Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Unik Tikus Boki, Predator Kecil Endemik Sulawesi yang Ternyata Karnivora

boki sulawesi
boki sulawesi (Kevin C Rowe and Museum Victoria, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Dunia fauna Indonesia memang tidak ada habisnya memberikan kejutan. Di pedalaman hutan pegunungan Sulawesi, para ilmuwan menemukan sesuatu yang sama sekali baru dan sukses membuat banyak orang terheran-heran. Bukan sekadar tikus biasa, boki sulawesi atau tikus hidung babi punya penampilan yang jauh dari kata lazim, seolah karakter dari film fantasi yang melompat ke dunia nyata. Penemuannya terjadi pada 2013, namun baru diumumkan secara resmi ke publik pada 2015 setelah melalui serangkaian penelitian mendalam.

Spesies yang kemudian diberi nama ilmiah Hyorhinomys stuempkei ini ditemukan oleh tim gabungan peneliti internasional dari Museum Victoria Australia, Louisiana State University, dan tentu saja, Museum Zoologicum Bogoriense dari Indonesia. Mereka menemukannya di pegunungan terpencil Pulau Sulawesi, sebuah pulau yang memang dikenal sebagai "laboratorium" evolusi alami karena keunikan hayatinya. Penemuan ini bukan hanya menambah daftar spesies baru, tapi juga membuka satu genus baru dalam taksonomi mamalia.

1. Punya hidung besar berwarna pink seperti babi

boki sulawesi
boki sulawesi (Kevin C Rowe and Museum Victoria, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Ciri fisik yang paling pertama mencuri perhatian dari hewan ini adalah hidungnya. Berbeda total dari tikus yang biasa kita kenal, boki sulawesi memiliki hidung yang besar, rata, datar, dan berwarna merah muda alias pink, sangat mirip dengan moncong babi. Karena keunikannya inilah, para ilmuwan yang mendeskripsikannya dalam Journal of Mammalogy memberinya julukan "Sulawesi snouter" atau "si moncong dari Sulawesi".

Nama genusnya, Hyorhinomys, juga diambil dari ciri khas ini. Dilansir Sci.News, nama tersebut merupakan gabungan dari tiga kata Yunani: 'hyo' yang berarti babi, 'rhino' yang berarti hidung, dan 'mys' yang berarti tikus. Jadi, secara harfiah namanya memang berarti "tikus hidung babi". Penampilannya yang unik ini merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan cara mencari makannya di lantai hutan yang lembap.

2. Gigi seri bawahnya sangat panjang hingga tak bisa mingkem

boki sulawesi
boki sulawesi (Kevin C Rowe and Museum Victoria, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Keunikan hewan ini tidak berhenti di hidung saja. Coba intip bagian mulutnya, kamu akan menemukan sepasang gigi seri bawah yang luar biasa panjang dan berwarna putih. Gigi ini tumbuh jauh melebihi panjang rahangnya, membuatnya terlihat seolah selalu memamerkan giginya. Kondisi ini membuatnya secara fisik tidak bisa menutup mulutnya dengan rapat atau mingkem.

Meskipun terlihat aneh, struktur gigi ini bukanlah tanpa fungsi. Gigi seri yang panjang ini menjadi alat utama bagi si tikus hidung babi untuk berburu mangsa. Ia menggunakannya seperti sekop atau pinset untuk menangkap mangsanya di dalam tanah yang gembur. Makanan utamanya adalah cacing tanah dan larva kumbang, yang teksturnya lunak dan tidak memerlukan proses mengunyah yang rumit.

3. Ternyata seekor karnivora yang tidak perlu mengunyah kuat

boki sulawesi
boki sulawesi (Kevin C Rowe and Museum Victoria, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Jika mendengar kata "tikus", mungkin yang terlintas adalah hewan pengerat pemakan segala. Namun, boki sulawesi mendobrak citra tersebut. Ia adalah seekor karnivora sejati, atau lebih spesifiknya insektivora, karena menu hariannya hanya terdiri dari hewan-hewan kecil seperti larva atau terkadang memakan cacing. Menu yang sangat spesifik ini juga memengaruhi evolusi bentuk rahangnya.

Menurut laporan Sci.News, para peneliti menemukan fakta anatomi yang sangat ganjil pada spesies ini. Ia sama sekali tidak memiliki bagian tulang rahang yang disebut coronoid process. Bagian ini adalah titik penting tempat menempelnya otot-otot pengunyah pada mamalia. Hilangnya bagian ini mengindikasikan bahwa otot rahangnya sangat lemah, karena ia memang tidak butuh mengunyah dengan kuat. Cukup menusuk, menangkap, lalu menelan mangsanya yang lunak.

4. Memiliki rambut kemaluan yang panjang dan lebat

boki sulawesi
boki sulawesi (Kevin C Rowe and Museum Victoria, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Selain hidung dan gigi, ada satu lagi ciri fisik yang membuat para peneliti, seperti yang dilaporkan Mongabay, cukup terkejut. Hewan ini memiliki rambut urogenital—atau lebih dikenal sebagai rambut kemaluan—yang sangat panjang dan lebat. Fitur ini sama sekali tidak umum ditemukan pada spesies tikus lainnya dan fungsinya hingga kini masih menjadi misteri yang menarik bagi para ilmuwan.

Beberapa spekulasi muncul terkait fungsi rambut unik ini. Ada yang menduga ini berkaitan dengan strategi reproduksi, perlindungan dari lingkungan yang lembap, atau bahkan sebagai penanda sensorik. Dengan bobot sekitar 250 gram dan panjang tubuh mencapai 45 sentimeter, fitur rambut kemaluan yang panjang ini menjadi salah satu penanda identifikasi utama selain bentuk hidungnya yang khas.

5. Penemuannya menciptakan genus dan spesies baru sekaligus

ilustrasi hutan
ilustrasi hutan (pixabay.com/LUM3N)

Penemuan boki sulawesi bukan sekadar penambahan satu spesies baru. Dilansir Animalia.bio, keunikan morfologinya sangat berbeda dari tikus-tikus lain yang pernah ditemukan sehingga para ilmuwan harus menciptakan satu "folder" klasifikasi baru untuknya. Dalam ilmu biologi, folder ini disebut genus. Artinya, ia begitu istimewa hingga tidak bisa dimasukkan ke dalam kelompok tikus yang sudah ada.

Spesies ini ditemukan di Gunung Dako, Kabupaten Tolitoli, pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Kehadirannya menjadi bukti betapa kayanya keanekaragaman hayati Sulawesi yang masih banyak menyimpan rahasia. Penemuan ini memperkaya daftar tikus-celurut di Sulawesi menjadi 8 spesies dalam 6 genus, menegaskan status pulau ini sebagai salah satu pusat endemisme fauna terpenting di dunia.

Penemuan boki sulawesi menjadi pengingat bahwa alam Indonesia masih menyimpan banyak sekali misteri yang menunggu untuk diungkap. Keberadaannya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan menunjukkan betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan-hutan kita yang menjadi rumah bagi makhluk-makhluk unik seperti si tikus hidung babi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest Life Sulawesi Selatan

See More

5 Fakta Unik Tikus Boki, Predator Kecil Endemik Sulawesi yang Ternyata Karnivora

03 Jan 2026, 11:35 WIBLife