9 Jajanan Tradisional Makassar yang Mulai Sulit Ditemukan, Pernah Coba?

- Kota Makassar memiliki beragam jajanan tradisional seperti barongko, putu cangkiri, dan cucuru yang dulu mudah ditemui di pasar atau acara keluarga, namun kini mulai langka.
- Berkurangnya penjual dan generasi penerus pembuat kue tradisional membuat banyak jajanan khas Bugis-Makassar perlahan menghilang dari keseharian warga.
- Setiap jajanan menyimpan nilai budaya dan sejarah kuliner lokal, menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan rasa agar tidak hilang di tengah tren makanan modern.
Kota Makassar dikenal luas lewat kuliner berat seperti coto, konro, atau pallubasa. Namun di balik itu, Makassar juga punya warisan jajanan tradisional yang dulu sangat akrab di keseharian warganya.
Sebagian besar jajanan ini dulu mudah ditemui di pasar pagi, dijajakan keliling dari kampung ke kampung, atau hadir dalam acara keluarga. Kini, banyak yang mulai jarang terlihat. Ada yang kalah bersaing dengan makanan modern, ada pula yang mulai kehilangan generasi pembuatnya.
Padahal, tiap kue dan jajanan tradisional ini menyimpan cerita panjang tentang kebiasaan makan, tradisi, dan identitas budaya Bugis-Makassar. Berikut beberapa jajanan lawas yang kini mulai sulit ditemukan.
1. Barongko, kue lembut yang dulu jadi hidangan bangsawan

Barongko adalah salah satu kue tradisional paling tua dan ikonik di Sulawesi Selatan. Kue ini dibuat dari pisang matang yang dihaluskan, lalu dicampur santan, telur, gula, dan sedikit garam sebelum dibungkus daun pisang dan dikukus.
Teksturnya lembut seperti puding, dengan aroma pisang dan daun pisang yang khas. Dulu, barongko dikenal sebagai sajian keluarga bangsawan Bugis dan sering dihidangkan dalam acara penting, termasuk pernikahan dan jamuan tamu.
Kini, barongko masih ada, tetapi lebih banyak dibuat berdasarkan pesanan atau muncul saat Ramadan. Di pasar tradisional, jumlah penjualnya semakin sedikit karena proses pembuatannya cukup memakan waktu.
2. Putu Cangkiri, kue mungil yang dulu jadi teman kopi pagi

Putu Cangkiri adalah jajanan sederhana berbahan tepung beras yang dicampur gula merah, lalu dikukus dalam cetakan kecil. Setelah matang, kue ini biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut.
Nama “cangkiri” berasal dari bentuk cetakannya yang menyerupai cangkir kecil. Dulu, putu cangkiri sangat umum dijual di pasar pagi dan jadi teman minum kopi atau teh bagi warga Makassar.
Rasanya ringan, manis, dan gurih. Namun sekarang, putu cangkiri mulai sulit ditemui karena sedikit penjual yang masih mempertahankan cara membuatnya secara tradisional.
3. Cucuru, kue goreng manis dengan tekstur khas

Cucuru mungkin terlihat sederhana, tapi punya ciri khas yang sulit ditiru. Dibuat dari campuran tepung beras dan gula merah, adonannya digoreng hingga menghasilkan bagian pinggir yang renyah dan bagian tengah yang tebal serta lembut.
Di banyak rumah Bugis-Makassar, cucuru dulu hampir selalu ada saat sore hari atau ketika menyambut tamu. Kue ini juga sering dibawa sebagai bekal perjalanan karena tahan cukup lama.
Sekarang, cucuru lebih sering dibuat sendiri di rumah daripada dijual bebas. Penjualnya semakin jarang, terutama di kawasan perkotaan.
4. Buroncong, kue sarapan yang dulu banyak dijual di pinggir jalan

