

Komoditas yang mendominasi pemberian andil inflasi pada kelompok ini maupun inflasi secara keseluruhan adalah emas perhiasan. Emas perhiasan tercatat memberikan sumbangan inflasi tahunan sebesar 0,77 persen, diikuti oleh komoditas perawatan harian seperti pasta gigi, bedak, dan sabun mandi yang juga mengalami sedikit eskalasi harga.

2. Sektor makanan, minuman, dan tembakau turut mengerek harga

ilustrasi rupiah (unsplash.com/naufal jajuli)

Kelompok pengeluaran lain yang memberikan tekanan signifikan terhadap angka inflasi di Sulawesi Selatan adalah makanan, minuman, dan tembakau. Sektor kebutuhan pokok ini menempati urutan berikutnya dengan tingkat inflasi tahunan mencapai 5,69 persen pada periode Juni 2026.

Sejumlah komoditas pangan harian menjadi pemicu utama fluktuasi harga pada kelompok pengeluaran tersebut. Pihak otoritas merinci komoditas penyumbang inflasi dominan di sektor ini meliputi ikan layang atau ikan benggol, tomat, cabai rawit, daging ayam ras, hingga produk sigaret kretek mesin (rokok) yang masing-masing memberikan sumbangan di atas 0,10 persen terhadap inflasi umum.

3. Luwu Timur catat inflasi tertinggi

Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana

Pemantauan inflasi oleh BPS Provinsi Sulawesi Selatan dilakukan secara berkala pada delapan kabupaten dan kota yang menjadi wilayah cakupan IHK. Seluruh daerah pantauan tersebut terkonfirmasi mengalami inflasi secara tahunan pada bulan Juni 2026, dengan Kabupaten Luwu Timur menduduki posisi puncak pada level 4,32 persen, sedangkan Kabupaten Bulukumba mencatat inflasi paling rendah sebesar 2,57 persen.

Berbanding terbalik dengan melambungnya indeks di sebagian besar pengeluaran, sektor pakaian dan alas kaki justru menjadi satu-satunya kelompok yang mencatatkan deflasi atau tren penurunan harga. Kelompok ini tercatat mengalami deflasi sebesar 0,42 persen secara tahunan, yang utamanya disumbang oleh penurunan harga pada komoditas baju kaos tanpa kerah atau t-shirt pria, sepatu pria, celana panjang jeans pria, dan sandal kulit wanita.

Editorial Team

Related Article