Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menengok Masjid Al Muttaqin, Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Manado
Masjid Al Muttaqin di Jalan Wiracakti, Kampung Pondol, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (26/2/2026). IDNTimes/Savi
  • Masjid Al Muttaqin di Kampung Pondol, Manado, dibangun oleh nelayan dari Kesultanan Ternate.

  • Bangunan asli masjid sempat hancur akibat Perang Dunia II.

  • Berlokasi strategis di antara dua jalan utama Manado, Masjid Al Muttaqin sering menjadi tempat singgah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Manado, IDN Times - Kampung Pondol yang terletak di tengah Kota Manado menjadi saksi penyebaran agama Islam di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara itu. Sebagian penduduknya merupakan keturunan putra mahkota Sri Sultan Hamengkubuwono V, Gusti Raden Mas Timur Muhammad, yang dibuang bersama sang ibu, Ratu Sekar Kedaton.

Sebagian lainnya merupakan keturunan kerajaan dari Surakarta dan Palembang yang diasingkan ke Manado, dan sebagiannya lagi adalah nelayan dari Kesultanan Ternate. Salah satu peninggalan yang masih berdiri tegak hingga saat ini adalah Masjid Al Muttaqin.

Masjid tersebut terletak di Jalan Wiracakti, Kampung Pondol, Kecamatan Wenang. "Masjid ini didirikan oleh para nelayan dari Ternate pada tahun 1775," ujar Penjaga Masjid Al Muttaqin, Abdulchair Albuchari, Kamis (26/2/2026).

1. Kesultanan Ternate taklukkan Manado

Masjid Al Muttaqin di Jalan Wiracakti, Kampung Pondol, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (26/2/2026). IDNTimes/Savi

Setelah berhasil menaklukkan Manado pada sekitar tahun 1553, pasukan Kesultanan Ternate yang mayoritas nelayan berasimilasi dengan penduduk sekitar. Namun, ada juga yang menyebut bahwa Kesultanan Ternate mengirimkan 2 rombongan ke Sulut pada tahun 1750. 

Satu kapal dikirim ke Kepulauan Sangihe, satu lagi ke Manado. Selain melaut, para nelayan dari Ternate tersebut menyebarkan ajaran Islam.

Saat dibuang ke Manado, Pangeran Diponegoro disebut kerap beribadah di Masjid Al Muttaqin ketika mengunjungi Kampung Pondol.

2. Jaga masjid turun temurun

Penjaga Masjid Al Muttaqin, Abdulchair Albuchari. Dok. Pribadi

Sayangnya, peninggalan bersejarah Masjid Al Muttaqin sudah tidak ada. Kini hanya tersisa satu bangunan kecil masjid yang dicat berwarna hijau.

"Karena masjid ini pernah dibom di Perang Dunia II," tambah Abdul.

Keluarga Abdul sendiri diberi amanah menjaga masjid secara turun temurun. Selain Abdul, kakaknya, Haji Muhammad Albuchari, menjadi Imam Besar Masjid Al Muttaqin.

3. Jadi tempat singgah musafir

Suasana Kampung Pondol, Wenang, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (26/2/2026). IDNTimes/Savi

Masjid Al Muttaqin terletak di sebuah gang kecil yang panjangnya kurang lebih hanya 300 meter. Gang tersebut menghubungkan dua jalan protokol di Kota Manado, yaitu Jalan Pierre Tendean dan Jalan Sam Ratulangi.

Karena letaknya yang strategis dan berada di tengah kota, masjid ini jarang kosong. Selain penduduk sekitar, pengendara kerap singgah untuk beristirahat dan salat.

"Kalau yang ramai sekali memang tidak, tapi pasti ada orang mampir. Biasanya ojol, pekerja lapangan, dan musafir lainnya," tutur Abdul.(*)

Editorial Team