TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Majukan Pendidikan Lombok Tengah NTB, Disdik Gelar Rembuk Virtual

Tingkat literasi dan numerasi pendidikan dasar jadi sorotan

Tangkapan layar kegiatan daring Rembuk Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah yang diadakan pada hari Kamis (5/6/2020) kemarin. (Dok. Istimewa/INOVASI)

Makassar, IDN Times - Upaya meningkatkan kualitas pendidikan dasar masih menjadi misi utama pemangku kebijakan, kendati pandemik COVID-19 membatasi ruang gerak. Namun keterbatasan tak menghalangi Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggodok proses tersebut.

Pada hari Kamis, 5 November 2020 kemarin, sebuah pertemuan daring bertajuk Rembuk Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah digelar. Bertindak sebagai penyelenggara, Disdik Lombok Tengah membahas persoalan mendasar plus mencari solusi bersama para perwakilan sekolah dan penggerak pendidikan anak.

Dalam rembuk daring tersebut, mereka sepakat bahwa beberapa kelompok anak di Kabupaten Lombok Tengah masih sulit mengembangkan kemampuan literasi dan numerasi (analisa perhitungan). Semua sepakat bahwa pendekatan sistematis dan partisipatif yang melibatkan banyak pihak harus diambil demi mengatasi masalah utama.

Masalah juga ada di dalam rumah dan lapangan. Kesadaran orang tua dan keluarga dalam mendukung pendidikan anak diakui masih rendah. Sedangkan jumlah buku bacaan untuk meningkatkan minat baca juga masih minim.

Beberapa alternatif pun dibicarakan dalam pertemuan daring Kamis kemarin. Solusi yang ditawarkan berasal dari pengalaman dan praktik para pengajar di lapangan, dalam upaya meningkatkan literasi-numerasi di anak-anak.

Salah satunya yakni Beatriks Ningsih, Kepala Sekolah SDK Kalelapa di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia membagi cerita peirhal program reading camp di sekolah binaannya. Strategi membagi siswa ke dalam beberapa kelompok berdasarkan kemampuan membaca terbukti berhasil.

1. Mencari cara meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Lombok Tengah

Tangkapan layar kegiatan daring Rembuk Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah yang diadakan pada hari Kamis (5/6/2020) kemarin. (Dok. Istimewa/INOVASI)

Selain itu, beberapa prioritas utama bidang pendidikan turut dipetakan. Mulai dari program pelatihan guru dan kepala sekolah belum efektif dan merata, data relevan untuk dasar pembuatan kebijakan yang belum tersedia, tuntutan kurikulum nasional dianggap kurang adaptif dengan kondisi peserta didik dan pengajar, plus permasalahan administrasi.

Baca Juga: Pasutri Hindu dan Budha Lombok Utara Belum Punya Akta Nikah

2. Pelatihan secara daring disebut menjadi solusi tepat untuk meningkatkan kapasitas guru di masa pandemik yang serba terbatas

Suasana pelatihan guru pendidikan dasar yang dilakukan oleh program rintisan SETARA di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa tahun lalu. (Dok. Istimewa/INOVASI)

Sementara itu, Lalu Jazuli dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah bercerita pelatihan KKG (Kegiatan Kolektif Guru) Online di lima kecamatan beberapa waktu lalu. "Pelatihan daring tersebut adalah alternatif peningkatan kapasitas guru yang efektif dan efisien, khususnya dimasa-masa pendemi seperti ini," jelas Lalu dalam rilis yang diterima IDN Times, Kamis, 5 November 2020.

Jazuli menjelaskan bahwa KKG Online yang diadakan bersama pihak Innovation for Indonesi's School Children (INOVASI), mitra Disdik Lombok Tengah sejak 2017, membawa banyak perubahan bagi para guru yang terlibat.

INOVASI, program kerjasama Indonesia dan Australia, turut membagikan sejumlah inspirasi solusi pada pertemuan tersebut. Muhtar Ahmad selaku District Coordinator Program INOVASI untuk Kabupaten Lombok Tengah pun memaparkan praktik bidang literasi, numerasi dan inklusi.

Para peserta Rembuk ikut memberi pandangan terkait alternatif solusi. Kepala seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah, Syafrudin, mengatakan alternatif solusi yang dipaparkan sudah relevan dengan kebutuhan di wilayahnya. Pelatihan KKG Online menurutnya bisa dikembangkan, apalagi semua pengajar sudah memiliki ponsel pintar sebagai perangkat pendukung aktivitas.

Baca Juga: JMK-Oxfam Ajak Jurnalis Sulteng Peka Isu Gender dalam Pemberitaan

Berita Terkini Lainnya