Klarifikasi Ayah Terlapor Dugaan Pemerkosaan 3 Anak di Lutim

Makassar, IDN Times - SA, ayah yang dilaporkan mencabuli tiga anaknya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan buka suara. Dia mengaku heran mengapa mantan istrinya sekaligus ibu dari tiga anak itu mempermasalahkan kembali kasus yang sudah dihentikan kepolisian pada Desember 2019 lalu.
"Saya curiga memang kalau mantan istri saya ini hanya memaksakan kehendak karena barangkali masalah-masalah sebelumnya, sebelum saya bercerai," kata SA saat dihubungi IDN Times, Jumat malam (8/10/2021).
1. Pelapor dan terlapor bercerai pada 2017

SA yang seorang auditor di Inspektorat Luwu Timur bercerita, dia berpisah dengan ibu tiga anaknya pada tahun 2017 lalu. Perpisahan disebabkan masalah rumah tangga. SA merasa tertekan karena dicurigai yang tidak-tidak.
"Prosesnya dari 2016 saya sudah tinggalkan rumah karena persoalan rumah tangga itu," dia menerangkan.
SA mengaku tak lagi mampu bertahan dengan RA karena sifat cemburuan yang berlebihan. "Dan banyak hal-hal lain, yang dari dalam hati berat, karena saya harus meninggalkan tiga anak," katanya.
Dalam proses perceraian itu, SA mengaku memberikan hampir sebagian besar hartanya kepada RA. Dia menyebut proses perceraian sempat berliku-liku karena mantan istrinya menolak memberikan buku nikah kepada pengadilan. SA mengancam akan menarik harta dan mengambil anak-anak jika buku nikah tidak diberikan.
"Akhirnya dia kasih buku nikah dan putuslah pada hari itu," ucapnya.
2. Sempat berhubungan baik setelah bercerai

SA bilang, setelah bercerai, dia dan mantan istrinya tak pernah berkomunikasi. Baru beberapa bulan berselang dia mulai bertemu kembali dengan anak-anaknya. SA kemudian sering menjemput anak-anaknya pulang dari sekolah.
"Biasa juga dia (mantan istri) sendiri yang suruh jemput di sekolah," ucapnya.
SA mengatakan hubungannya dengan ketiga anaknya sangat baik meski sudah tidak lagi tinggal bersama. Mereka sering datang ke rumah maupun kantor. Dia mengaku menghargai hak asuh anak yang jatuh pada ibunya. Selama becerai, SA tetap membiayai semua kebutuhan tiga anaknya.
"Semua biaya saya kirim lewat rekening mamanya dan tiap bulan saya cek, pastikan," terangnya.
3. SA kaget karena tiba-tiba mantan istrinya melapor ke polisi

SA mengaku kaget saat mengetahui bahwa mantan istrinya melapor ke Polres Luwu Timur dengan laporan terkait dugaan pencabulan anak. Laporan dilayangkan pada Oktober 2019. SA bilang laporan itu sempat dia pertanyakan, namun RA tidak memberikan alasan.
"Entah apa alasannya memfitnah. Kalau menurut saya sendiri ada faktor kecemburuan mungkin waktu saya video call dengan calon istri dulu, yang sekarang sudah jadi istri saya. Karena kan waktu sebelum cerai panjang memang prosesnya sebelum putus dari pengadilan," ujarnya.
Di bulan yang sama, SA melaporkan balik mantan istrinya karena merasa nama baiknya telah dicemarkan. Seiring dengan perjalanan kasus, tiga anak itu kemudian divisum. Visum pertama dilakukan di fasilitas kesehatan setempat sebelum divisum ulang di Makassar.
"Di puskesmas pertama, terus setelah itu karena tidak ada hasil (tanda kekerasan seksual), dan dia tidak terima jadi dibawa lagi ke RS Bhayangkara Makassar. Waktu itu saya juga diundang oleh penyidik untuk tes psikologi," katanya.
Dalam pemeriksaan di Makassar, dia hadir dalam kapasitas sebagai terlapor. Hadir pula ibu sebagai pelapor beserta tiga anaknya. "Dan hasilnya menurut dokter, saya tidak ada masalah, anak juga juga tidak ada. Tapi dari dia (RA), saya disampaikan dokter kalau ada semacam gangguan kejiwaan," ungkapnya.
4. Ayah curiga anaknya ditekan agar berbohong

SA melanjutkan, karena tidak ada bukti, Polres Lutim menghentikan kasus itu pada Desember 2019. "Bagaimana caranya ada bukti kalau dibuat-buat saja. Kan gampang sekali juga kalau mau menuduh," ucapnya.
SA juga tidak habis pikir mengapa mantan istrinya menuduh bahwa perbuatan dugaan kekerasan seksual terhadap tiga anaknya dilakukan di kantor dan di rumah.
"Makanya kan mesti dipikir juga secara logika, mana mungkin mau saya kasih begitu anak saya di kantor atau di rumah terus banyak orang," dia melanjutkan.
SA menduga selama tidak lagi tinggal serumah dengan ketiga anaknya, mantan istri menyuruh anaknya untuk berbohong demi mendapat perhatian.
"Makanya saya kasihan sama anak-anak ini. Saya dipertemukan juga itu hari waktu jalan ini kasus, ini anak-anak langsung peluk saya waktu ketemu," ucapnya.
SA mengakui pernah dimediasi oleh P2TP2A Lutim saat mantan istri mengadu. Di sana SA dipertemukan dengan ketiga anaknya. "Langsung dia datangi saya, dia minta dipangku, terus saya lihat kenapa kayak ada ketakukan di mukanya ini anak. Saya bapaknya jadi saya tahu betul ada yang disembunyikan sama ini anak."
SA bilang waktu itu dia menyuruh anaknya bercerita tentang apa yang terjadi saat dimediasi petugas P2TP2A. "Terus saya lihat ini anak, balik ke mamaknya kayak takut-takut begitu. Dia bilang kalau katanya nanti mau pulang sama saya, tidak mau pulang sama mamaknya," ujar SA.
5. Ayah tepis isu dia mempengaruhi penyelidikan di kepolisian

SA juga menepis tudingan bahwa mempengaruhi kepolisian dalam proses penyelidikan sehingga kasus ini berhenti. Dia merasa tidak punya pengaruh untuk itu.
"Bupati, ketua DPRD saja diambil (ditangkap) apalagi semacam saya ini, kalau memang melakukan kesalahan. Saya ini siapa, hanya pegawai biasa sampai mau pengaruhi polisi," katanya.
SA mengaku sudah cukup bersabar menghadapi perlakuan mantan istrinya. Dia merasa kasihan dengan ketiga anaknya. "Kasihan pasti di-bully di sekolahnya bahwa sudah dianu ayahnya, sudah apa. Itu kan beredar, karena liar ini barang," katanya lagi.
SA juga sadar bahwa pemberitaan tentang dirinya sudah tersebar luas. Tapi dia masih bisa sabar meski merasa difitnah.
"Mungkin orang-orang tidak memahami kejadian sebenarnya sehingga begini," ungkap SA.



