Buroncong adalah salah satu kue tradisional khas Makassar yang paling identik dengan suasana pagi. Bahan utamanya tepung terigu, santan, gula, dan kelapa parut, lalu dimasak menggunakan cetakan khusus mirip kue pukis.
Buroncong punya tekstur padat, sedikit kenyal, dengan rasa manis gurih. Biasanya paling nikmat dimakan saat masih hangat bersama kopi hitam.
Dulu, penjual buroncong mudah ditemukan di sudut-sudut jalan atau pasar tradisional. Kini jumlahnya terus berkurang, terutama karena proses memasaknya cukup lama dan pembelinya tak sebanyak dulu.
5. Roko-roko Unti, jajanan pisang yang sederhana tapi mengenyangkan

Roko-roko Unti adalah kue tradisional berbahan pisang yang dibungkus adonan tepung beras, lalu dibalut daun pisang dan dikukus. Bentuknya sekilas mirip nagasari, tetapi dengan karakter rasa yang lebih sederhana.
Dulu, roko-roko unti sering jadi bekal sekolah atau camilan sore karena mudah dibuat dan mengenyangkan. Pisang yang digunakan biasanya pisang kepok yang matang, memberi rasa manis alami.
Sekarang, jajanan ini mulai kalah populer dibanding olahan pisang lain seperti pisang ijo atau pisang epe yang lebih dikenal wisatawan.
6. Taripang, kue renyah yang identik dengan hari raya

Taripang adalah jajanan tradisional berbahan tepung beras dan gula merah yang digoreng hingga kering. Teksturnya renyah di luar dengan rasa manis legit.
Kue ini dulu hampir selalu ada saat Lebaran di rumah-rumah warga Makassar dan Bugis. Selain jadi suguhan tamu, taripang juga sering dibawa sebagai bekal perjalanan jauh karena tahan lama.
Kini, taripang lebih sering dibuat musiman. Di luar momentum hari raya, cukup sulit menemukan penjual yang masih memproduksinya.
7. Baje, manis lengket yang dulu jadi oleh-oleh kampung
Baje adalah jajanan berbahan ketan, gula merah, dan kacang tanah. Bentuknya dipotong kotak-kotak dengan tekstur padat, lengket, dan sangat manis.
Dulu, baje adalah salah satu oleh-oleh wajib dari kampung atau pasar tradisional. Banyak keluarga membuatnya sendiri saat panen ketan atau untuk acara keluarga besar.
Meski masih ada, baje kini lebih sering diproduksi skala kecil. Kehadirannya mulai kalah oleh oleh-oleh modern yang lebih praktis dan tahan lama.
8. Sikaporo, kue lembut berbahan santan yang makin jarang dikenal

Sikaporo adalah kue tradisional yang dibuat dari campuran santan, telur, tepung, dan gula. Setelah dikukus, teksturnya sangat lembut dengan rasa gurih manis yang seimbang.
Kue ini biasanya hadir dalam acara keluarga atau ritual adat, terutama di komunitas Bugis-Makassar. Membuat sikaporo butuh ketelitian, terutama untuk menjaga teksturnya tetap halus dan tidak pecah.
Karena prosesnya cukup rumit dan tidak banyak generasi muda yang mewarisi resepnya, sikaporo kini semakin sulit ditemukan.
9. Gogoso, ketan bakar yang kini lebih banyak hadir di acara khusus

Gogoso dibuat dari beras ketan yang dimasak setengah matang, dibungkus daun pisang, lalu dibakar di atas bara api. Proses pembakaran inilah yang memberi aroma khas pada gogoso.
Biasanya, gogoso disantap dengan abon ikan, telur asin, atau lauk kering. Di masa lalu, gogoso cukup umum dijual sebagai makanan pagi atau bekal perjalanan.
Namun kini, gogoso lebih sering muncul pada acara Maulid, pengajian, atau hajatan keluarga. Fungsinya bergeser dari jajanan harian menjadi makanan seremonial.
Di tengah derasnya tren kuliner modern, mungkin yang paling penting adalah memastikan rasa-rasa lama ini tetap punya ruang untuk bertahan. Sebab ketika sebuah makanan hilang, sering kali yang ikut hilang adalah cerita panjang di belakangnya.

















