Penampakan di dalam peternakan ayam petelur dengan konsep closed house. (Dok. IDN Times)
Begitu pintu dibuka, udara hangat menyergap, bercampur dengan aroma dedak, jagung giling, dan bau khas unggas. Di dalamnya, ayam-ayam petelur memenuhi kandang bertingkat. Riuh suaranya bertumpuk jadi satu, dari kokok pendek, kepakan sesaat, hingga gesekan paruh dengan jeruji.
PT Cahaya Tiga Putri mengoperasikan tujuh kandang closed house sejak tahun 2024. Tiga kandang dengan ukuran 120 x 10 meter berkapasitas 43 ribu ekor, sementara empat lainnya dengan ukuran lebih kecil menampung masing-masing hingga 32 ribu ayam.
Setiap kandang terdiri dari dua lantai. Lantai atas jadi ruang hidup ayam. Tubuh-tubuh berbulu putih kecokelatan itu tersusun rapi dalam deretan kandang memanjang seperti lorong apartemen bersusun lima. Lantai bawah jadi ruang menampung feses terisolasi.
Umumnya, sebuah kandang tradisional (open house) dengan panjang bangunan 60 meter hanya bisa menampung sekitar enam ribu ekor ayam petelur. Dengan sistem closed house, jumlahnya bisa ditingkatkan jadi enam kali lipat. Kepadatan meningkat secara ekstrem, tapi kenyamanan ayam tetap dijaga melalui pengaturan suhu dan ventilasi.
“Pemberian pakan sampai proses panen dikontrol oleh operator secara otomatis. Jadi sangat minim kontak ayam dengan manusia. Dampaknya semakin kecil peluang penyakit menyebar. Karena kan virus bisa menyebar lewat carrier dan kalau sudah menjangkiti ayam, bisa tersebar ke satu kandang,” ucap Sarpin.
Di kandang ini memang tidak ada orang yang menuangkan pakan dari ember ke ember. Di luar kandang berdiri silo penyimpanan. Ketika waktunya tiba, feed car bertenaga motor listrik 1,5 kW bergerak perlahan di atas rel. Pakan mengalir melintasi talang-talang besi, disambut paruh-paruh kecil mematuk cepat bersamaan.
“Pemberian pakan empat kali sehari,” kata Sarpin. Satu kandang butuh sekitar 5,3 ton pakan per hari. Namun ayam tidak dibiarkan makan sesuka hati.
Bukan hanya pakan yang diatur oleh mesin. Sebanyak 250 lampu berkekuatan tujuh Watt di setiap kandang berpendar menggantikan siklus matahari. Lampu-lampu diatur menyala selama sekitar 16 jam sehari dengan jeda tertentu yang disengaja untuk menciptakan gelap. Nyala lampu mengatur jam biologis ayam, mereka diberi waktu makan dan istirahat secara seimbang.
"Kalau lampu nyala terus, (ayam) makan terus, kegemukan. Tidak bisa produksi telur," ujarnya.
Udara di dalam ruang tertutup ini sejuk dan stabil. Pengaturan suhu dipertahankan pada angka ideal 22 derajat Celsius. Di setiap kandang, 15 hingga 18 blower fan menyedot udara selama 24 jam nonstop. Ketika matahari Sidenreng Rappang menyengat terik di siang hari dan blower telah bekerja maksimal, sistem otomatis akan memicu cooling fan tambahan untuk menstabilkan kembali iklim mikro tersebut.
"Itu yang diprogram menyesuaikan suhu agar ayam nyaman," kata Sarpin.
Kalimat yang terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada logika industri: unggas yang nyaman akan makan dengan lahap, tak mudah terjangkit stres, dan pada akhirnya, berproduksi maksimal.
Ayam mulai bertelur pada usia sekitar 16 minggu. Satu siklus produksi berlangsung kira-kira setiap 25 jam. Di PT Cahaya Tiga Putri, produksi telur mencapai 95 persen dari total populasi sekitar 250 ribu ekor.
Sesaat setelah dikeluarkan induknya, telur-telur itu tak dipungut dari sarang seperti yang akrab dalam ingatan banyak orang. Mereka menggelinding perlahan mengikuti kemiringan kawat menuju egg conveyor, lalu digerakkan mesin secara perlahan di atas sabuk berjalan otomatis itu. Conveyor membawa telur menuju elevator. Dari sana, telur turun ke tempat pungut untuk disortir pekerja.
Sarpin bilang sekitar seratus orang bekerja di kompleks ini. Dalam sehari, satu kandang menghasilkan sekitar 1.400 rak telur yang didistribusikan ke berbagai daerah hingga luar pulau.
Setiap hari, sekitar 17 ribu rak telur meninggalkan tujuh kandang di Desa Mario. Sebagian menuju pasar tradisional, sebagian ke distributor, industri kuliner, hingga dapur Makan Bergizi Gratis. Dengan harga fluktuatif di atas Rp50 ribu per rak, perputaran uang yang tercipta mencapai miliaran rupiah dalam sehari. Target pasarnya pun bukan lagi lokal, melainkan lintas pulau, dari Kalimantan, Maluku, Papua, bahkan menembus Jakarta.
"Dengan konsep closed house, produksi naik. Begitu juga dengan kualitas telur. Warnanya lebih cerah, cangkang lebih keras. Kalau cara simpannya bagus, telur bisa tahan sampai satu bulan.”