Pernah Ramai Kini Sepi, Begini Kondisi Pasar Sentral Makassar Sekarang

- Pasar Sentral Makassar yang dulunya ramai kini tampak sepi, banyak kios tutup dan aktivitas pembeli hanya terpusat di area basement hingga lantai satu.
- Pedagang seperti Adel mengalami penurunan omzet signifikan setelah kebakaran 2022, dengan pendapatan harian kini hanya sekitar Rp1–2 juta dibandingkan masa lalu yang bisa mencapai Rp5 juta per hari.
- Pemerintah Kota Makassar menyiapkan rencana penataan ulang Pasar Sentral agar kembali menjadi sentra ekonomi rakyat dan pusat aktivitas UMKM di kota tersebut.
Makassar, IDN Times - Bagi sebagian warga Makassar, Pasar Sentral (New Makassar Mall) dulu menjadi tujuan utama saat berbelanja. Hampir semua kebutuhan tersedia, mulai dari pakaian, sepatu, hingga perlengkapan rumah tangga, dengan harga yang bisa ditawar langsung.
Suasana pasar yang padat, suara pedagang menawarkan barang, hingga interaksi antara penjual dan pembeli menjadi pengalaman khas yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern. Bahkan suara penjual obat pun terasa berbeda saat meneriakkan dagangannya.
Banyak warga datang bersama keluarga atau rombongan, bahkan dari luar daerah. Momen paling ramai biasanya saat tahun ajaran baru atau Lebaran. Ibaratnya, pasar ini merupakan tujuan untuk membeli segala kebutuhan.
Namun, aktivitas pasar ini tak lagi seramai dulu. Pasar yang pernah menjadi pusat pergerakan ekonomi warga Makassar kini terlihat lengang di sejumlah bagian.
Berdasarkan pantauan IDN Times, Kamis (9/4/2026), suasana di dalam gedung cenderung sepi, terutama di lantai-lantai atas. Sejumlah lorong tampak lengang tanpa lalu lalang pembeli. Banyak lapak terlihat kosong dan tutup, sementara beberapa yang masih beroperasi hanya didatangi segelintir pengunjung.
Aktivitas perdagangan lebih banyak terkonsentrasi di area basement, lantai dasar, dan lantai 1. Namun, di titik-titik tersebut pun, intensitas pembeli tidak merata. Beberapa kios terlihat aktif, sementara lainnya sepi tanpa transaksi.
1. Pedagang kini sepi pembeli

Adel, salah satu pedagang pakaian yang sudah berjualan sekitar 10 tahun di Pasar Sentral, merasakan langsung perubahan tersebut. Menurutnya, kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu.
"Dulu kalau minggu itu ada semua orang di atas. Sekarang kan ada di bawah itu lapak. Dulu kan kita menyatu toh. Jadi mungkin terpencar ini pembeli. Ada di lapak, ada di sini," kata Adel.
Lapak yang dimaksud Adel berada di luar bangunan utama Pasar Sentral, tepatnya di pinggir jalan sehingga lebih mudah diakses pembeli. Sementara kios miliknya berada di lantai 1 bagian dalam gedung, yang posisinya relatif kurang terlihat dari luar.
Dia menjelaskan perpindahan lokasi pedagang sejak kebakaran pada 2022 lalu turut memengaruhi pola kunjungan pembeli. Tak lama setelah insiden tersebut, para pedagang dialihkan ke Jalan HOS Cokroaminoto.
Saat ini, sejumlah pedagang telah kembali menempati lapak di dalam bangunan, termasuk Adel. Namun, saat berjualan di lapak pinggir jalan, aktivitas justru terasa lebih ramai dibandingkan setelah kembali ke dalam gedung.
"Lebih ramai dulu waktu di lapak. Banyak. Tidak bisa didapat di sini. Yang di jalan setelah kebakaran. Kan setelah kebakaran, kita keluar, dibangun ini. Di pinggir jalan, lebih ramai di situ. Setelah naik, tidak," katanya.
Dari sisi penjualan, Adel menyebut pendapatan harian juga tidak menentu. Dalam kondisi saat ini, omzet yang didapat berkisar antara Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari. Angka tersebut jauh di bawah capaian maksimal yang pernah dirasakan.
"Kadang ada, kadang tidak. Kadang sedikit, kadang ramai. Tidak tentu," kata Adel.
2. Omzet pedagang turun

Dalam kondisi yang lebih baik, Adel mengaku bisa meraih omzet sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per hari. Sementara pada momen hari raya, pendapatan bisa meningkat hingga Rp10 juta.
"Paling biasa 4-5 juta sehari. Kalau hari raya bisa sampai 10 juta," katanya.
Adel menyebut penjualannya masih mengandalkan pembeli langsung tanpa dukungan platform online atau siaran langsung di media sosial. Untuk menarik pembeli, dia sesekali memanfaatkan unggahan di Facebook.
"Jualan biasa saja. Tidak pakai online. Kita upload saja di Facebook atau datang begini kalau orang biasa mau belanja," katanya.
Dia juga menyebut sebagian besar pembeli berasal dari wilayah sekitar Makassar. Pembeli dari luar daerah tidak lagi sebanyak sebelumnya.
"Orang sini saja," ucapnya.
Dia mengaku senang jika pemerintah kota segera menghadirkan solusi atas kondisi tersebut. Dia juga merasakan langsung sepinya pembeli di pasar ini.
"Mau ditata bagaimana? Tapi semoga, karena ini sepi sekali kodong," katanya.
3. Pemkot siapkan penataan

Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengakui kondisi Pasar Sentral saat ini mengalami penurunan aktivitas dibandingkan masa lalu. Karena itu, pemerintah kota mulai mengkaji langkah untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.
"Kita melihat apa yang terjadi hari ini dan bagaimana kita bisa kembali mengaktivasi wilayah ini yang memang benar-benar diharapkan bahwa tempat ini bisa kembali menjadi sentra ekonomi rakyat yang ada di Kota Makassar," kata Munafri saat meninjau lokasi.
Munafri menilai Pasar Sentral dulunya merupakan ikon ekonomi kerakyatan yang menjadi tumpuan aktivitas masyarakat. Namun, kondisi saat ini menunjukkan perlunya penataan ulang dengan konsep baru.
"Ini dulu adalah ikon pergerakan ekonomi kerakyatan yang ada di Kota Makassar. Seluruh akses ekonomi masyarakat tertumpu di tempat ini," katanya.
Pemerintah kota berencana mengembangkan kembali kawasan tersebut dengan melibatkan seluruh pihak, termasuk pengelola dan pedagang. Salah satu fokus awal yaitu menghidupkan kembali aktivitas UMKM agar pergerakan ekonomi di dalam pasar kembali tumbuh.
"Intinya di sini minimal itu menjadi sentra UMKM untuk bisa memastikan para pengusaha-pengusaha yang ada di Kota Makassar untuk memiliki tempat yang layak, memiliki tempat yang sama, kita siapkan ini," kata Munafri.
Dia berharap Pasar Sentral dapat kembali ramai melalui penataan dan konsep baru yang disiapkan. Pasar ini juga diharapkan kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi seperti sebelumnya.
"Mudah-mudahan ini bisa mencapai kata sepakat untuk kembali mengaktivasi lokasi ini dengan baik," katanya.

















