Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bukan Makassar, Ini Daerah dengan Pengeluaran Sayur Tertinggi di Sulsel

Bukan Makassar, Ini Daerah dengan Pengeluaran Sayur Tertinggi di Sulsel
Ilustrasi sayur mayur, makanan sehat. (unsplash.com/Randy Fath)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Data BPS Sulsel 2025 menunjukkan Toraja Utara menempati posisi pertama pengeluaran sayur tertinggi, mencapai Rp13.809 per kapita per pekan, disusul Makassar dan Luwu Timur.
  • Wilayah dengan pengeluaran sayur terendah adalah Bone, Jeneponto, dan Takalar, masing-masing di bawah Rp8.000 per pekan, menggambarkan kesenjangan konsumsi antar daerah.
  • BPS menjelaskan perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor seperti ketersediaan sayur, pola konsumsi masyarakat, pendapatan rumah tangga, serta ketergantungan pada hasil kebun mandiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Sayuran berpesan sebagai sumber gizi penting untuk menjaga kesehatan. Pola makan sehat pun menjadi kebutuhan mendasar bagi kualitas hidup masyarakat, dan bahkan menjadi tren. Tapi, bagaimana sih pola konsumsi sayur penduduk Sulawesi Selatan (Sulsel)?

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan 2025, rata-rata pengeluaran warga di wilayah ini untuk membeli sayur-sayuran berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp13.000 per kapita dalam sepekan. Dan rupanya terdapat beberapa kabupaten/kota dengan tingkat konsumsi sayur tertinggi.

1. Kabupaten Toraja Utara tempati peringkat pertama pengeluaran untuk sayur se-Sulsel

Ilustrasi sayur mayur.
Ilustrasi sayur mayur, makanan sehat. (unsplash.com/Collab Media)

Data BPS pada tahun 2025 menunjukkan bahwa Toraja Utara menempati urutan pertama dengan rata-rata pengeluaran sayur mencapai Rp13.809 per pekan. Ini menunjukkan bahwa penduduk di wilayah pegunungan tersebut mengalokasikan dana lebih besar untuk sayuran ketimbang daerah lain di Sulsel. Hal tersebut bahkan tercermin dari tradisi kuliner mereka.

Posisi ini disusul ketat oleh wilayah perkotaan seperti Kota Makassar dengan angka Rp13.145 dan Luwu Timur sebesar Rp13.070. Tingginya angka di daerah-daerah ini menunjukkan bahwa masyarakat perkotaan dan wilayah industri cenderung memiliki akses atau daya beli yang lebih stabil terhadap berbagai jenis sayuran.

2. Tiga wilayah dengan pengeluaran terendah yakni Takalar, Jeneponto dan Bone

Ilustrasi sayur mayur.
Ilustrasi sayur mayur, makanan sehat. (unsplash.com/engin akyurt)

Kendati beberapa daerah catatkan angka pengeluaran di atas Rp10.000, masih banyak wilayah Sulsel yang berada di bawah ambang nominal tersebut. Di posisi terbawah (24), terdapat Kabupaten Bone (23) dengan rata-rata pengeluaran hanya sebesar Rp6.824 per pekan, diikuti oleh Jeneponto seharga Rp7.688.

Jarak pengeluaran antara Toraja Utara dan Bone yang mencapai dua kali lipat ini tunjukan adanya perbedaan gaya hidup dan prioritas belanja pangan yang mencolok antarwilayah. Kondisi serupa juga terlihat di Kabupaten Takalar yakni Rp7.884, atau menempati peringkat (22) dalam data statistik milik BPS.

3. Kesenjangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketergantungan pada hasil kebun mandiri

Ilustrasi kebun sayuran.
Ilustrasi kebun sayuran. (unsplash.com/peng weng)

Peringkat ini agaknya dipengaruhi adanya kesenjangan pola konsumsi yang cukup lebar, di mana sebagian masyarakat mungkin lebih bergantung pada hasil kebun mandiri atau memang memiliki tingkat konsumsi sayur lebih rendah. Fenomena ini jelas jadi catatan penting bagi upaya pemerataan akses gizi di seluruh kabupaten dan kota.

"Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketersediaan sayur, pola konsumsi masyarakat, hingga tingkat pendapatan rumah tangga. Meski demikian, sayur tetap menjadi sumber gizi penting yang berperan dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup masyarakat," demikian penjelasan BPS tentang data tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More