Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Alasan Sanksi FIFA Bisa Membuat PSM Kurang Diminati Pemain
Pesepak bola PSM Makasar Gledson Paixao (tengah) melakukan selebrasi seusai berhasil menjebol gawang PSBS Biak pada laga BRI Super League 2025-26 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, D.I Yogyakarta, Minggu (8/2/2026). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc.
  • PSM Makassar kembali dijatuhi sanksi registration ban oleh FIFA sejak 9 Maret 2026, melarang klub mendaftarkan pemain baru selama tiga periode bursa transfer.
  • Sanksi ini menimbulkan kekhawatiran soal kepastian hak finansial pemain dan menurunkan daya tarik PSM di mata pemain serta agen profesional.
  • Larangan transfer berpotensi memperburuk kedalaman skuat, memicu kelelahan pemain, dan mengancam loyalitas pemain yang masih bertahan di tengah ketidakpastian manajemen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
PSM Makassar lagi susah karena FIFA kasih hukuman. Klub itu nggak boleh beli pemain baru lama banget. Katanya ada masalah uang sama gaji pemain dulu. Jadi banyak pemain takut gabung ke sana. Sekarang timnya harus main dengan pemain yang ada aja, dan mereka capek tapi tetap berjuang biar bisa menang lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Di tengah perjuangan keluar dari jeratan papan bawah BRI Super League 2025/2026, kabar tak mengenakkan kembali datang dari PSM Makassar. Laman resmi FIFA kembali memasukkan mereka ke daftar klub yang terkena sanksi registration ban. PSM tercatat dilarang mendaftarkan pemain baru sejak 9 Maret 2026 untuk tiga periode bursa transfer ke depan.

Sanksi ini menjadi alarm keras karena bisa merusak reputasi klub di mata para pemain profesional. Berikut adalah 4 potensi dampak buruk yang membuat PSM Makassar terlihat kurang ideal di mata pemain jika sanksi ini terus berulang, atau bahkan dinormalisasi.

1. Munculnya kekhawatiran tentang kepastian hak pemain

Dua pemain PSM Makassar, Alex Tanque (kiri) dan Yuran Fernanes (kanan), dalam sesi official training dI Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara pada 23 Januari 2026. (Instagram.com/psm_makassar)

Meskipun FIFA tidak pernah merinci penyebab pastinya, riwayat mencatat bahwa hukuman transfer ban biasanya berakar dari sengketa finansial atau tunggakan gaji. Bagi pemain profesional, kepastian hak menjadi prioritas utama.

Jika klub terus-menerus masuk daftar hitam FIFA, pemain akan berpikir dua kali untuk bergabung karena adanya risiko ketidakpastian finansial yang bisa mengganggu fokus mereka di lapangan. Dan efeknya tidak hanya berdampak pada pemain, tapi juga perfoma klub di kompetisi yang mereka ikuti.

2. Menurunkan daya tawar dalam perburuan pemain berkualitas

Pesepak Bola Persija Jakarta Jordi Amat (kiri) berebut bola di udara dengan pemain PSM Makassar Alex Tanque (kedua kiri) dalam pertandingan BRI Super League musim 2025/2026 di Jakarta Internasional Stadium, Jakarta, Jumat (20/2/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/YU

Klub dengan sanksi FIFA secara otomatis memiliki citra yang kurang sehat di pasar transfer. Hal ini membuat agen pemain maupun pemain incarannya akan merasa ragu untuk menjalin negosiasi.

Dampaknya, PSM berpotensi kehilangan kesempatan untuk merekrut talenta berbakat yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mendongkrak performa tim. Pemain berkualitas cenderung memilih klub dengan manajemen yang lebih stabil dan bersih dari sengketa hukum.

3. Menciptakan ketimpangan kedalaman skuat (squad depth)

Pesepak Bola Persija Jakarta Alaaeddine Ajaraie (kanan) berebut bola dengan pesepak bola PSM Makassar Victor Dethan (kiri) dalam pertandingan BRI Super League musim 2025/2026 di Jakarta Internasional Stadium, Jakarta, Jumat (20/2/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/YU

Larangan mendaftarkan pemain baru selama tiga periode bursa transfer adalah hukuman yang sangat berat. Jika ada pemain pilar yang cedera panjang atau memutuskan hengkang, PSM tidak bisa mencari pengganti sepadan.

Kondisi skuat "itu-itu saja", tanpa adanya penyegaran akan membuat beban kerja pemain yang ada menjadi sangat berat. Pada akhirnya, meningkat pula risiko kelelahan dan penurunan performa tim secara keseluruhan.

4. Mempengaruhi loyalitas pemain yang masih bertahan

Para pemain PSM Makassar dalam sesi official training di Stadion B.J. Habibie Parepare pada 18 Oktober 2025. (Instagram.com/psm_makassar)

Pemain yang saat ini berada di dalam tim tentu ikut merasakan dampak psikologis dari sanksi ini. Munculnya kabar sanksi FIFA bisa menggoyang kondusivitas ruang ganti dan menurunkan kepercayaan mereka terhadap manajemen.

Jika tidak segera diselesaikan, pemain-pemain kunci yang kontraknya akan habis mungkin lebih memilih mencari klub baru yang dianggap lebih aman secara administratif. Dan upaya untuk mempertahankan para pemain kunci untuk menjaga stabilitas performa kian sulit diwujudkan.

Yang bisa dilakukan manajemen PSM Makassar tentu saja membereskan sengketa yang sedang terjadi, sekaligus menyiapkan rencana finansial lebih matang utnuk musim depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team