Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hubungkan Seni dan Cerita Warga, Wallacea Biennale Dihelat Tahun Ini

Kota Makassar
Hubungkan Seni dan Cerita Warga, Wallacea Biennale Dihelat Tahun Ini
Pengumuman pameran seni rupa kontemporer Wallacea Biennale yang akan berlangsung tahun ini. (instagram.com/wallaceabiennale)
Intinya Sih
  • Wallacea Biennale resmi menggantikan Makassar Biennale yang berlangsung pada 2015–2023, dengan cakupan kolaborasi seni lintas kota di wilayah Garis Wallacea.
  • Gelaran ini mengutamakan tradisi, bahan lokal, serta cerita keseharian warga, sambil melibatkan pemuda, komunitas kreatif, sekolah, dan kampus sebagai ruang belajar bersama.
  • Menjelang pameran utama, program akan hadir di tujuh kota: Makassar, Pangkep, Parepare, Soppeng, Kendari, Labuan Bajo, dan Nabire, bersama komunitas lokal masing-masing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Ekosistem seni dan budaya di wilayah Indonesia Timur kembali bersiap menyambut gelaran pameran seni rupa kontemporer. Setelah dikenal khalayak umum sebagai Makassar Biennale dari 2015 hingga 2023, gerakan kebudayaan ini kini resmi berganti nama menjadi Wallacea Biennale mulai tahun ini.

Tak hanya sekadar pameran seni rupa, acara ini juga akan menjadi ruang kumpul dan ajang kolaborasi yang menghubungkan kota-kota di wilayah Garis Wallacea. Kawasan yang mencakup Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua ini kaya akan sejarah alam dan budaya. Meski belum mengumumkan tanggal dan tempat penyelenggaraan, Wallacea Biennale sudah melakukan serangkaian perkenalan melalui media sosial.

1. Menjadi pengembangan dari Makassar Biennale yang berlangsung dari 2015 hingga 2023

Suasana penyelenggaraan Makassar Biennale 2023 yang berlangsung Makassar.
Suasana penyelenggaraan Makassar Biennale 2023 yang berlangsung di Rumata' Artspace, Makassar. (dok. Artefact.id)

Wallacea Biennale sendiri langkah lanjutan dari jaringan kerja sama antarkota yang sebelumnya dibangun oleh tim Makassar Biennale selama 2019-2024. Dilansir akun media sosial Instagram resmi mereka, @wallaceabiennale, perubahan nama ini menandai cakupan acara yang kini semakin luas. Seni tidak lagi cuma berpusat di satu kota, rapi turut merangkul daerah-daerah lain di wilayah Indonesia Timur.

"Garis Wallacea adalah satu definisi tentang karakter bentang alam spesifik yang berkait erat dengan ilmu & pengetahuan, praktik kerja dan bermain, nilai hidup dan kehidupan. Ini juga bermakna tentang kesamaan nasib dan kutukan dalam wilayah yang sama di peta politik dan kebijakan nasional," demikian penjelasan tentang makna dari penggunanaan garis imajiner ciptaan naturalis Alfred Russel Wallace tersebut.

2. Masih berfokus pada tradisi dan cerita dari kehidupan sehari-hari masyarakat

Suasana penyelenggaraan Makassar Biennale 2023 yang berlangsung di Labuan Bajo.
Suasana penyelenggaraan Makassar Biennale 2023 yang berlangsung di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. (dok. Artefact.id)

Berbeda dengan pameran seni besar yang terkesan megah atau rumit, Wallacea Biennale memilih pendekatan yang dekat dengan warga. Proses pembuatan karya seni, riset, hingga pamerannya dibuat dengan mengutamakan bahan-bahan serta tradisi lokal setempat (vernakular). Artinya, seni yang ditampilkan benar-benar lahir dari cerita dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Lebih jauh, acara ini membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa saja untuk ikut terlibat. Anak-anak muda, warga sekitar, komunitas kreatif, hingga sekolah dan kampus diajak untuk bekerja sama. Dengan begitu, pameran seni ini tidak hanya menjadi tontonan, juga sebagai wadah belajar bersama dan mempererat relasi antarwarga di tiap kota.

3. Libatkan tujuh komunitas berbeda dari Makassar, Pangkep, Kendari hingga Nabire

Suasana penyelenggaraan Makassar Biennale 2023 yang berlangsung di Pangkep.
Suasana penyelenggaraan Makassar Biennale 2023 yang berlangsung di Pangkep, Sulawesi Selatan. (dok. Artefact.id)

Sebagai persiapan menuju pameran utama, Wallacea Biennale akan hadir di tujuh kota dan masing-masing menghadirkan program sesuai dengan tema besar. Mulai dari Makassar (Tanahindie), Pangkep (Rumah Saraung), Parepare (Bumi Lestari), Soppeng (Pasere Kolektif), Kendari (Berproject), Labuan Bajo (Videoge), dan Nabire (Kolektif Stereo).

Sebelumnya, pada Makassar Biennale 2019-2024, hanya ada lima kota yang berpartisipasi yakni Makassar, Pangkep, Parepare, Labuan Bajo, dan Nabire. Praktis Soppeng dan Labuan Bajo menjadi tambahan untuk memperluas cakupan Wallacea Biennale, sekaligus menghimpun segala keunikan di wilayah tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More