Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AJI Indonesia Bekali Jurnalis Pahami Sumber Terbuka dan Disinformasi
Workshop Sumber Terbuka dan Disinformasi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen Indonesia di Hotel Vasaka Makassar, Minggu (12/4/2026). (Dok. AJI Makassar)
  • AJI Indonesia mengadakan workshop dua hari di Makassar untuk membekali jurnalis memahami sumber terbuka dan menangkal disinformasi, dengan dukungan Uni Eropa serta Internews melalui program IPMR.
  • Perwakilan Uni Eropa menyoroti kompleksitas tantangan jurnalisme digital, termasuk penggunaan AI dan love scam, serta pentingnya verifikasi informasi sebelum publikasi agar tidak ikut menyebarkan disinformasi.
  • Perwakilan Kedutaan Polandia menegaskan disinformasi dapat menggiring opini publik dan memengaruhi stabilitas negara, sehingga masyarakat perlu berpikir kritis dalam menyaring informasi dari media asing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak wartawan datang ke Makassar untuk belajar dua hari tentang cara mencari berita yang benar. Mereka diajari oleh AJI Indonesia dan AJI Makassar, dibantu Uni Eropa dan Internews. Ada orang namanya Sahrul yang bilang wartawan harus hati-hati karena banyak berita palsu di internet. Orang dari Uni Eropa juga bilang semua orang harus pandai memeriksa kebenaran berita supaya tidak salah sebar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menggelar workshop bertajuk Sumber Terbuka dan Disinformasi yang diikuti puluhan jurnalis dari berbagai daerah. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 11-12 April 2026, di Hotel Vasaka Makassar.

Peserta berasal dari sejumlah kota di kawasan timur Indonesia, seperti Makassar, Manado, Palu, dan Gorontalo. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara AJI Indonesia dan AJI Makassar, dengan dukungan Uni Eropa serta Internews melalui program Indo-Pacific Media Resilience (IPMR).

Ketua AJI Makassar, Sahrul Ramadan, mengatakan di tengah maraknya disrupsi informasi, jurnalis memiliki tanggung jawab besar menelusuri informasi yang benar berdasarkan data dan fakta. Hal tersebut terutama berlaku untuk isu-isu krusial yang berkaitan dengan kepentingan publik.

"Meskipun singkat namun kegiatan dua hari ini membekali para jurnalis, baik reporter maupun editor untuk bagaimana memahami metode penelusuran sumber informasi yang benar dan akurat kemudian dikemas menjadi berita," kata Sahrul. 

1. Jurnalis dituntut peka di tengah arus informasi

Puluhan jurnalis mengikuti Workshop Sumber Terbuka dan Disinformasi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen Indonesia di Hotel Vasaka Makassar, Minggu (12/4/2026). (Dok. AJI Makassar)

Sahrul juga menyoroti tantangan yang dihadapi jurnalis di tengah maraknya informasi yang tidak terverifikasi. Kondisi ini semakin terasa, terutama dengan derasnya arus informasi di media sosial.

Jurnalis dituntut lebih peka membaca situasi di tengah derasnya arus informasi, terutama yang beredar di media sosial. Berbagai bentuk seperti disinformasi, misinformasi, hingga malinformasi menjadi persoalan yang perlu ditelusuri untuk memastikan kebenarannya.

"Seluruh muatan materi dalam rangkaian kegiatan ini tentu akan menjadi suplemen atau bekal pengetahuan tambahan bagi jurnalis dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya," tegasnya. 

2. Tantangan jurnalisme makin kompleks di era digital

Igor Pronobis dari Uni Eropa memaparkan tantangan disinformasi di era digital dalam workshop yang digelar Aliansi Jurnalis Independen Indonesia di Hotel Vasaka Makassar, Minggu (12/4/2026). (Dok. AJI Makassar)

Perwakilan Uni Eropa, Igor Pronobis, menilai saat ini kita hidup di era informasi. Karena itu, setiap individu perlu terus meningkatkan keterampilan untuk menghasilkan informasi yang akurat.

"Uni Eropa menjadi salah satu pihak yang lebih dulu menginisiasi berbagai upaya dalam menghadapi ancaman disinformasi ini," katanya. 

Dia juga menyoroti kompleksitas tantangan jurnalisme yang terus berkembang seiring kemajuan platform digital seperti Instagram dan berbagai media lainnya. Dia menyebut fenomena seperti penggunaan kecerdasan buatan dalam produksi konten hingga penipuan berbasis relasi emosional (love scam) menjadi bagian dari tantangan tersebut.

"Sering kali kita merasa tidak akan terdampak oleh disinformasi. Padahal tanpa disadari, kita bisa saja turut terlibat dalam penyebaran disinformasi yang berasal dari luar negeri," katanya. 

Menurut Igor, verifikasi informasi sebelum dipublikasikan menjadi langkah krusial bagi jurnalis. Karena itu, setiap informasi perlu dipastikan kebenarannya sebelum dibagikan ke publik.

"Pelatihan ini dirancang untuk memberikan keterampilan dan alat yang diperlukan dalam mengidentifikasi serta menangani disinformasi, bukan justru ikut menyebarkannya," katanya.

3. Disinformasi berpotensi memengaruhi opini publik

Ecelino Lonescu dari Kedutaan Polandia di Jakarta menyoroti ancaman disinformasi dalam Workshop Sumber Terbuka dan Disinformasi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen Indonesia di Hotel Vasaka Makassar, Minggu (124/2026). (Dok. AJI Makassar)

Sementara itu, perwakilan Kedutaan Polandia di Jakarta, Ecelino Lonescu, menyoroti praktik pengambilan informasi dari media asing yang kerap mengandung kekeliruan. Pemerintah Polandia menekankan perlunya menangkal disinformasi karena informasi yang salah sering dimanfaatkan untuk menggiring opini publik demi kepentingan tertentu.

"Disinformasi bisa diibaratkan sebagai kebohongan yang masuk ke ruang pribadi masyarakat untuk mengambil keuntungan," katanya. 

Sejumlah contoh menunjukkan pemberitaan media asing tentang Indonesia yang berpotensi memengaruhi stabilitas negara. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh.

Hal ini menjadi semakin krusial bagi negara demokratis seperti Indonesia. Jika pilihan publik dipengaruhi pihak asing melalui disinformasi, maka kondisi tersebut berisiko mengarahkan masyarakat pada keputusan yang keliru.

Misalnya, platform seperti Narasi Newsroom hadir sebagai kanal yang memberikan contoh praktik disinformasi. Platform tersebut sekaligus memberi edukasi tentang cara disinformasi digunakan untuk memengaruhi persepsi publik.

"Dalam menghadapi berbagai narasi, masyarakat diharapkan tidak sekadar membandingkan, tetapi juga mampu berpikir kritis sebelum mengambil kesimpulan," kata Ecelino.

Editorial Team