Comscore Tracker

Menyingkap Asal-Usul Hari Jadi Sulawesi Selatan Pada 19 Oktober 1669

Tiga momentum berbeda, namun dengan spirit identik

Makassar, IDN Times - Tanggal 19 Oktober selama ini dikenal sebagai Hari Jadi Sulawesi Selatan (Sulsel). Tahun ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel merayakan usia ke-351 tahun. Berarti, provinsi berpenduduk 8,82 juta jiwa tersebut menarik benang merah eksistensi mereka dari tahun 1669.

Ya, 1669 adalah masa di mana Gowa-Tallo mengalami kekalahan dalam Perang Makassar. Di tahun yang sama, Kerajaan Bone melanjutkan usaha melawan dominasi Gowa-Tallo, di bawah pimpinan Arumpone (Raja Bone) La Tenritatta Arung Palakka. Kedatuan Luwu masih menjadi kerajaan terluas dan diperintah oleh Settiaraja.

Di waktu bersamaan, eksis pula sejumlah wilayah federasi atau kerajaan lain seperti Ajatappareng, Agangnionjo (Tanete), Sinjai, Soppeng, Wajo, Toraja serta Massenrempulu (Enrekang dan sekitarnya).

1. Menurut klaim yuridis formal, Hari Jadi Sulawesi Selatan adalah 13 Februari 1964

Menyingkap Asal-Usul Hari Jadi Sulawesi Selatan Pada 19 Oktober 1669Sebuah kentongan dipukul sebagai pemanggil para pemilih yang berhak dan telah ditentukan datang ke TPS guna memberi hak suaranya di Makassar, 19 Desember 1955. (Dok. Arsip Nasional Republik Indonesia)

Kendati demikian, catatan perihal kejadian penting di 19 Oktober 1669 sukar diperoleh. Lontaraq Bilang, sumber komprehensif masa keemasan Kerajaan Gowa-Tallo, hanya mencatat satu kejadian penting pada bulan Oktober.

Tepatnya pada 28 Oktober, di mana Tumamenang ri Lampana Sultan Harunarrasyid (suksesor Sultan Hasanuddin) berangkat ke Batavia bersama sejumlah bangsawan.

Lantas dari mana klaimnya? Ini bisa dilacak ke Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan No. 10 Tahun 1995, tentang Penetapan Hari Jadi Sulawesi Selatan.

Jika berdasarkan segi yuridis formal, maka seharusnya Hari Jadi Sulsel jatuh pada 13 Februari 1964. Tanggal tersebut yakni momentum diundangkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara.

Pemekaran daerah dicapai dengan mengubah Undang-Undang Nomor 47 Pcp Tahun 1960 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara. Berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan sempat bergabung.

2. Tanggal 19 berasal dari momen "lahirnya" Provinsi Sulawesi dalam Sidang Kedua PPKI, 19 Agustus 1945

Menyingkap Asal-Usul Hari Jadi Sulawesi Selatan Pada 19 Oktober 1669Para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sedang mengadakan voting dalam sebuah rapat. (Dok. Arsip Nasional Republik Indonesia)

Nah, ternyata pemilihan 19 Oktober 1669 memiliki alasan tersendiri. Alih-alih berdasarkan catatan bersejarah, Perda Sulsel No. 10 Tahun 1995 menyatukan tiga unsur yang mencerminkan pergerakan nasional.

"Akal sehat akan selalu membawa kita untuk tidak terpaku dan terperangkap dalam kekakuan formalitas sempit yang dapat mengaburkan maksud dan tujuan menetapkan Hari Jadi itu sendiri," demikian alasan tersebut, seperti dikutip dari bagian Pembukaan dalam Perda tersebut.

Perumusan Hari Jadi secara "simbolik" juga disebut sebagai pernyataan sikap dan rasa kesatuan teritorial masyarakat Sulawesi Selatan. Diharapkan, tanggal tersebut bermakna sebagai "wahana pemersatu sumber motivasi untuk memacu pembangunan dalam segala bidang di Sulawesi Selatan."

Tanggal 19 mengacu pada Sidang Kedua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 19 Agustus 1945. Dalam sidang tersebut, Republik Indonesia (yang baru berusia dua hari) membagi wilayah Indonesia ke dalam delapan provinsi. Salah satunya Provinsi Sulawesi, dengan Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob "Sam" Ratulangi sebagai Gubernur.

Baca Juga: Mengenang Perjanjian Bongaya yang Diteken VOC dan Gowa 352 Tahun Silam

3. Tahun 1669 berasal dari tahun berakhirnya Perang Makassar yang dimulai sejak 1666

Menyingkap Asal-Usul Hari Jadi Sulawesi Selatan Pada 19 Oktober 1669Lukisan karya Romeyn de Hooghe tentang suasana sebuah pertempuran Perang Makassar (1666-1699) antara pasukan koalisi VOC-Bone-Buton pimpinan Laksamana Cornelis Speelman dan pasukan Kesultanan Gowa Tallo. (Wikimedia Commons/Koninklijke Bibliotheek)

Dalam rapat tersebut, hadir tiga tokoh utusan Sulawesi. Selain Dr. Sam Ratulangi, turut pula Andi Pangerang Petta Rani dan Andi Sultan Daeng Radja. Mereka pun turut serta dalam perumusan teks Proklamasi Kemerdekaan, serta pembacaannya di Jalan Pegangsaan Timur.

Bulan Oktober pun punya makna sakral bagi integrasi Sulsel. Pada 15 Oktober 1945, sebanyak 40 raja dan bangsawan seluruh kerajaan di Sulsel bertemu di kediaman Arumpone Andi Mappanyukki, Jalan Jongaya (kini Jalan Kumala). Mereka menyepakati dukungan atas kekuasaan Republik Indonesia. Pernyataan tersebut kemudian dikenal sebagai Deklarasi Jongaya.

Oktober juga tak bisa dipisahkan dari Sumpah Pemuda, sebuah penanda kesadaran atas persatuan bangsa pada 28 Oktober 1928. Diikrarkan pada Kongres Pemuda Kedua, sejumlah anggota Jong Celebes juga terlibat dalam momen bersejarah tersebut.

Terakhir yakni 1669, masa berakhirnya Perang Makassar antara Gowa-Tallo dan koalisi pimpinan VOC. Ada nuansa kepahlawanan yang coba dipupuk lewat pemilihan tahun tersebut.

"Perang Makassar telah membawa korban yang sangat banyak sebagai akibat kekejaman kaum penjajah. Ini tidak boleh disia-siakan, kita dapat mengambil hikmah dari jiwa kepahlawanan patriotisme dan semangat yang tinggi dari para pahlawan yang telah mendahului kita," demikian alasan tim perumus.

Baca Juga: Saat Wabah Demam Selingi Sengitnya Perang Makassar April-Juli 1668

Topic:

  • Ach. Hidayat Alsair
  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya