Hilal Belum Terlihat di Makassar, Awal Ramadan Menunggu Sidang Isbat

- Hasil pengamatan hilal dilaporkan ke pusat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan untuk pertimbangan sidang isbat nasional.
- Masyarakat diimbau merujuk pada keputusan pemerintah meski terdapat perbedaan metode penghitungan dan pengamatan antar ormas.
- Sidang isbat sebagai mekanisme resmi pemerintah untuk menentukan awal Ramadan dengan memperhatikan data astronomis, hisab, dan rukyat.
Makassar, IDN Times - Hasil pengamatan hilal di Makassar menunjukkan bulan belum terlihat sehingga penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat. Pemantauan berlangsung di Observatorium Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jalan Sultan Alauddin No. 259, Gunung Sari, Rappocini, Makassar, Selasa (17/2/2026).
Berdasarkan perhitungan astronomis, ketinggian hilal saat Matahari terbenam tercatat -1,439°, masih di bawah ufuk sehingga hampir tidak mungkin terlihat dengan mata. Umur bulan saat terbenam Matahari tercatat -2 jam 22 menit 52 detik yang menunjukkan fase bulan masih sebelum konjungsi.
Elongasi atau jarak sudut antara Bulan dan Matahari tercatat 1,92°, belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS yang menetapkan minimal 6,4°. Fraksi iluminasi bulan juga sangat tipis, hanya 0,01 persen sehingga hampir tidak tampak di langit Makassar.
1. Hasil pengamatan dilaporkan ke pusat

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, menegaskan bahwa hasil pengamatan ini akan dilaporkan ke pusat. Hasil tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat di tingkat nasional.
"Kalau kita lihat pengamatan dan perhitungan teknologi saat ini, baik dari Badan Hisab Rukyat (BHR) maupun BMKG Sulsel, wujud hilal saat terbenam matahari di Indonesia masih berada di posisi minus 1 derajat 5 menit. Jadi hampir mustahil bisa dirukyat," ungkapnya.
2. Masyarakat diimbau merujuk keputusan pemerintah

Ali Yafid mengatakan masyarakat diimbau tetap merujuk pada keputusan pemerintah. Hal ini penting meski terdapat perbedaan metode penghitungan dan pengamatan antar ormas.
"Persoalan perbedaan ini mudah-mudahan insyaallah tidak membuat masyarakat kita resah. Mungkin berbeda karena metodologi perhitungan, melihat, itu biasa saja, bukan persoalan, biasa saja di Indonesia," kata dia.
3. Sidang isbat sebagai mekanisme resmi

Ali Yafid menegaskan bahwa sidang isbat merupakan mekanisme resmi pemerintah untuk menentukan awal Ramadan dengan memperhatikan data astronomis, hisab, dan rukyat. Laporan dari seluruh titik pemantauan hilal di Indonesia, termasuk 96 lokasi pengamatan yang digelar secara serentak, juga dijadikan pertimbangan.
"Kalau kita lihat sejarah bangsa Indonesia, memang sidang isbat selalu jadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan dan perbedaan, tetapi Pemerintah dalam hal ini Kemenag berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari penting keagamaan," katanya.


















