Jejak Laga Sepak Bola Internasional di Sulsel, Ada Liga Champions Asia

Laga internasional terakhir di Sulsel digelar 2 April 2025 saat PSM Makassar menjamu Cong An Ha Noi FC di semifinal ASEAN Club Championship, menjadi pertandingan internasional pertama sejak 2018.
Stadion Andi Mattalatta Mattoanging pernah jadi tuan rumah ajang besar seperti Liga Champions Asia dan Pra-Olimpiade Beijing 2008, dengan berbagai renovasi untuk memenuhi standar AFC dan PSSI.
Setelah vakum lebih dari satu dekade, turnamen Supercup Asia 2018 menghadirkan kembali atmosfer internasional di Makassar, di mana PSM sukses juara usai menaklukkan tim-tim dari Singapura dan Kamboja.
Makassar, IDN Times - Laga sepak bola level internasional terakhir diadakan di Sulawesi Selatan (Sulsel) mempertemukan PSM Makassar yang menjamu Cong An Ha Noi FC pada leg pertama semifinal ASEAN Club Championship (ACC) 2024/2025, di Stadion B.J. Habibie Parepare, 2 April 2025 silam.
Partai kandang kontra juara Liga Vietnam 2023 tersebut menjadi laga internasional pertama di provinsi ini sejak 2018. Namun, ini bukan kali pertama Sulsel mementaskan duel sepak bola bergengsi melawan tim mancanegara. Berikut IDN Times mengajak pembaca mengingat kembali saat Sulsel pentaskan sejumlah pertandingan internasional.
1. Kejuaraan Antarklub Asia/Liga Champions Asia (2000/2001, 2004, 2005)

Ketika PSM berlaga di Kejuaraan Antarklub Asia 2000/01, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memilih Stadion Andi Mattalatta Mattoanging sebagai tuan rumah babak 8 besar zona Asia Timur. Stadion ini menjadi saksi kehadiran tim-tim papan atas seperti Jubilo Iwata (Jepang), Suwon Samsung Bluewings (Korea Selatan) dan Shandong Luneng Taishan (China) yang merasakan langsung atmosfer fanatisme sepak bola Makassar.
Untuk memenuhi standar kelayakan yang ditetapkan, renovasi pun dilakukan. Stadion yang diresmikan pada 6 Juli 1957 ini mendapat penambahan lampu penerangan, perbaikan ruang ganti, ruang wasit, dan toilet. Langkah ini juga diambil untuk meningkatkan citra kota Makassar.
Musim 2004, Mattoanging menjadi kandang Juku Eja saat mengikuti Liga Champions Asia. Dalam ajang tersebut, PSM yang saat itu diasuh mendiang Miroslav Janu tergabung dalam Grup F. Mereka menghadapi Dalian Shide dari China (sudah bubar), Krung Thai Bank dari Thailand (kini bernama BG Pathum United), serta Hoang Anh Gia Lai dari Vietnam.
Terakhir kali stadion yang sudah rata dengan tanah tersebut menggelar pertandingan tingkat Asia yang resmi adalah di Liga Champions Asia musim 2005. Pada kesempatan itu, tim-tim yang bertandang ke Makassar adalah Shandong Luneng (untuk kedua kalinya), Yokohama F. Marinos (Jepang) dan BEC-Tero Sasana (Thailand, kini bernama Police Tero FC).
2. Pra-Olimpiade Beijing 2008 Zona Asia (2007)

Di pertandingan kedua Grup C Pra-Olimpiade Beijing 2008 Zona Asia, Mattoanging dipilih menggelar laga Indonesia U-23 versus Vietnam U-23. Keputusan ini diambil sebab Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sedang dalam proses renovasi untuk persiapan Piala Asia 2007. PSSI saat itu menilai Mattoanging sebagai lokasi yang paling sesuai untuk duel tersebut.
Kedatangan Jajang Mulyana dan kawan-kawan disambut dengan antusiasme tinggi. Seminggu sebelum pertandingan, berbagai perbaikan dilakukan. Mulai dari fasilitas ruang media, kondisi rumput lapangan, sistem pencahayaan stadion, fasilitas toilet, dan pengecatan ulang di beberapa titik.
Pertandingan yang berlangsung pada hari Rabu, 14 Maret 2007 itu, disaksikan oleh 13 ribu penonton. Sayangnya, Garuda Muda yang dilatih oleh Ivan Kolev gagal meraih poin penuh. Vietnam U-23 memetik tiga poin berkat kemenangan 0-1, hasil dari gol tunggal Le Cong Vinh (kini menjadi asisten pelatih di klub Song Lam Nghe An) pada menit ke-76.
3. Turnamen Pramusim Supercup Asia (2018)

Lebih dari satu dekade tanpa kehadiran tim-tim dari luar negeri, kesempatan menggelar laga internasional akhirnya terwujud pada awal tahun 2018. PSM Makassar menjadi tuan rumah turnamen pramusim yang diberi nama Supercup Asia, dan berlangsung di Stadion Andi Mattalatta Mattoanging.
Selain PSM Makassar sebagai tuan rumah, turnamen ini juga diikuti tiga tim undangan dari kawasan Asia Tenggara. Mereka adalah Adelaide United U-20 (Australia), National Defence Ministry FC (Kamboja, kini menjadi Royal Cambodian Armed Forces FA), dan Home United (Singapura, kini menjadi Lion City Sailors FC).
Menggunakan format sistem gugur, Pasukan Ramang yang saat itu dibesut Robert Rene Alberts berhasil menjadi juara. Wiljan Pluim dan rekan-rekan sukses menekuk Home United dengan skor 4-0, kemudian mengalahkan National Defence Ministry FC di pertandingan final tiga gol tanpa balas.











![[KLASIK] Piala Liga Kembali, Memori Makassar Utama Jawara Edisi 1986](https://image.idntimes.com/post/20250424/460821731-2284584051874600-1881088136233521545-n-5842d6e549f3c7b72e71e1c0d5f41109-59d5535f542391c5ed3828ff701b65fc.jpg)





