Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sineas Makassar Ichwan Persada Siapkan Festival Film Sulsel Keliling Eropa
Film Solata berlatar kawasan perbukitan Tana Toraja. (Dok. Ichwan Persada).
  • Sutradara Makassar Ichwan Persada menyiapkan South Sulawesi International Film Festival pada 2027 untuk membawa film berlatar Sulawesi Selatan berkeliling Eropa.

  • Gagasan ini dipicu perjalanan internasional SOLATA, yang tampil di festival Bulgaria, Yordania, dan Ceko serta pemutaran khusus di beberapa negara lain.

  • Program akan membawa SILARIANG dan dokumenter masyarakat adat yang masih diriset; Ichwan mengharapkan dukungan pemerintah, BUMN, dan swasta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Sutradara asal Makassar Ichwan Persada berencana membawa film-film berlatar Sulawesi Selatan ke sejumlah negara di Eropa pada 2027. Rencana tersebut muncul setelah film garapannya, SOLATA, mendapat kesempatan tayang di sejumlah festival dan negara setelah pemutaran perdananya di Indonesia pada November 2025.

Program tersebut diberi nama South Sulawesi International Film Festival. Eropa menjadi target awal program tersebut dengan membawa sejumlah film yang memiliki latar Sulawesi Selatan, termasuk SILARIANG: Cinta [Yang] Tak Direstui (2018) dan proyek film dokumenter panjang tentang masyarakat adat di Sulawesi Selatan yang saat ini masih dalam tahap riset.

1. SOLATA tayang di sejumlah negara

Sutradara sekaligus produser film SOLATA, Ichwan Persada. (Dok. Istimewa)

Film SOLATA yang dibintangi Rendy Kjaernett dan Rachel Natasya menjalani pemutaran internasional perdananya di Sofia, Bulgaria, pada Januari 2026. Film tersebut ditayangkan dalam Sofia Menar Film Festival yang dihadiri tujuh duta besar dan perwakilan dari 13 negara.

Setelah itu, SOLATA mengikuti sejumlah festival dan pemutaran khusus di beberapa negara. Film tersebut telah mengikuti festival di Bulgaria, Yordania, dan Republik Ceko, serta mendapat kesempatan tayang khusus di Slowakia, Hungaria, Bahrain, dan Tanzania.

Dalam waktu dekat, SOLATA juga dijadwalkan tayang di Maroko, Finlandia, dan Filipina. Pengalaman tersebut kemudian mendorong Ichwan untuk membawa lebih banyak film berlatar Sulawesi Selatan kepada penonton internasional.

2. Ingin kenalkan Sulsel lewat film

Film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui (2018). (Dok. Ichwan Persada).

Ichwan mengatakan gagasan tersebut muncul setelah melihat respons penonton internasional saat menghadiri pemutaran khusus SOLATA di Slowakia dan Hungaria. Menurut dia, publik di negara tersebut menunjukkan ketertarikan terhadap film-film dari Indonesia.

"Sewaktu hadir saat pemutaran khusus film SOLATA di Slowakia dan Hungaria, kami melihat kegairahan dari publik internasional untuk menyaksikan lebih banyak lagi film dari Indonesia. Karena saya berasal dari Sulawesi Selatan maka terbit keinginan saya untuk memperkenalkan lokasi ini ke dunia internasional melalui film," ujar Ichwan dalam keterangannya, Minggu (27/9/2026).

Menurut Ichwan, Eropa Timur dipilih sebagai titik awal karena pihaknya telah membangun hubungan dengan sejumlah kedutaan besar dan konsulat jenderal di beberapa negara. Hubungan tersebut terjalin melalui kegiatan dan pemutaran film sebelumnya.

3. Bawa Silariang hingga film dokumenter

Proses syuting film SOLATA di bukit Ollon, Tana Toraja. (Dok. Istimewa)

Dalam program tersebut, Ichwan berencana membawa beberapa film yang memiliki keterkaitan dengan Sulawesi Selatan. Salah satunya SILARIANG: Cinta [Yang] Tak Direstui yang dirilis pada 2018.

Selain film fiksi, dia juga menyiapkan proyek film dokumenter panjang tentang masyarakat adat di Sulawesi Selatan. Film tersebut masih berada dalam tahap riset sehingga belum dijadwalkan untuk tayang.

Ichwan mengatakan film berlatar Sulawesi Selatan dengan kualitas yang mampu memperkenalkan budaya, wisata, sekaligus mengangkat isu penting masih relatif terbatas. Karena itu, dia berharap program tersebut dapat mendorong sineas Sulsel membuat lebih banyak karya dengan cerita yang beragam.

"Film sejenis SOLATA memang sudah tak banyak diproduksi di Indonesia. Karenanya semoga melalui kegiatan ini semakin menggerakkan para sineas asal Sulawesi Selatan untuk mengeksplorasi cerita-cerita menarik dan berbeda dan tak takut menggarap cerita dengan isu-isu penting," jelasnya.

Ichwan juga berharap rencana tersebut mendapat dukungan pemerintah provinsi maupun pemerintah kota, instansi pemerintah, BUMN, dan pihak swasta. Menurutnya, film dapat menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan budaya dan berbagai potensi Sulawesi Selatan kepada pasar internasional. Saat ini, dia mengaku sudah ada satu kementerian yang memberikan respons positif terhadap rencana penyelenggaraan program tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article