5 Fakta Tarsius Tangkasi, Primata Setia Bermata Besar dari Sulawesi

Keheningan hutan malam di Pulau Selayar, Sulawesi, pecah oleh suara-suara mungil yang saling bersahutan. Ini bukan sekadar panggilan biasa, melainkan simfoni dari salah satu primata paling unik di dunia, tarsius tangkasi (Tarsius tarsier). Makhluk kecil ini adalah penjelajah malam yang lincah, dengan sepasang mata raksasa yang seolah menyimpan seluruh misteri kegelapan hutan. Keberadaannya menjadi bukti kekayaan hayati luar biasa yang dimiliki Indonesia.
Banyak yang mungkin terkecoh dengan ukurannya yang imut, namun jangan salah, tarsius tangkasi adalah predator tangguh di dunianya. Dari cara ia berburu, berkomunikasi, hingga merawat anak-anaknya, semuanya menunjukkan adaptasi evolusioner yang luar biasa. Sayangnya, primata yang juga dikenal sebagai spectral tarsier ini menghadapi masa depan yang tak menentu akibat habitatnya yang terus tergerus. Yuk, kenali lebih dekat sosok mungil yang memesona ini!
1. Matanya yang super besar ternyata lebih berat dari otaknya sendiri

Salah satu hal pertama yang pasti mencuri perhatian siapa pun saat melihat tarsius adalah matanya. Ukuran matanya benar-benar tidak proporsional jika dibandingkan dengan tubuhnya yang hanya sekitar 9,5 hingga 14 sentimeter. Dilansir Animal Diversity Web, saking besarnya, setiap bola mata tarsius bahkan memiliki bobot yang lebih berat daripada otaknya sendiri. Ukuran masif ini adalah modal utamanya untuk berburu di tengah kegelapan pekat.
Uniknya, mata raksasa ini tidak bisa melirik ke kanan atau kiri karena terpaku di rongganya. Namun, alam memberinya solusi yang lebih keren. Untuk mengamati sekelilingnya, tarsius tangkasi mampu memutar kepalanya hingga 180 derajat ke setiap sisi, mirip seperti burung hantu. Kemampuan ini memungkinkannya memindai lingkungan untuk mencari mangsa atau mewaspadai predator tanpa harus menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Ini adalah sebuah adaptasi sempurna untuk gaya hidupnya sebagai pemburu malam.
2. Kaki panjangnya adalah adaptasi super untuk melompat dari pohon ke pohon

Jangan tertipu oleh tubuhnya yang mungil, tarsius tangkasi adalah atlet lompat yang luar biasa. Ia bergerak dari satu pohon ke pohon lain dengan cara melompat, sebuah metode gerak yang disebut saltatorial. Kemampuannya ini sangat ekstrem, di mana ia tercatat dapat melompat sejauh lebih dari 40 kali panjang tubuhnya dalam sekali lompatan. Gerakannya yang cepat dan senyap menjadikannya sulit dideteksi oleh mangsa maupun pemangsa.
Rahasia di balik kemampuan atletiknya ini terletak pada anatomi kakinya yang unik. Tulang tibia dan fibula (tulang kering dan betis) pada kaki belakangnya menyatu, berfungsi sebagai peredam kejut yang efektif saat ia mendarat. Selain itu, tulang tarsal atau tulang pergelangan kakinya sangat memanjang, yang menjadi asal-usul dari namanya, "tarsius". Struktur kaki inilah yang memberinya kekuatan tolakan dahsyat untuk melesat di antara pepohonan hutan Sulawesi.
3. Tarsius tangkasi adalah pemburu malam yang gesit dan pemakan serangga

Dengan penampilannya yang imut, banyak yang mengira tarsius adalah pemakan buah. Faktanya, mereka adalah karnivora sejati, atau lebih spesifiknya, insektivora. Makanan mereka seratus persen berasal dari hewan hidup. Menurut data dari Animal Diversity Web dan Animalia.bio, mangsa utamanya adalah serangga terbang seperti ngengat, belalang, kumbang, dan jangkrik. Sesekali, mereka juga tak ragu menyantap vertebrata kecil seperti cicak atau bahkan kelelawar.
Gaya berburu mereka sangat khas, yaitu dengan metode penyergapan atau ambush. Tarsius akan diam di dahan, mengandalkan telinganya yang tipis dan dapat bergerak independen untuk mendeteksi lokasi mangsa. Begitu target terkunci, ia akan melompat secara tiba-tiba, menangkap mangsa dengan jari-jari panjangnya, lalu membunuhnya dengan gigitan tajam. Dalam sehari semalam, tarsius bisa mengonsumsi makanan setara 10% dari total berat badannya.
4. Bayi tarsius adalah salah satu yang terbesar di dunia mamalia dibanding tubuh induknya

Proses reproduksi tarsius tangkasi juga tak kalah menakjubkan. Betina melahirkan dua kali dalam setahun setelah melewati masa kehamilan sekitar enam bulan. Setiap kelahiran hanya menghasilkan satu ekor bayi. Namun, bayi yang lahir ini adalah bayi "super". Bayi tarsius tercatat sebagai salah satu bayi mamalia terbesar di dunia jika dibandingkan dengan ukuran tubuh induknya. Bobotnya saat lahir bisa mencapai 22% dari berat badan sang induk.
Bayi tarsius juga tergolong precocial, sebuah istilah untuk menyebut hewan yang sudah sangat berkembang saat lahir. Mereka lahir dengan mata terbuka, tubuh berbulu lengkap, dan bahkan sudah bisa memanjat di hari pertama kehidupannya. Sang induk akan merawat bayinya dengan cara yang unik. Selama tiga minggu pertama, ia akan membawa anaknya dengan mulutnya. Saat berburu, sang induk akan "memarkirkan" atau menyimpan bayinya di dahan pohon yang aman selagi ia mencari makan.
5. Meski tampak melimpah, statusnya rentan karena perusakan hutan

Meskipun tarsius tangkasi masih cukup melimpah di beberapa lokasi di Sulawesi, masa depan mereka tidaklah aman. Lembaga konservasi dunia, IUCN, telah memasukkan spesies ini ke dalam kategori Rentan (Vulnerable). Menurut laman Animalia.bio, ancaman terbesar yang mereka hadapi adalah hilangnya habitat akibat pembalakan liar, pembukaan lahan untuk pertanian dan pertambangan, serta penggunaan pestisida.
Secara spesifik, Animal Diversity Web menyoroti bahwa aktivitas pembalakan sering kali menghancurkan pohon-pohon ara, yang merupakan lokasi tidur favorit bagi tarsius. Hilangnya tempat berlindung yang aman ini secara langsung berdampak pada kelangsungan hidup populasi mereka. Selain itu, perburuan untuk dijadikan hewan peliharaan ilegal juga menjadi ancaman serius bagi primata bermata besar ini.
Keunikan tarsius tangkasi adalah permata bagi belantara Indonesia yang wajib kita jaga bersama. Kelestarian mereka bergantung pada kesehatan hutan yang menjadi rumahnya. Sudah sepatutnya kita lebih peduli terhadap nasib satwa-satwa endemik seperti mereka.
referensi:
https://www.mammaldiversity.org/taxon/1000926/
https://animalia.bio/spectral-tarsier?endemic=7
https://animaldiversity.org/accounts/Tarsius_tarsier/
https://www.iucnredlist.org/species/21491/9288932


















