Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kapasitas Angkut Sampah Makassar Baru 67 Persen, Ini Dampaknya

Kapasitas Angkut Sampah Makassar Baru 67 Persen, Ini Dampaknya
Ilustrasi antrean truk pengangkut sampah di depan jalan masuk kawasan TPA Tamangapa Antang, Makassar, Sulawesi Selatan. IDN Times/Ashrawi Muin
Intinya Sih
Gini Kak
  • Kapasitas angkut sampah Makassar baru mencapai 67 persen dari total produksi harian sekitar 800 ton, menyebabkan sebagian sampah berpotensi tidak tertangani di berbagai titik kota.
  • Wali Kota Munafri menyoroti pentingnya pemilahan sampah organik dan anorganik sejak sumbernya agar pengolahan lebih efektif serta mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.
  • Pemerintah Kota Makassar mendorong kolaborasi lintas perangkat daerah dan masyarakat dalam sistem pengelolaan terpadu, dengan dukungan perencanaan anggaran Bappeda untuk memperkuat penanganan TPA tahun 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Pemerintah Kota Makassar masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah, khususnya pada kapasitas pengangkutan yang belum maksimal. Dari total produksi sampah harian sekitar 800 ton, baru sekitar 67 persen yang mampu terangkut, sementara sisanya berpotensi tidak tertangani.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengungkapkan kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan mendasar dalam sistem persampahan di kota ini. Menurutnya, keterbatasan kapasitas angkut berdampak pada masih adanya sampah yang tercecer di berbagai titik.

"Artinya, masih terdapat sekitar 30 persen sampah yang berpotensi tercecer dan tidak Tertangani," kata Munafri dikutip dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (11/4/2026). 

1. Volume sampah bisa tembus 1.000 ton per hari

Tumpukan sampaiIlustrasi sampah. (10/5/2024). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Ilustrasi sampah. (10/5/2024). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Munafri menjelaskan tingginya volume sampah harian menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah kota. Bahkan, jika dihitung secara komprehensif dengan mobilitas masyarakat dari wilayah penyangga seperti Maros dan Gowa, maka total volume sampah di Makassar bisa mencapai lebih dari 1.000 ton per hari.

Dalam sistem penilaian pengelolaan sampah, kaya dia, terdapat 16 komponen utama yang menjadi indikator. Komponen tersebut meliputi aspek kebijakan dan anggaran dengan bobot sekitar 20 persen, serta pengelolaan di sumber sampah yang mencapai sekitar 50 persen.

"Inti dari pengelolaan ini adalah bagaimana semua komponen melakukan pengurangan sampah dari sumbernya melalui pemilahan," katanya.

2. Pemilahan sampah jadi faktor penentu

Ilustrasi sampah (IDN Times/Saladin Ayubi)
Ilustrasi sampah (IDN Times/Saladin Ayubi)

Selain itu, sistem nasional pengelolaan sampah menekankan soak pengurangan sampah dari sumbernya melalui pemilahan. Sampah organik dan anorganik perlu dipisahkan sejak awal agar proses pengolahan dapat berjalan lebih efektif.

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan ternak. Sementara itu, sampah anorganik dapat disalurkan ke bank sampah untuk diproses lebih lanjut oleh industri daur ulang.

"Kalau ini berjalan, maka praktis tidak ada lagi sampah yang masuk ke TPA, kecuali residu yang memang tidak bisa dimanfaatkan," katanya. 

3. Penanganan sampah perlu keterlibatan semua pihak

Ilustrasi sampah (IDN Times/Cokie Sutrisno)
Ilustrasi sampah (IDN Times/Cokie Sutrisno)

Menurut Munafri, upaya penanganan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pengangkutan. Seluruh perangkat daerah hingga masyarakat perlu terlibat aktif dalam menerapkan pola pengelolaan yang lebih terintegrasi.

Untuk itu, dia menginstruksikan agar perencanaan anggaran melalui Bappeda dimaksimalkan guna mendukung penanganan TPA pada 2026. Dia juga menegaskan pemerintah kota tidak boleh kembali terjebak dalam pola penanganan yang reaktif.

"Saya tidak mau kita hanya menyesal saat masalah itu sudah terjadi. Kita harus bertindak sekarang fokus penanganan smapah di lingkungan dan di TPA," tegasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More