TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Remaja Pelaku Tawuran Diikutkan Pesantren di Kantor Polisi Makassar

Remaja-remaja itu ikut pesantren sebulan di kantor polisi

Kapolres Pelabuhan Makassar AKBP Muhammad Kadarislam memberikan siraman rohani kepada sejumlah remaja yang ikut program pesantren di kantornya. IDN Times/Polres Pelabuhan Makassar

Makassar, IDN Times - Pola berbeda diterapkan Polres Pelabuhan Kota Makassar dalam membina pelaku kejahatan jalanan. Jika pada umumnya pelanggar aturan diproses sesuai dengan ketentuan hukum, maka pelaku kejahatan di Polres Pelabuhan dibina layaknya pendidikan ala pesantren. Pelaku yang didominasi remaja itu diwajibkan mengikuti serangkaian pembelajaran agama Islam.

"Nah anak-anak di bawah umur yang pelanggarannya tidak begitu berat makanya saya lakukan pembinaan satu bulan. Pembinaan macam-macam mengenai agama. Mengaji, salat lima waktu, taklim dan berdakwah satu sama lain," ujar Kapolres Pelabuhan, AKBP Muhammad Kadarislam kepada jurnalis saat ditemui di kantornya, Selasa (5/1/2021).

1. Remaja yang dibina merupakan pelaku tawuran antarkelompok

Kapolres Pelabuhan Makassar AKBP Muhammad Kadarislam memberikan siraman rohani kepada sejumlah remaja yang ikut program pesantren di kantornya. IDN Times/Polres Pelabuhan Makassar

Kadarislam mengungkapkan, remaja yang dibina dan didik dengan pendekatan agama, adalah mereka yang sering terlibat dalam perang antarkelompok. Khususnya di kawasan Kecamatan Tallo hingga Ujung Tanah. Dua kecamatan itu masuk dalam wilayah hukum Polres Pelabuhan Makassar. Mereka yang ditangkap sejak November 2020 lalu dibina selama sebulan.

Para remaja itu ditempatkan di masjid kantor Polres Pelabuhan. Kadarislam menyebut, saat ini pihaknya telah membina 59 orang remaja. Mereka umumnya berusia 13 hingga 17 tahun. "Faktor yang pengaruhi mereka karena ego. Di usia belia yang tidak mau dikalah dan gampang memuncak emosinya, jiwa kekanak-kanakan, kedua faktor lingkungan, ketiga biasa mau cari seru-seruan saja," ujar Kadarislam.

Remaja diikutkan program nyantri sebagai bekal untuk mengingat kembali pelajaran agama yang mereka dapatkan di sekolah. Terlebih, remaja yang dibina umumnya putus sekolah. Remaja dibimbing dan diawasi oleh petugas. "Kebetulan beberapa anggota di sini adalah guru mengaji, jadi kita manfaatkan. Termasuk (pembelajaran) tata tertib aturan undang-undang. Soal kepolisian dan kenegaraan," jelasnya.

Baca Juga: 2 Anggota Polsek Bontoala Makassar Diperiksa soal Dugaan Salah Tangkap

2. Pembinaan remaja dikoordinasikan dengan orangtua masing-masing

Kapolres Pelabuhan Makassar AKBP Muhammad Kadarislam memberikan siraman rohani kepada sejumlah remaja yang ikut program pesantren di kantornya. IDN Times/Polres Pelabuhan Makassar

Kadarislam mengaku, pembinaan remaja ini dikoordinasikan dengan orang tua masing-masing. Koordinasi dianggap penting mengingat faktor lain yang mempengaruhi mereka terlibat kasus karena kuranganya perhatian dan pengawasan dari orangtua. Faktor itu menurut dia menjadi yang paling utama dari semua yang telah disebutkan sebelumnya.

"Saya sampaikan ke orangtuanya. Penjara itu tidak bisa merubah orang. Hanya menangguhkan perbuatan jahatnya. Bahkan ada yang masuk karena mencuri ayam, keluar sudah jadi pencuri mobil. Karena dia bergaul dengan pencuri meningkat ilmunya," ujar perwira berpangkat dua bunga di pundak ini.

Sepanjang mengikuti proses mondok selama sebulan lebih, banyak di antara remaja ini mulai terbuka cara berpikirnya. Khususnya, menyoal kegiatan keagamaan yang selama ini dipelajari. "Yang tadinya mukanya penuh dengan dendam, marah. Begitu dia masuk masjid, berinteraksi dengan Al Quran salat berjemaah. Alhamdulillah masuk di sini sudah berubah," ucapnya.

Baca Juga: Tawuran Antarwarga Halangi Ribuan Demonstran Menuju Gedung DPRD Sulsel

Berita Terkini Lainnya