Menurut catatan BPBD, Ni’mal menyebut kejadian tanah longsor Jumat lalu bukan yang pertama. Kejadian serupa terjadi tiga kali pada April 2020 lalu. Tanah longsor kemudian terjadi lagi pada 3 Mei, serta beberapa kali selama bulan Juni. Namun sebelumnya longsor terjadi pada skala kecil.
Ni’mal menyebut BPBD Kota Palopo beresama Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung bergerak ke lokasi usai kejadian untuk memantau dan mengevakuasi barang-barang warga. Petugas mengajak warga mengungsi karena ada potensi longsor susulan.
Saat ini, dibutuhkan personel untuk membantu penanganan bencana, serta anggaran yang akan digunakan merehabilitasi infrastuktur yang telah rusak seperti rumah warga dan akses jalan yang ikut hanyut terbawa longsor.
"Dibutuhkan sandang dan pangan untuk korban bencana. Kendalanya, komunikasi telepon terhambat karena jaringan tidak ada. Dan penyediaan infrastruktur sanitasi atau MCK bagi pengungsi," ungkapnya.
Pemerintah Kota Palopo, kata Ni’mal, telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat terkhusus di sekitar lokasi kejadian yang rawan longsor agar tidak membangun permukiman di Daerah Milik Jalan atau Jamida. Pemkot dan instansi terkait serta segenap pihak lain segera membantu masyarakat yang terdampak bencana baik sandang, pangan dan papan serta meminta semua pihak berpartisipasi untuk menuntaskan secepat mungkin daerah yang mengalami kejadian bencana tersebut.