Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Andy Dahananto, Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Juga Direktur Operasi IAT

Kolase foto pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport dan pilot Kapten Andy Dahananto. (dok. indonesia-air.com/FB: Andy Dahananto)
Kolase foto pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport dan pilot Kapten Andy Dahananto. (dok. indonesia-air.com/FB: Andy Dahananto)

Makassar, IDN Times - Nama Kapten Andy Dahananto jadi salah satu sorotan publik setelah pesawat ATR 42-500 milik PT. Indonesia Air Transport (IAT) yang ia komandoi jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat dalam rute penerbangan Yogyakarta–Makassar itu membawa 10 orang, yaitu tujuh kru serta tiga pegawai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang sedang melakukan tugas air surveillance atau patroli udara.

Operasi pencarian dan pertolongan telah dikerahkan oleh tim SAR gabungan di medan yang dikenal ekstrem dan terjal, di mana serpihan badan pesawat dan satu jasad korban telah ditemukan di area lereng gunung pada hari Minggu (18/1/2026).

Siapa Kapten Andy Dahananto? Berikut ini profil singkatnya.

1. Berpengalaman sebagai pilot sejak 1988

ilustrasi kokpit pesawat (pixabay.com/StockSnap)
ilustrasi kokpit pesawat (pixabay.com/StockSnap)

Dari informasi yang dikutip dari laman Indonesia Air, Kapten Andy Dahananto memulai perjalanan kariernya di dunia penerbangan sejak lama. Ia merupakan alumnus Juanda Flying School, menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1987 dan langsung merintis karier sebagai pilot fixed wing pada 1988.

Dari sana, perjalanan profesionalnya berkembang dengan signifikan hingga menduduki posisi teknis dan strategis di Indonesia Air Transport (IAT), perusahaan penerbangan charter nasional yang berbasis di Jakarta dan melayani berbagai kebutuhan penerbangan khusus di seluruh Indonesia. Pengalaman bertahun-tahun di kokpit menjadi dasar bagi Andy untuk memahami seluk-beluk teknis dan operasional penerbangan.

2. Menjabat Direktur Operasi di IAT

Ilustrasi pesawat Indonesia Air Transport nomor penerbangan PK-THT. (Dok. Indonesia Air)
Ilustrasi pesawat Indonesia Air Transport nomor penerbangan PK-THT. (Dok. Indonesia Air)

Pengalaman panjang sebagai pilot mengantarkan Andy mengantarkan dirinya kepada jabatan yang lebih tinggi di manajemen perusahaan. Selain masih aktif menerbangkan pesawat, dia sekaligus menjadi salah satu figur kunci di perusahaan.

Resmi diangkat sebagai Direktur Operasi IAT berdasarkan keputusan rapat perusahaan pada 19 Juni 2019, Andy bertanggung jawab atas seluruh aspek operasional penerbangan. Yaitu ari tata kelola standar keselamatan, kesiapan armada, hingga koordinasi pelaksanaan misi penerbangan charter yang menjadi bisnis utama perusahaan.

Meski berada di jajaran direksi, Andy tetap dikenal sebagai pilot yang aktif di kokpit, terutama dalam penerbangan yang menggunakan pesawat ATR 42-500 yang menjadi tulang punggung armada fixed wing IAT. Dia kombinasikan peran eksekutif manajemen dan pilot praktis.

3. KNKT: Pesawat ATR 42-500 jatuh karena menabrak Gunung Bulusaraung

Temuan serpihan pesawat Indonesia Air Transport jenis ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu pagi (18/1/2026). (Dok. Basarnas Makassar)
Temuan serpihan pesawat Indonesia Air Transport jenis ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu pagi (18/1/2026). (Dok. Basarnas Makassar)

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono sebelumnya mengatakan pesawat nomor registrasi PK-THT dipastikan menabrak lereng gunung sehingga meledak dan hancur. Serpihan berupa badan, ekor dan jendela pesawat ditemukan di kawasan puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Minggu pagi (18/1/2026).

Soerjanto mengatakan insiden ini dikatergorikan sebagai controlled flight into terrain (CFIT). "Jadi memang pesawat menabrak bukit atau lereng gunung, sehingga terjadi beberapa pecahan atau serpihan pesawat akibat terjadinya benturan," kata Soerjanto Tjahjono saat konferensi pers di media center area kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Minggu.

Soerjanto menjelaskan, dalam kategori CFIT, kondisi pesawat sebenarnya masih bisa dikendalikan oleh pilot, tetapi karena sesuatu hal pesawat menabrak bukit atau lereng gunung. "Jadi memang kita mengkategorikan sebagai controlled flight into terrain. Pesawatnya masih bisa dikontrol oleh pilotnya tapi menabrak tapi bukan sengaja menabrak (lereng gunung)," tegasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More

IAT: Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Bulusaraung Sempat Gangguan Teknis

18 Jan 2026, 20:49 WIBNews