Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Angka Stunting di Sangkarrang Tinggi Meski Daerah Penghasil Ikan

Angka Stunting di Sangkarrang Tinggi Meski Daerah Penghasil Ikan
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Share Article

Makassar, IDN Times - Jumlah prevalensi stunting di Kecamatan Kepulauan Sangkarrang  Kota Makassar cukup tinggi. Padahal wilayah ini dikenal sebagai daerah penghasil ikan di mana sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar, angka prevalensi stunting di kecamatan tersebut sebesar 5,45 persen. Kecamatan ini menempati urutan kedua setelah Kecamatan Bontoala dengan angka 5,98 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Nursaidah Sirajuddin, mengungkapkan hal itu ditengarai karena masyarakatnya lebih memilih menjual ikan tangkapannya alih-alih mengkonsumsinya sendiri. Padahal ikan menjadi salah satu makanan yang mampu mencegah stunting. 

"Seharusnya tidak ada stunting karena penghasil ikan. Rupanya mereka penghasil ikan tapi mereka ekspor. Jadi dia jual dia tidak makan," kata Nursaidah, Senin (11/12/2023).

1. Ikan banyak dikonsumsi oleh masyarakat mampu

Hasil tangkapan ikan nelayan. ANTARA FOTO/Rahmad
Hasil tangkapan ikan nelayan. ANTARA FOTO/Rahmad

Meski terhitung masih menjadi yang tertinggi, namun kasus stunting di Sangkarrang telah menurun secara sistematis. Setidaknya, tahun ini Sangkarrang menempati urutan kedua dari tahun lalu menempati urutan pertama.

Ida menegaskan bahwa ikan justru banyak dikonsumsi oleh kalangan masyarakat mampu. Hal ini miris mengingat bahwa Makassar merupakan wilayah maritim yang seharusnya masyarakat bisa menikmati ikan.

"Tapi sebenarnya stunting ini tidak hanya di kawasan kumuh saja, biar berduit kalau pemberian gizinya tidak bagus itu sama saja," kata Nursaidah.

2. Konsumsi ikan dianjurkan untuk semua kalangan

Foto hanya ilustrasi. ANTARA FOTO/Arnas Padda
Foto hanya ilustrasi. ANTARA FOTO/Arnas Padda

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Makassar, Sunarti, mengatakan pihaknya masih terus menyosialisasi soal gemar makan ikan. Sosialisasi ini dimasifkan di puskesmas-puskesmas.

"Edukasi ini terus kita tingkatkan. Bagaimana caranya memberikan pengertian ke orang tua balita untuk mementingkan gizi anaknya," katanya.

Dia mengatakan bahwa mengonsumsi ikan sangat dianjurkan untuk semua kalangan. Apalagi ikan merupakan sumber protein yang sangat mudah ditemui di Makassar.

Sayangnya masih banyak masyarakat yang menganggap ikan sebagai makanan kelas dua. Padahal sebagian besar masyarakat kalangan menengah ke atas telah menganggap ikan sebagai asupan wajib karena kaya gizi.

"Ini kan banyak, bisa yang murah-murah saja, ikan, telur, kemudian ditambah dengan sayur divariasikan," katanya.

3. Prevalensi stunting semua kecamatan di Makassar

Ilustrasi pertumbuhan anak stunting (pexels)
Ilustrasi pertumbuhan anak stunting (pexels)

Adapun angka prevalensi stunting di Kota Makassar tahun 2023 di setiap kecamatan berdasarkan urutan tertinggi hingga terendah. Di posisi pertama ada Kecaman Bontoala (5,98 persen). Posisi kedua Sangkarrang (5,45 persen) dan ketiga Tamalate (4,40 persen).

Selanjutnya, Tallo (4,05 persen), Panakkukang (3,50 persen), Rappocini (3,39), Tamalanrea (3,30 persen), dan Biringkanayya (3,27 persen). Kemudian, Mariso (2,56 persen), Ujung Tanah (2,53 persen), Wajo (2,50 persen), Manggala (2,35 persen), Kecamatan Makassar (1,54 persen) dan Mamajang (0,56 persen).

Share Article
Topics
Editorial Team
Ashrawi Muin
Aan Pranata
Ashrawi Muin
EditorAshrawi Muin

Latest News Sulawesi Selatan

See More

Polisi Tangkap Remaja Pembunuh-Pemerkosa Siswi SD di Makassar

27 Mei 2026, 17:36 WIBNews