Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Layani 8 Provinsi Sekaligus, Begini Tantangan Embarkasi Haji Makassar
Jemaah haji kelompok terbang (kloter 13) asal Maluku Utara tiba di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Rabu (29/4/2025). (IDN Times/Darsil Yahya)
  • Embarkasi Haji Makassar menghadapi tantangan besar karena melayani jemaah dari delapan provinsi dengan karakteristik beragam, termasuk lansia dan penyandang disabilitas yang memerlukan pelayanan profesional dan humanis.
  • Total 16.728 jemaah dan petugas diberangkatkan melalui Embarkasi Makassar dari rencana 16.750 orang, dengan Sulawesi Selatan menjadi penyumbang kuota terbesar mencapai 9.670 jemaah.
  • Terdapat 25 kursi kosong akibat pembatalan keberangkatan karena alasan kesehatan, kehamilan, perpindahan kloter, hingga cekal imigrasi, sementara penguatan digitalisasi dan koordinasi lintas instansi terus ditingkatkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari aspek pelayanan, kesehatan jemaah, hingga penyesuaian kebijakan pemerintah Arab Saudi. Kondisi tersebut juga dirasakan Embarkasi Makassar yang menjadi salah satu embarkasi terbesar di Indonesia.

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar, H. Ikbal Ismail, mengatakan luasnya wilayah layanan menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan seluruh jemaah memperoleh pelayanan yang optimal sejak keberangkatan hingga menuju Tanah Suci.

“Pelayanan terpadu menjadi sangat penting karena Embarkasi Makassar melayani jemaah dari wilayah yang sangat luas dengan karakteristik yang beragam. Kami berupaya memastikan seluruh jemaah mendapatkan layanan terbaik sejak masuk embarkasi hingga keberangkatan menuju Tanah Suci,” ujar Ikbal.

1. Embarkasi Makassar layani jemaah dari delapan provinsi

Ketua PPIH Embarkasi Makassar Ikbal Ismail. (Dok. Kemenhaj Sulsel)

Embarkasi Makassar melayani jemaah haji dari delapan provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Khusus jemaah asal Gorontalo dan Maluku, mereka hanya transit di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar sebelum melanjutkan penerbangan ke Arab Saudi. Mereka tidak masuk ke Asrama Haji Embarkasi Makassar.

Menurut Ikbal, cakupan wilayah yang luas tersebut menuntut pelayanan yang profesional, responsif, dan humanis. Terlebih banyak jemaah yang masuk kategori lanjut usia, penyandang disabilitas, maupun memiliki risiko kesehatan tertentu.

2. Sulsel jadi penyumbang kuota jemaah terbesar

Jemaah haji kloter 1 Embarkasi Makassar asal Kabupaten Soppeng dilepas dari Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Berdasarkan data PPIH Embarkasi Makassar, total kuota jemaah haji yang tergabung dalam embarkasi ini mencapai 16.543 orang. Jumlah tersebut terdiri atas jemaah reguler, prioritas lanjut usia, Petugas Haji Daerah (PHD), dan pembimbing ibadah haji KBIHU.

Sulawesi Selatan menjadi provinsi dengan kuota terbesar sebanyak 9.670 orang. Disusul Sulawesi Tenggara sebanyak 2.048 orang, Sulawesi Barat 1.450 orang, Papua Barat 951 orang, Papua 928 orang, Maluku Utara 783 orang, Gorontalo 616 orang, dan Maluku 585 orang.

Sementara itu, total jemaah dan petugas yang direncanakan berangkat melalui Embarkasi Makassar mencapai 16.750 orang yang tergabung dalam 43 kelompok terbang (kloter).

Dalam realisasinya, jumlah jemaah dan petugas yang berhasil diberangkatkan tercatat sebanyak 16.728 orang. Artinya terdapat selisih 22 orang dibandingkan rencana awal keberangkatan.

3. Ada 25 kursi kosong akibat jemaah sakit hingga cekal imigrasi

Kloter 43 sebagai kloter terakhir pemberangkatan jemaah calon haji Embarkasi Makassar 1447 H/2026 M di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Kamis (21/5/2026) dini hari. (Dok. Kemenhaj Sulsel)

Ikbal menjelaskan selisih jumlah keberangkatan tersebut disebabkan adanya jemaah dan petugas yang batal berangkat sehingga tidak dapat diproses penggantiannya.

Beberapa faktor yang menyebabkan pembatalan keberangkatan antara lain kondisi kesehatan jemaah, sakit di daerah asal, sakit saat berada di embarkasi, perpindahan kloter, hingga kendala administrasi berupa cekal imigrasi Arab Saudi.

Dari total 43 kloter keberangkatan, PPIH Embarkasi Makassar mencatat terdapat 25 open seat atau kursi kosong. Penyebabnya terdiri atas dua jemaah hamil, empat jemaah sakit di daerah asal, 16 jemaah sakit di embarkasi, dua jemaah pindah kloter, dan satu orang terkendala cekal imigrasi Arab Saudi.

Selain persoalan tersebut, penyelenggaraan haji tahun ini juga menghadapi tantangan lain seperti penguatan digitalisasi layanan haji, pengaturan jadwal penerbangan, pengelolaan kesehatan jemaah, serta koordinasi lintas instansi yang semakin kompleks.

“Kami terus melakukan penguatan layanan, mulai dari sistem informasi, layanan kesehatan, koordinasi antarinstansi, hingga peningkatan kenyamanan jemaah. Harapannya seluruh proses penyelenggaraan haji dapat berjalan aman, tertib, lancar, dan memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah,” kata Ikbal.

Editorial Team

Related Article