Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Potret klappertaart (freepik.com/tyasindayanti)
  • Klappertaart lahir pada masa kolonial melalui adaptasi kue Belanda dengan kelapa muda Minahasa, memadukan bahan lokal serta tradisi hidangan penutup Eropa.
  • Namanya berasal dari bahasa Belanda: klapper berarti kelapa dan taart berarti kue atau pai, mencerminkan pengaruh kolonial yang tetap melekat di Manado.
  • Dulu identik dengan jamuan elite karena bahan susu, mentega, dan telur mahal; kini klappertaart dinikmati luas dalam perayaan dan acara keluarga Sulawesi Utara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Klappertaart merupakan salah satu hidangan penutup khas Manado yang memiliki cita rasa manis dan tekstur lembut. Terbuat dari kelapa muda yang dipadukan dengan susu, mentega, telur, serta berbagai bahan pelengkap, makanan ini menjadi salah satu ikon kuliner Sulawesi Utara yang banyak diburu wisatawan. Nama klappertaart sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu klapper yang berarti kelapa dan taart yang berarti kue.

Di balik rasanya yang lezat, klappertaart menyimpan sejarah panjang yang tidak lepas dari masa kolonial Belanda di Indonesia. Hidangan ini menjadi bukti bagaimana pertemuan budaya Eropa dan kekayaan bahan pangan lokal melahirkan kuliner yang tetap bertahan hingga sekarang. Berikut lima fakta sejarah klappertaart khas Manado yang menarik untuk diketahui.

1. Lahir pada masa kolonial Belanda

Kue khas Manado, klappertaart. IDNTimes/Savi

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wilayah Minahasa menjadi salah satu daerah yang memiliki hubungan erat dengan pemerintah kolonial Belanda. Banyak orang Belanda menetap di kawasan tersebut, baik sebagai pegawai pemerintahan, misionaris, maupun pelaku usaha. Kehadiran mereka turut membawa berbagai tradisi kuliner Eropa, termasuk aneka hidangan penutup berbahan susu, mentega, dan telur yang saat itu belum umum dikonsumsi masyarakat lokal.

Dari pertemuan budaya tersebut, lahirlah klappertaart sebagai hasil adaptasi resep kue khas Belanda dengan memanfaatkan kelapa muda yang melimpah di Minahasa. Penggunaan bahan lokal membuat hidangan ini memiliki karakter yang berbeda dari kue-kue Eropa pada umumnya. Hingga kini, klappertaart dikenal sebagai salah satu warisan kuliner yang merepresentasikan jejak sejarah kolonial di Sulawesi Utara.

2. Namanya berasal dari bahasa Belanda

Ilustrasi klappertaart (pexels.com/AMANDA LIM)

Nama klappertaart berasal dari dua kata dalam bahasa Belanda, yaitu klapper yang berarti kelapa dan taart yang berarti kue atau pai. Penamaan tersebut secara langsung menggambarkan bahan utama sekaligus bentuk hidangan ketika pertama kali diperkenalkan pada masa kolonial. Istilah itu kemudian tetap digunakan oleh masyarakat Manado hingga sekarang, meskipun Indonesia telah lama merdeka.

Menariknya, nama tersebut tidak mengalami banyak perubahan seiring berjalannya waktu. Hal ini menunjukkan kuatnya pengaruh bahasa Belanda terhadap sejumlah kosakata kuliner di Indonesia, khususnya di daerah yang pernah menjadi pusat aktivitas kolonial. Kini, penyebutan klappertaart justru menjadi identitas tersendiri yang membedakannya dari berbagai hidangan penutup berbahan kelapa lainnya.

3. Memanfaatkan kelapa yang melimpah di tanah Minahasa

Salah satu oleh-oleh khas Manado, klappertaart. IDNTimes/Savi

Salah satu alasan klappertaart berkembang di Manado adalah melimpahnya hasil perkebunan kelapa di wilayah Minahasa dan sekitarnya. Sejak dahulu, kelapa menjadi komoditas penting yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari maupun perdagangan. Kondisi tersebut membuat masyarakat mudah memperoleh kelapa muda berkualitas, sehingga bahan tersebut dipilih sebagai komponen utama dalam pembuatan hidangan penutup ini.

Penggunaan kelapa muda juga menjadi bentuk adaptasi terhadap kondisi alam setempat. Jika kue-kue Eropa umumnya mengandalkan buah-buahan atau bahan susu sebagai isi utama, klappertaart justru menghadirkan cita rasa tropis melalui daging kelapa muda yang lembut. Perpaduan bahan lokal dengan teknik memasak Eropa inilah yang menjadikan klappertaart memiliki karakter unik dan tidak mudah ditemukan di daerah lain.

4. Awalnya identik dengan kalangan Eropa dan elite

Ilustrasi klappertaart (pexels.com/AMANDA LIM)

Pada masa kolonial, bahan-bahan seperti susu, mentega, keju, dan kismis masih tergolong mahal karena sebagian besar didatangkan dari luar negeri. Oleh sebab itu, klappertaart lebih banyak disajikan di lingkungan keluarga Belanda atau kalangan masyarakat yang memiliki akses terhadap bahan-bahan tersebut. Hidangan ini juga kerap hadir dalam jamuan resmi maupun perayaan tertentu.

Seiring berkembangnya perdagangan dan semakin mudahnya memperoleh bahan baku, klappertaart mulai dikenal oleh masyarakat luas. Resepnya pun mengalami penyesuaian agar sesuai dengan bahan yang tersedia dan selera masyarakat setempat. Dari yang semula identik dengan kalangan tertentu, klappertaart kemudian bertransformasi menjadi salah satu kuliner khas Manado yang dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat.

5. Sempat menjadi hidangan jamuan pada perayaan dan acara resmi

klappertaart (pixabay.com/4547)

Pada masa kolonial, klappertaart tidak disajikan sebagai makanan sehari-hari. Hidangan ini lebih sering hadir dalam jamuan makan, perayaan hari besar, pesta keluarga, maupun acara resmi yang dihadiri pejabat kolonial dan kalangan elite di Minahasa. Hal tersebut tidak terlepas dari penggunaan bahan-bahan seperti susu, mentega, dan telur yang saat itu tergolong mewah serta tidak mudah diperoleh oleh seluruh lapisan masyarakat.

Setelah Indonesia merdeka dan bahan bakunya semakin mudah didapatkan, klappertaart mulai dikenal lebih luas oleh masyarakat. Makanan ini kemudian menjadi hidangan yang kerap disajikan saat perayaan Natal, Tahun Baru, pesta pernikahan, hingga acara keluarga di Sulawesi Utara. Tradisi tersebut masih bertahan hingga sekarang, menjadikan klappertaart bukan sekadar hidangan penutup, tetapi juga bagian dari budaya masyarakat Manado.

Klappertaart tidak hanya menawarkan cita rasa yang khas, tetapi juga menjadi bukti pertemuan budaya Belanda dan Minahasa yang melahirkan warisan kuliner bernilai sejarah. Mengenal kisah di baliknya membuat kita semakin menghargai kekayaan kuliner Indonesia yang terus lestari hingga sekarang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article