5 Memori Ramadan Jadul di Sulsel, Barattung sampai Daeng Naba!

- Ramadan tempo dulu di Sulsel dikenal penuh kebersamaan, dengan tradisi khas seperti barattung, musik sahur tradisional, dan lampu pelita yang menerangi malam.
- Anak-anak mengisi waktu ngabuburit dengan permainan tradisional seperti maggasing, dende-dende, baguli, hingga ma'benteng sebelum azan magrib berkumandang.
- RRI Makassar menjadi sumber hiburan utama lewat program legendaris “Dialog Pak Kyai dan Daeng Naba” yang menemani warga saat santap sahur.
Makassar, IDN Times - Bahasan tentang suasana ramadan di Sulawesi Selatan (Sulsel) zaman dulu belakangan sering mencuat. Umumnya, millennial dan Gen X kangen dengan masa-masa serba simpel dan tidak terlalu rumit seperti sekarang.
Sebelum gawai mendominasi, suasana "ramadan tempo dulu" di tanah Bugis-Makassar disebut memiliki suasana kebersamaan yang lebih tinggi. Nah, berikut ini IDN Times merangkum 5 hal paling memorable dari ramadan versi jadul di Sulsel.
1. Suara dentuman khas dari meriam bambu

Jika sekarang kita akrab dengan kembang api, anak muda zaman dulu di Sulsel mengisi bulan ramadan dengan menyalakan meriam bambu atau barattung. Terbuat dari batang bambu besar yang diisi minyak tanah atau karbit, bunyinya yang menggelegar biasanya sahut-menyahut jelang buka puasa. Bahkan tak jarang meriam bambu ini menjadi ajang antarkampung saling beradu siapa yang paling nyaring bunyinya.
2. Membangunkan sahur dengan alat musik tradisional

Dulu, kelompok pembangun sahur tidak membawa speaker untuk memutar musik. Mereka berkeliling kampung membawa peralatan musik tradisional seperti gendang, rebana, atau bahkan jeriken bekas dan alat dapur untuk dipukul hingga mengeluarkan bunyi. Sering kali, mereka juga melantunkan syair-syair pendek dalam bahasa daerah (Bugis/Makassar) yang isinya mengajak warga untuk segera bangun dan santap sahur.
3. Lampu pelita sebagai penerang di sepanjang jalan

Di beberapa daerah, terutama yang akses listriknya masih terbatas, malam-malam ramadan dihiasi dengan lampu pelita (biasa disebut pelleng) kecil yang dideretkan di sepanjang pagar rumah atau jalanan. Cahaya kuning yang temaram tidak hanya menjadi sumber penerangan, tapi juga memberi kesan magis dan sakral. Terlebih saat warga berjalan bersama-sama menuju masjid atau musala dengan membawa obor bambu.
4. Ngabuburit sambil bermain permainan tradisional

Sebelum istilah "mabar" (main bareng game online) ada, anak-anak menghabiskan waktu menunggu magrib dengan bermain permainan tradisional. Di lapangan atau halaman rumah, mereka bermain maggasing (gasing), dende-dende (engklek), baguli (kelereng) hingga ma'benteng (gobak sodor). Suasananya sangat riuh dan penuh aktivitas fisik, tapi dijamin akan bubar tepat beberapa menit sebelum azan magrib tanda buka puasa berkumandang.
5. Program radio legendaris dari RRI Makassar

Sebelum YouTube dan podcast ada, radio adalah sumber hiburan utama zaman dulu. Dan RRI Makassar memiliki program ramadan unggulan yakni Dialog Pak Kyai dan Daeng Naba. Mengudara tiap jam makan sahur, program ini berupa dialog interaktif antara sosok "Pak Kyai" (KH Bakri Wahid) yang memberikan penjelasan hukum agama (fikih) dan "Daeng Naba" (Syamsu Marlin) yang mewakili masyarakat umum dengan pertanyaan-pertanyaan tentang ibadah.
Nah, itu tadi 5 hal yang khas dari bulan ramadan di Sulsel zaman dulu. Yang mana nih yang paling membekas?


![[BREAKING] Anggota Polisi di Polda Sulsel Tewas Diduga Dianiaya Senior](https://image.idntimes.com/post/20260222/1000748920_d74da805-0a75-45bb-9ca1-36b62a14dcc0.jpg)















