Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Antrean BBM Mengular, Operator SPBU di Makassar Sampai Sakit Tipes
Ilustrasi SPBU. (Dok. Istimewa)
  • Antrean BBM panjang di sejumlah SPBU Makassar selama beberapa hari membuat operator kewalahan melayani lonjakan kendaraan, termasuk pemilik SPBU Bawakaraeng yang ikut menjadi operator.
  • SPBU Bawakaraeng menambah nozzle dari 10 menjadi 16, mengalihfungsikan tangki Pertamax dan Pertamax Turbo untuk Pertalite, serta menambah karyawan demi mempercepat pelayanan.
  • Beban kerja tinggi membuat seorang operator sakit tipes dan beristirahat dua malam; SPBU juga mengatur pembelian sementara agar kuota BBM tidak cepat habis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Antrean panjang BBM di sejumlah SPBU di Makassar tidak hanya membuat pengendara harus menunggu berjam-jam. Para operator SPBU juga ikut terkuras tenaganya karena harus melayani lonjakan kendaraan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Wakil Ketua DPD Hiswana Migas Sulawesi Selatan, Sukardi Haseng, mengatakan antrean BBM kali ini menjadi salah satu kondisi terparah yang pernah dia lihat. Bahkan, dirinya selaku pemilik SPBU Bawakaraeng juga ikut turun langsung menjadi operator untuk membantu mempercepat pelayanan kepada konsumen.

"Kita juga kewalahan. Saya sendiri jadi operator di Bawakaraeng karena untuk menanggulangi karena ditambah nozzle-nya, ditambah tangki pendamnya," kata Sukardi usai rapat monitoring dan evaluasi (monev) pemantauan dan pengawasan penyaluran BBM bersubsidi di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Senin (14/9/2026).

1. Nozzle ditambah dari 10 menjadi 16

Ilustrasi SPBU. (Dok. Istimewa)

Untuk mengurai antrean, SPBU Bawakaraeng menambah jumlah nozzle dari sebelumnya 10 menjadi 16 nozzle. Penambahan tersebut bertujuan agar lebih banyak kendaraan dapat dilayani dalam waktu bersamaan.

Sukardi mengatakan pihaknya juga mengalihkan tangki pendam yang sebelumnya digunakan untuk Pertamax dan Pertamax Turbo. Tangki tersebut kemudian digunakan untuk menambah kapasitas pelayanan Pertalite.

"Tangki pendam apa ya, Pertamax dengan Turbo, saya ganti Pertalite. Jadi dari 10 nozzle jadi 16 nozzle," katanya. 

Selain menambah fasilitas pengisian, jumlah karyawan juga ditambah untuk mengimbangi meningkatnya beban pelayanan. Namun, lonjakan antrean yang berlangsung selama beberapa hari tetap membuat tenaga operator terkuras.

2. Ada karyawan yang sakit tipes

Ilustrasi SPBU. (Dok. Istimewa)

Sukardi mengungkapkan, salah seorang karyawannya bahkan jatuh sakit setelah bekerja dalam kondisi kelelahan. Karyawan tersebut mengalami sakit tipes dan harus beristirahat selama dua malam.

"Namanya manusia kan punya keterbatasan. Capek, ada yang jatuh sakit, ada karyawanku, tipes dua malam," katanya.

Menurut Sukardi, kondisi tersebut menunjukkan tingginya beban kerja operator selama antrean BBM berlangsung. Para petugas harus terus melayani kendaraan yang datang dalam jumlah besar, sementara kebutuhan masyarakat terhadap BBM tetap berjalan setiap hari.

3. Antrean disebut terparah

Pengendara mengantre untuk mendapatkan BBM di SPBU Jalan Pettarani, Makassar, Sabtu (12/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Sukardi mengatakan antrean BBM kali ini berbeda dibandingkan kondisi biasanya. Menurut dia, antrean umumnya meningkat ketika ada kabar kenaikan harga BBM, tetapi situasi kali ini berlangsung selama beberapa hari.

"Parah. Dulu ada antrean begitu kalau BBM mau naik. Iya toh? Kalau ada BBM naik kan kita di-rush SPBU. Kalau ini berhari-hari, nah kita juga kewalahan," katanya. 

Untuk mengurangi antrean, SPBU Bawakaraeng juga menerapkan pengaturan pembelian sementara. Sukardi mengatakan kebijakan tersebut bukan pembatasan permanen dan akan kembali ke ketentuan normal setelah kondisi antrean membaik.

Dia berharap distribusi BBM dan kondisi antrean segera kembali normal. Dengan begitu, beban pelayanan terhadap operator dan pengendara dapat berkurang.

"Supaya mengurangi kelangkaan-kelangkaan. Karena kita juga kan ada kuota, jangan sampai cepat habis nanti tidak ada penjualan. Saya kira gitu ya," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article