Menggali Akar Tradisi Lewat Kehangatan Festival Budaya Kaluppini 2026

- Festival Budaya Kaluppini 2026 berlangsung 3–9 Agustus di Enrekang, menghubungkan warga lintas generasi untuk merawat warisan dan pengetahuan adat melalui keterlibatan mandiri komunitas.
- Warga menghidupkan tradisi lewat anyaman daun bakong minim sampah, pengarsipan dongeng dan tanaman obat, pawai, pangan, pertunjukan, permainan tradisional, serta Susur Kampung yang mengajak memasak bersama alam.
- Festival ditutup ritual mettoto untuk mendoakan warga dan perantau; penyelenggara mencatat 200–300 pengunjung luar komunitas per hari serta berupaya menjaga autentisitas dan memperluas keterlibatan budaya lokal.
Makassar, IDN Times - Suasana Lapangan Puang Pina di Desa Adat Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, riuh oleh gelak tawa dan langkah kaki warga selama 3 hingga 9 Agustus 2026 lalu. Di bawah langit biru nan cerah dan naungan perbukitan hijau Enrekang, anak-anak muda hingga tetua adat berkumpul merawat sebuah ingatan bersama. Mereka sedang menikmati Festival Budaya Kaluppini, ajang yang sudah berlangsung sejak 2022 tersebut.
Para penduduk desa yang berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut tersebut memperkenalkan pengetahuan turun temurun tradisi leluhur yang masih digunakan dalam keseharian masyarakat kepada para pengunjung festival. Ini juga lahir dari kerinduan generasi muda untuk terhubung dengan akar budaya tempat mereka menginjakkan kaki di dunia untuk pertama kalinya. Semuanya terangkum dalam tema tahun ini, yakni "Merawat Warisan, Menghidupkan Pengetahuan."
1. Ketika seluruh generasi bergotong royong sekaligus merawat bumi

Suasana Festival Budaya Kaluppini 2026 yang berlangsung di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, pada 3-9 Agustus 2026. (dok. Festival Budaya Kaluppini) Sejak jauh hari sebelum panggung berdiri, derap persiapan festival yang diadakan setiap dua tahun sekali tersebut sudah terasa di setiap sudut kampung. Salah satu anggota tim penyelenggara festival, Wilda Yanti Salam, menceritakan bagaimana kerja kebudayaan ini ditopang oleh tangan-tangan warga lintas generasi. Semuanya bahkan dilakukan secara mandiri.
"Sejak festival ini dirancang, seluruh generasi di dalam komunitas adat, seperti ibu-ibu, orang muda, dan anak-anak, terlibat semua sejak awal persiapan dan perancangan festival. Ibu-ibu sudah sibuk kumpul daun bakong, daun yang dianyam jadi wadah makanan, karpet, topi, tas, dan sebagainya sehingga festival jadi minim sampah," tuturnya kepada IDN Times pada 17 Agustus 2026.
"Anak-anak terlibat untuk bermain teater, musik, dan permainan tradisional, dan anak-anak muda yang jadi penggerak utama mengonsepkan keseluruhan festival selama seminggu penuh," lanjutnya.
Daun bakong anyaman yang disiapkan oleh kelompok ibu-ibu Kaluppini adalah salah satu bukti bahwa tradisi bisa menjawab masalah modern. Cara hidup ramah lingkungan dan minim sampah seolah sudah bisa diperkirakan oleh leluhur melalui olahan tanaman bernama latin Crinum asiaticum tersebut.
2. Para anak muda bersama tetua duduk bersama mengingat kembali budaya Kaluppini

Suasana Festival Budaya Kaluppini 2026 yang berlangsung di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, pada 3-9 Agustus 2026. (dok. Festival Budaya Kaluppini) Perjalanan Festival Budaya Kaluppini 2026 dibangun dalam tiga tahapan yang sarat makna. Tahap pertama dimulai dari ruang-ruang pembelajaran kultural. Anak muda duduk melingkar bersama para tetua untuk mengarsipkan kembali pau nene dan karume (dongeng serta teka-teki rakyat), memetakan tanaman obat lokal, dan kembali mengingat apa saja pengetahuan adat yang masih terjaga atau mungkin mulai terlupakan.
Setelah pengetahuan itu dihimpun, tahap kedua mewujud dalam pesta selama tujuh hari penuh di lapangan yang berada tepat di tengah desa. Edisi 2026 sendiri menghadirkan pawai budaya, pameran pangan, serta panggung pertunjukan. Sebagai penutup pada tahap ketiga, seluruh kerja keras ini rencananya akan diabadikan oleh tim penyelenggara festival melalui sebuah dokumentasi audio-visual serta peluncuran dua buah buku yakni "Buku Resep Kuliner Tradisional" dan "Buku Pau Nene dan Karume."
3. Agenda Susur Kampung mengajak para pengunjung festival mengingat filosofi memasak

