Nilai Tukar Petani Sulsel Menurun di Awal 2026, Petani Sayur Paling Tertekan

Makassar, IDN Times - Kabar kurang menggembirakan datang bagi sektor pertanian di Sulawesi Selatan pada awal tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan melaporkan adanya penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) secara umum pada bulan Januari 2026 dibandingkan posisi bulan sebelumnya. Penurunan ini menjadi sinyal peringatan awal bagi perekonomian pedesaan di wilayah tersebut.
Terkait kondisi ini, Plt. Kabag Umum BPS Provinsi Sulawesi Selatan, Khaerul Agus, memberikan penjelasannya mengenai pentingnya indikator ini dalam melihat kondisi riil di lapangan.
"Nilai tukar petani biasanya digunakan sebagai proxy kesejahteraan petani, sekaligus sebagai indikator untuk mengukur daya beli petani di pedesaan," ujarnya saat menyampaikan rilis berita statistik BPS Sulsel, Senin (2/2/2026).
Lantas, sektor apa saja yang paling terdampak dan bagaimana rincian datanya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
1. NTP Sulsel turun 0,81 persen, biaya hidup petani justru naik

Berdasarkan data BPS, NTP gabungan Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Januari 2026 berada di angka 118,12. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,81 persen jika dibandingkan dengan NTP bulan Desember 2025 yang tercatat sebesar 119,10. Penurunan angka ini mengindikasikan bahwa kemampuan tukar barang-barang hasil pertanian terhadap barang jasa kebutuhan petani sedikit melemah.
Penurunan NTP ini disebabkan oleh ketimpangan antara indeks harga yang diterima dengan yang dibayar oleh petani. Indeks harga yang diterima petani (pendapatan) turun sebesar 0,70 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (pengeluaran konsumsi dan biaya produksi) justru mengalami kenaikan sebesar 0,12 persen. Hal ini berarti pendapatan petani menurun, sementara biaya hidup dan modal kerja mereka merangkak naik.
2. Petani sayur "menjerit", subsektor hortikultura anjlok paling parah

Dari lima subsektor pertanian yang didata, subsektor Tanaman Hortikultura mencatatkan "rapor merah" dengan penurunan paling tajam. NTP Hortikultura terjun bebas hingga 10,63 persen, dari posisi 124,71 di bulan Desember menjadi 111,46 di Januari 2026. Penurunan ini jauh lebih dalam dibandingkan subsektor Tanaman Pangan yang hanya turun tipis 0,28 persen maupun Perkebunan Rakyat yang turun 1,51 persen.
Biang kerok utama anjloknya nilai tukar petani hortikultura adalah jatuhnya harga komoditas di pasaran. BPS mencatat penurunan indeks harga yang diterima petani pada kelompok sayur-sayuran mencapai 11,34 persen, disusul oleh kelompok buah-buahan yang turun 0,64 persen. Kondisi ini diperparah dengan naiknya biaya konsumsi rumah tangga petani hortikultura sebesar 0,14 persen, meskipun biaya produksi mereka sempat turun sedikit.
3. Kabar baik bagi nelayan dan peternak, nilai tukar mereka justru "cuan"

Di tengah lesunya sektor tanaman pangan dan hortikultura, angin segar justru berhembus ke arah petani di subsektor peternakan dan perikanan. Subsektor Perikanan menjadi juara dengan kenaikan NTP tertinggi mencapai 2,75 persen menjadi 118,30. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga yang diterima nelayan tangkap sebesar 3,71 persen dan pembudidaya ikan sebesar 2,25 persen.
Tak mau kalah, subsektor Peternakan juga mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan NTP sebesar 0,41 persen. Kenaikan harga jual terjadi hampir merata di semua lini, mulai dari ternak besar (sapi/kerbau) yang naik 0,27 persen, hingga kenaikan tertinggi pada kelompok hasil-hasil ternak/unggas (seperti telur dan susu) yang melonjak hingga 2,23 persen. Ini menjadi indikasi bahwa daya beli peternak dan nelayan di awal tahun 2026 relatif lebih kuat dibanding sektor lainnya.
4. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga ikut terkoreksi

Selain NTP, indikator lain yang juga penting untuk disimak adalah Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP), yang mengukur kemampuan tukar produk pertanian terhadap biaya produksi dan barang modal saja (tanpa menghitung konsumsi rumah tangga). Pada Januari 2026, NTUP Sulsel tercatat sebesar 123,58, atau turun 0,78 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Pola penurunannya pun setali tiga uang dengan NTP, di mana tiga subsektor mengalami kontraksi usaha. Subsektor Tanaman Hortikultura kembali mengalami penurunan NTUP terdalam sebesar 10,25 persen, disusul Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,87 persen, dan Tanaman Pangan sebesar 0,07 persen. Data ini menunjukkan bahwa secara murni bisnis, margin keuntungan petani di ketiga sektor tersebut sedang tertekan di awal tahun ini.


















