Warna-warni Sulsel di Den Haag, 200 Diaspora Hadiri Tudang Sipulung

- Acara Tudang Sipulung KKSS Eropa di Den Haag mempertemukan sekitar 200 diaspora Sulawesi Selatan dari berbagai negara untuk merayakan kebersamaan dan budaya tanah asal.
- Herlina Zain dilantik sebagai Ketua KKSS Eropa periode 2025–2030, membawa harapan baru untuk memperkuat solidaritas dan menghadirkan program berdampak bagi komunitas Sulsel di Eropa.
- Tari Paduppa yang dibawakan anak-anak diaspora serta kehadiran Wakil Dubes RI menambah semarak acara yang sarat makna pelestarian budaya dan persaudaraan lintas generasi.
Makassar, IDN Times - Suasana khas Sulawesi Selatan tiba-tiba hadir di jantung Eropa. Warna-warni pakaian adat, dentuman musik tradisional, hingga aroma kuliner khas Sulsel memenuhi sebuah gedung pertemuan di Den Haag, Belanda, Sabtu, 13 Juni 2026 lalu. Itulah potret Tudang Sipulung yang digelar Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Eropa. Sekitar 200 warga Sulawesi Selatan yang tersebar di berbagai penjuru Eropa hadir meramaikan acara ini.
Mereka datang dari berbagai negara, antara lain Prancis, Hongaria, Jerman, Swiss, Austria, Britania Raya, hingga sejumlah kota di Belanda. Jauh dari kampung halaman, tapi rasa persaudaraan tetap mengakar kuat.
1. Merajut Kebersamaan

Mengangkat tema "Satu Naungan, Satu Persaudaraan, Satu Rasa", Tudang Sipulung menjadi ajang perjumpaan bagi warga Sulsel yang selama ini hidup berpencar di berbagai negara Eropa.
Bagi KKSS Eropa, Tudang Sipulung bukan sekadar acara. Ia dimaknai sebagai duduk bersama dalam satu lingkaran — di mana tidak ada yang terasa jauh dan tidak ada yang merasa sendiri.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 14.00 hingga 21.00 waktu setempat itu dibuka dengan pelantikan pengurus KKSS Eropa periode 2025–2030. Pelantikan dipimpin oleh Ibu Lily, yang mewakili Badan Pengurus Pusat KKSS Bidang Internasional dan Diaspora Luar Negeri.
2. Ketua Baru, Harapan Baru

Herlina Zain resmi memimpin KKSS Eropa untuk periode mendatang. Perempuan asal Sulawesi Selatan yang kini berdomisili di Belanda ini berharap kepengurusan baru bisa memperkuat hubungan antarmasyarakat Sulsel di Eropa, sekaligus melahirkan program-program yang berdampak nyata bagi anggota dan masyarakat Indonesia secara lebih luas.
Sekretaris KKSS Eropa, Rara Balasong, menegaskan makna penting acara ini. "Tudang Sipulung menjadi momentum untuk menyatukan warga Sulsel yang tersebar di berbagai negara," kata Rara dalam rilis pers kepada IDN Times, Minggu (21/6/2026).
3. Anak-anak Diaspora Tampil Bawakan Tari Paduppa

Tak hanya soal organisasi, Tudang Sipulung juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali budaya Sulsel di hadapan generasi yang lahir dan tumbuh di Eropa.
Sunarti Tutu hadir bersama keluarganya mengenakan pakaian adat Makassar. Kedua anaknya, Danielle dan Annabelle, bahkan tampil membawakan Tari Paduppa di hadapan seluruh peserta.
Bagi keluarga diaspora, melibatkan anak-anak dalam kegiatan budaya seperti ini adalah salah satu cara untuk menjaga ikatan mereka dengan tanah asal keluarga — meski mereka tumbuh ribuan kilometer jauhnya dari Sulawesi Selatan.
4. Hiburan, Kuliner, hingga Kunjungan Wakil Dubes

Suasana kekeluargaan semakin terasa lewat penampilan musik dan tari tradisional, kompetisi busana dan penampilan terbaik, pembagian doorprize, serta deretan kuliner khas Sulsel yang siap memanjakan lidah.
Acara ini turut dihadiri oleh Deputy Chief of Mission (Wakil Duta Besar) Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Mariska Dwianti Dhanutirto. Dalam sambutannya, Mariska menekankan betapa pentingnya peran diaspora Indonesia dalam menjaga hubungan dengan tanah air sekaligus berkontribusi pada pembangunan Indonesia.
Di tengah kehidupan diaspora yang tersebar di berbagai negara, Tudang Sipulung KKSS Eropa berhasil menghadirkan kembali ruang kebersamaan. Di tempat itu, jarak geografis dipertemukan oleh budaya, ingatan, dan rasa persaudaraan yang tak pernah pudar.


















