ilustrasi logo klub sepak bola PSM Makassar (instagram.com/psm_makassar)
Usia 84 tahun: Mengecap manisnya juara Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000
Sepak bola nasional memasuki era modern pada 1994/1995 dengan menggabungkan Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi bernama Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina). Namun, PSM butuh waktu lima tahun untuk menjadi jawara kompetisi kasta tertinggi Indonesia tersebut. Ini terjadi pada di final Ligina 1999/2000 yang berlangsung pada 23 Juli 2000. PSM yang saat itu dijuluki Dream Team sebab diperkuat sejumlah pemain berkualitas seperti Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, Hendro Kartiko, dan Miro Baldo Bento, keluar sebagai juara usai menaklukkan Pupuk Kaltim (PKT) Bontang 3-2 di Senayan.
Usia 85 tahun: Sukses pertama di pentas antarklub Asia
Kesuksesan di level domestik membawa PSM terbang tinggi di kancah Asia. Pada 21 Maret 2001, PSM memulai perjalanan di babak delapan besar kejuaraan antarklub Asia, Asian Club Championship, ajang yang menjadi cikal bakal AFC Champions League Elite kini. Stadion Andi Mattalatta Mattoanging kala itu menjadi saksi bisu sebab Juku Eja menjamu raksasa-raksasa Asia seperti Jubilo Iwata (Jepang), Suwon Samsung Bluewings (Korea Selatan), dan Shandong Luneng (Tiongkok). Sayangnya, PSM finis sebagai juru kunci Grup Asia Timur sebab tak mampu membendung perbedaan kualitas dengan para pemain Asia Timur. Kendati demikian, lolos ke babak delapan besar menjadi salah satu prestasi terbaik PSM di pentas tingkat benua.