Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemprov Sulsel Evaluasi Kinerja Penanganan Stunting Kabupaten dan Kota
Penilaian Kinerja 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting di Sulsel Tahun 2024, Kamis (30/5/2024)/Humas Pemprov Sulsel
  • Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menilai kinerja 8 aksi konvergensi percepatan penurunan stunting di daerah tersebut.
  • Andi Bakti Haruni mengapresiasi inovasi kabupaten/kota dalam penurunan stunting dan meminta perhatian pada pengelolaan data terkait aksi konvergensi tersebut.
  • Prevalensi stunting di Sulsel masih tinggi, sebesar 27.4 persen menurut survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, dan Pj Gubernur menitipkan 4 hal penting untuk percepatan penurunan stunting.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) menggelar Penilaian Kinerja 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting di Sulsel Tahun 2024.

Plh Kepala Bappelitbangda Sulsel, Andi Bakti Haruni, mengatakan, pelaksnaaan kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi kinerja pemerintah kabupaten/kota dalam melaksanakan 8 aksi konvergensi percepatan penurunan stunting dan sebagai bahan perbaikan untuk melaksanakan 8 aksi konvergensi di tahun-tahun yang akan datang.

"Inti dari kegiatan ini ada tiga. Pertama mengevaluasi kinerja, kedua kita ingin memastikan akuntabilitas apa yang dikerjakan bisa dipertanggungjawabkan, ketiga ingin mengapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah kabupaten/kota," kata Andi Bakti sekaligus Ketua Panitia Penilaian Kinerja 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting.

1. Angka prevalensi stunting naik di beberapa daerah di Sulsel

Ilustrasi balita (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

Andi Bakti mengapresiasi beberapa inovasi yang dilakukan kabupaten/kota dalam penurunan stunting. Dia berharap pemerintah daerah memperhatikan pengelolaan data terkait 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting.

Adapun hasil evaluasi peniilaian kinerja 8 aksi konvergensi stunting akan disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri RI untuk dilakukan evaluasi lanjutan.

Pj Gubernur Sulsel, Prof Zudan Arif Fakrulloh yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan yang Juga Plt Kepala Dinas Sosial Sulsel, Abdul Malik Faisal, mengatakan, masih ada beberapa daerah di Sulsel yang mengalami kenaikan angka stunting dari tahun 2022 ke 2023 lalu.

"Kalau kita lihat datanya ada daerah yang naik dan turun. Kalau datanya yang naik, seperti Enrekang dan Tana Toraja. Sementara yang mengalami penurunan juga ada diantaranya Luwu Utara dan Gowa," kata Malik Faisal.

2. Pj Gubernur Sulsel atensi khusus penanganan stunting

Pj Gubernur Sulsel, Zudan Arif Fakhrulloh, Senin (27/5/2024)/Istimewa

Dari data yang ada, 11 kabupaten/kota mengalami peningkatan dan 13 kabupaten/kota mengalami penurunan. Penurunan tertinggi terdapat pada Kabupaten Luwu Utara (14,3%), Gowa (11,9%) , Bantaeng (6,3%). Peningkatan tertinggi pada Kabupaten Enrekang ( 8,5%), Barru (8%) dan Makassar (7,2%).

Prevalensi stunting di Sulsel masih berada di tingkat yang cukup tinggi. Data survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stunting di Sulsel sebesar 27.4 persen, mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya

"Pak Pj Gubernur menaruh perhatian penuh pada persoalan stunting ini. Target nasional 2025 untuk Sulsel itu 23,8 persen, kita optimistis tahun ini sudah turun di bawah 20 persen, memang harus kerja keras," kata Malik Faisal.

3. Empat langkah penurunan stunting

BKKBN menggelar konsolidasi persiapan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting 2024 di Makassar, Senin (27/5/2024)/Humas BKKBN Sulsel

Dalam kesempatan itu, Pj Gubernur menitipkan 4 hal yang perlu diperhatikan dalam percepatan penurunan stunting di Sulsel. Pertama, peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan, terutama ibu hamil, bayi dan balita.

Kedua, peningkatan gizi ibu hamil dan anak balita. Ketiga, peningkatan akses air bersih dan sanitasi. Dan terakhir, peningkatan pendidikan dan kesadaran masyarakat berupa edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya gizi dan kesehatan.

Editorial Team

Related Article