Misi Rock In Celebes 2026: Merawat Musik dan Merayakan Sejarah
- Rock In Celebes edisi ke-17 bertema “The Culture” digelar di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, pada 31 Oktober-1 November 2026; penyelenggara menyatakan persiapan telah rampung.
- Festival menghadirkan empat panggung, 25 tenant kuliner, pameran budaya, pemutaran film, serta sesi diskusi dan lokakarya dalam Konferensi Musik Indonesia dan Makassar Music Showcase.
- Tema festival merespons temuan seni cadas tertua di Leang Metanduno, Pulau Muna, sekaligus membuka ruang ekspresi seniman terkait lingkungan dan isu publik dalam batas wajar.
Makassar, IDN Times - Festival musik terbesar di Indonesia timur, Rock In Celebes (RIC), kembali menyapa para pencinta. Memasuki edisi ke-17, festival yang kali ini mengusung tema "The Culture" tersebut akan kembali digelar di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, pada Sabtu dan Minggu, 31 Oktober-1 November 2026.
Dalam sesi konferensi pers yang digelar di Gedung I, Benteng Fort Rotterdam, Makassar, pada Jumat (30/10/2026) sore, perwakilan penyelenggara memastikan bahwa seluruh persiapan telah rampung sepenuhnya. Perwakilan Rock In Celebes 2026, Rizal Bongky, mengungkapkan bahwa secara konsep, kesiapan acara bahkan telah mencapai 100 persen sejak empat hari sebelum hari-H.
1. Total ada empat panggung yang sudah disiapkan selama dua hari penyelenggaraan

Salah satu instalasi sesi yang dipamerkan di Rock In Celebes edisi 2021. (dok. Artefact.id) Tahun ini, festival menyediakan empat panggung berbeda untuk memanjakan pengunjung, yakni Fort Stage sebagai panggung utama, Turtle Stage di sisi kiri venue khusus band pengusung musik keras, Bastion Stage untuk panggung kecil penampil EDM dan rapper, serta Heritage Stage yang didedikasikan khusus untuk pertunjukan kebudayaan.
Selain panggung musik, pengunjung juga dapat menyambangi 25 tenant makanan dan minuman. Turut pula pameran kebudayaan hasil kolaborasi dengan lembaga budaya Tanahindie, pemutaran film, hingga rangkaian sesi talks dan lokakarya yang menjadi bagian dari Konferensi Musik Indonesia (KMI) dan Makassar Music Showcase (MMC).
2. Kembali menapaki jejak sejarah leluhur Pulau Sulawesi dengan merayakan temuan seni cadas tertua

Lukisan seni cadas non-figuratif tertua di dunia yang berada di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (dok. Badan Riset dan Inovasi Nasional) Pemilihan tema "The Culture" pada penyelenggaraan tahun ke-17 ini ternyata menyimpan napas historis yang mendalam. Tema ini hadir sebagai respons atas penemuan seni cadas (rock art) tertua dalam peradaban manusia di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang berusia minimal 67.800 tahun dan diumumkan pada awal 2026 ini.
Temuan tersebut menyusul rekor sebelumnya di Sulawesi, yakni lukisan naratif tiga figur manusia yang berinteraksi dengan babi hutan di Leang Karampuang, Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, yang berusia setidaknya 51.200 tahun. Pengelola Rock In Celebes, Andi Muhammad Ikhlas yang akrab disapa Iko, menjelaskan bahwa rentang sejarah panjang peradaban inilah yang coba digali kembali oleh festival.
"Kita melihat bahwa kehidupan kita sekarang dimulai ribuan tahun lalu, itu yang kita coba gali. Para leluhur sudah bisa menggambar sesuatu, dan kita berada sekarang karena mereka juga. Secara program kita mengadaptasi itu," ujar Iko.
3. Menjadi ruang berekspresi seniman atas isu-isu yang sedang berkembang dan menjadi perhatian

Suasana press conference festival musik Rock In Celebes 2026 yang berlangsung di Gedung I, Benteng Fort Rotterdam, Makassar, pada 30 Oktober 2026. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair) Menanggapi tren musisi yang kerap menyuarakan isu-isu politik maupun lingkungan di atas panggung, founder Rock In Celebes, Ardy Siji, menegaskan bahwa pihaknya sangat menghargai kebebasan berekspresi para seniman. Kendati demikian, Ardy menilai ekspresi atau kritik yang dibawakan musisi selama masih berada dalam batas wajar dan sejalan dengan aspirasi publik, tetap dipandang normal.
"Kami sangat menghargai kebebasan berekspresi seniman. Kami menginformasikan seniman bahwa konsep RIC adalah (tentang) lingkungan. Adapun yang berbau politik, kami sudah menjadi kurator dan menyeleksi band-band yang sesuai," jelas Ardy Siji.
"Selama itu kita anggap itu masih normal, rasa-rasanya RIC masih menjadi ruang yang tepat untuk mengampanyekan hal-hal tersebut," pungkasnya.





















