4 Situs Islam Bersejarah di Makassar, Ada Masjid Tertua dan Makam Raja

- Makassar punya empat situs Islam bersejarah, termasuk Masjid Babul Firdaus yang dibangun tahun 1893 oleh Raja Gowa ke-34 dan pernah jadi tempat pertemuan rahasia raja-raja Sulsel.
- Kompleks Makam Raja Tallo menyimpan 81 makam dengan desain arsitektur beragam dari Nusantara, menjadi bukti kejayaan kerajaan Tallo yang erat hubungannya dengan Kerajaan Gowa.
- Makam Lajangiru dan makam Datuk ri Bandang menandai peran ulama Hadramaut serta tokoh Minangkabau dalam penyebaran Islam di Makassar sejak abad ke-17 melalui pendekatan budaya lokal.
Makassar, IDN Times - Makassar bukan cuma tentang Pantai Losari atau Coto Makassar yang legendaris. Kota ini menyimpan jejak sejarah penyebaran Islam yang sangat kuat di Nusantara bagian timur. Situs-situs tersebut bukan sekadar tempat ziarah, tapi ikut menjadi saksi bisu era Kerajaan Gowa-Tallo hingga Hindia-Belanda.
Apa saja tempat-tempat tersebut. Berikut ini daftar pendek 4 situs Islam bersejarah yang tersebar di seluruh Makassar. Ada masjid yang pernah menjadi tempat pertemuan rahasia raja-raja Sulsel, hingga makam salah satu mubalig penyebar Islam di Tanah Daeng. Yuk simak!
1. Masjid Babul Firdaus: Simbol Kedaulatan Raja Gowa ke-34

Alamat : Jalan Kumala, Kel. Jongaya, Kec. Tamalate
Masjid Babul Firdaus memegang predikat sebagai salah satu masjid tertua yang masih berdiri kokoh di Makassar. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan menyebut bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1893 (1312 H) oleh Raja Gowa ke-34, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang.
Berbentuk joglo dengan 4 sisi, desain arsitekturnya memang mirip dengan Masjid Katangka yang merupakan masjid pertama di Sulsel. Menurut riwayat, rumah ibadah yang sudah dipugar sebanyak 3 kali ini pernah menjadi tempat pertemuan rahasia raja-raja Sulsel sebab disebut aman dari mata-mata pemerintah kolonial Hindia-Belanda.
2. Kompleks Makam Raja Tallo: Gabungan Berbagai Desain Arsitektur Nusantara

Alamat : Jalan Sultan Abdullah Raya No. 3, Kel. Tallo, Kec. Tallo
Kompleks Makam Raja-raja Tallo adalah bukti sejarah kejayaan kerajaan yang menjadi "saudara kembar" Kerajaan Gowa. Di sini terkubur Sultan Mudaffar (I Malingkaang Daeng Manyonri), Raja Tallo pertama yang memeluk Islam sekaligus menjabat sebagai Pabbicara Butta (setingkat Mangkubumi atau Perdana Menteri) Kerajaan Gowa.
Dalam buku Monumen Islam di Sulawesi Selatan, disebutkan terdapat total 81 makam yang berada di kompleks ini, dengan kondisi masih utuh maupun sudah rusak. Tipologi sejumlah makam yang berbentuk punden berundak, kubah hingga nisan khas Aceh menunjukkan pengaruh besar berbagai corak desain dari seantero Nusantara.
3. Kompleks Makam Lajangiru: Jejak Ulama Hadramaut di Bontoala

Alamat : Jalan Kandea 7, Kel. Bontoala Tua, Kec. Bontoala
Makam Lajangiru, atau dikenal sebagai Makam Arab Bontoala, merupakan situs yang mendokumentasikan peran etnis Hadramaut dalam penyebaran Islam di Makassar. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan Kota Makassar, kawasan Bontoala dulunya adalah pusat pemukiman saudagar dan ulama pendatang.
Selain itu, beberapa makam turut dihiasi oleh kaligrafi berbahasa Arab. Hasil enkripsi yang dilakukan Muhammad Zubair (peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar) yang dipublikasikan dalam jurnal Al-Qalam pada tahun 2011 lalu menyebut bahwa tulisan-tulisan tersebut merupakan tanda syiar Islam dan pesan cinta pada Nabi Muhammad SAW.
4. Makam Datuk ri Bandang: Sang Penyebab Cahaya Islam di Sulsel

Alamat : Jalan Sinassara, Kel. Kaluku Bodoa, Kec. Tallo
Tak lengkap membahas sejarah Islam di Sulsel tanpa menyebut Datuk ri Bandang, atau Abdul Makmur. Berdasarkan jurnal sejarah Islam Nusantara, beliau adalah ulama asal Minangkabau yang berhasil mengislamkan Raja Gowa dan Tallo pada tahun 1605 melalui pendekatan tasawuf yang adaptif terhadap budaya lokal.
Situs makamnya sendiri merupakan objek cagar budaya yang memiliki nilai sakral, terutama dalam upaya penyebaran Islam di Nusantara. Jurnal Sejarah Peradaban Islam (JUSPI) pada tahun 2021 bahkan menyebut bahwa beliau adalah murid dari Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur, sekaligus menjadi buktinya adanya jaringan intelektual Islam yang menghubungkan Sumatra, Jawa dan Sulawesi di abad ke-17.

