Suasana Festival Budaya Kaluppini 2026 yang berlangsung di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, pada 3-9 Agustus 2026. (dok. Festival Budaya Kaluppini) Salah satu momen yang paling memikat adalah agenda Susur Kampung yang digelar pada 5 Agustus 2026, atau hari ketiga penyelenggaraan. Peserta mengajak langkah menyusuri rimbunnya rute menuju Sungai Likubassi. Di sepanjang jalan, mereka kembali diajak mengenal filosofi penting untuk masyarakat Kaluppini dan peradaban di seluruh dunia, bahwa memasak adalah cara terdekat untuk mengenal alam yang memberi penghidupan. Bahan pangan, rempah-rempah, hingga hasil sungai dikumpulkan oleh para peserta, sebelum dimasak bersama-sama di alam terbuka.
Keriuhan acara ini terasa membuncah saat perlombaan permainan tradisional menjadi salah satu kegiatan utama mulai dari 4 hingga 8 Agustus 2026. Padendang, cukke', gasing, hingga jengka', membuat lapangan desa dipenuhi sorak-sorai. Untuk sementara, lomba menyeruakkan antusiasme khas masa kecil dan menjauh dari nilai kompetitif yang sengit.
4. Ditutup dengan ritual mettoto, tempat tetua mendoakan keselamatan dan kelancaran hidup

Suasana Festival Budaya Kaluppini 2026 yang berlangsung di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, pada 3-9 Agustus 2026. (dok. Festival Budaya Kaluppini) Memasuki hari terakhir, 9 Agustus 2026, seluruh warga dan tamu festival berkumpul dalam ritual mettoto, sebuah kenduri besar yang menghubungkan generasi muda dengan para pemangku adat. Di atas hamparan alas anyaman, segala hidangan tradisional hasil olahan warga disajikan di atas daun jati. Mettoto menjadi ruang sakral tempat para tetua mendoakan keselamatan dan kelancaran langkah anak-anak muda Kaluppini, baik mereka yang tengah menempuh bangku perkuliahan maupun yang tengah berjuang di tanah rantau. Turut pula doa agar penduduk Kaluppini senantiasa diberi hasil panen melimpah, serta segala harapan yang baik untuk kehidupan desa berpenduduk 1.093 jiwa tersebut.
Di balik tradisi makan bersama ini, ada pesan tersirat yang kuat. Sejauh apa pun seorang pemuda melangkah, ikatan kebersamaan dan ingatan akan akar kampung halaman akan selalu memanggil mereka untuk pulang. Kaluppini dan segala kesederhanaannya menempati ruang tersendiri dalam hati para perantau.
5. Diharap bisa terus menjaga autentisitas dan mendorong inisiatif kebudayaan serupa

Suasana Festival Budaya Kaluppini 2026 yang berlangsung di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, pada 3-9 Agustus 2026. (dok. Festival Budaya Kaluppini) Suasana hangat Festival Budaya Kaluppini 2026 rupanya terasa hingga ke luar desa. Menurut Wilda, tak kurang dari 200 hingga 300 pengunjung dari luar komunitas adat memadati Lapangan Puang Pina setiap harinya, mulai dari warga berbagai daerah di Enrekang hingga para pembuat konten digital.
"Kemarin saat festival banyak sekali warga di luar komunitas adat yang datang. Dari berbagai daerah di Enrekang, banyak juga influencer yang datang untuk membuat konten. Setiap hari 200-300 orang berkumpul untuk nonton pertunjukan dan lain-lain. Ini event yang sangat hangat dan sangat menyenangkan untuk semua orang," jelas Wilda yang juga dikenal sebagai peneliti budaya Sulawesi Selatan.
Menatap masa depan perhelatan ini, tim penyelenggara bertekad menjaga api autentisitas festival agar tidak terkikis. Terlebih upaya apresiasi pada kebudayaan lokal disebutnya ibarat masih jauh panggang dari api.
"Edisi berikutnya diupayakan terjaga identitasnya, karakter, dan kedekatannya dengan masyarakat sebagai suatu kegiatan komunitas. Harapannya lebih kepada menjaga kualitas, tetap bertumbuh dan cakupan yang lebih luas. Melibatkan lebih banyak komunitas dan pelaku budaya lokal khususnya di Kabupaten Enrekang yang masih minim apresiasi terhadap kegiatan-kegiatan pemajuan kebudayaan," tutup Wilda penuh harap.



















