Makassar, IDN Times - Di penghujung tahun 2020, sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, mengalami cuaca ekstrem. BMKG sudah memprediksi sejak jauh hari potensi bencana seperti angin kencang, longsor, dan banjir.
Namun yang terlihat, pemerintah seperti tidak punya upaya pencegahan yang memadai. Sehingga penanganan bencana sering kali terkesan serampangan. Umumnya, terlihat ada tindakan saat sudah terjadi bencana dan telah mengorbankan masyarakat.
Ketua Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Adi Maulana, menilai akar permasalahan utama dari hal tersebut adalah rendahnya literasi kebencanaan.
"Literasi kebencanaan rendah karena aspek kebencanaan itu tidak dijadikan sebagai salah satu parameter utama di dalam pembangunan," kata Adi kepada IDN Times, Sabtu (19/12/2020).
