Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, saat bersilaturahmi bersama jajaran PWNU dan PCNU dari tiga wilayah di kawasan Sulawesi, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (8/8/2026). (Dok. Istimewa)
Dalam kerangka tersebut, menjaga marwah ulama dan pesantren menjadi salah satu agenda penting. Pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga ruang reproduksi ilmu, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, serta tempat tumbuhnya kepemimpinan masyarakat.
Karena itu, perjumpaan ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat jaringan keulamaan dan pesantren Nusantara. Silaturahmi antarpengurus, ulama, pesantren, dan warga NU dari berbagai daerah diharapkan tidak berhenti pada pertemuan simbolik.
Hubungan tersebut dapat dikembangkan menjadi kerja sama konkret, mulai dari pertukaran pengalaman antarpesantren, penguatan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan ekonomi jamaah, hingga penguatan kebudayaan.
Songkok Guru yang dikenakan Gus Rozin menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi keulamaan Sulawesi Selatan. Sementara kitab karya Kiai Sahal yang diberikan kepada Anregurutta Baharuddin menjadi simbol warisan intelektual pesantren Jawa Tengah yang bertemu dalam semangat merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, dan meneruskan khidmah ulama untuk membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat di abad kedua.