Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Munafri: Program Pariwisata Harus Berdampak Langsung bagi Warga
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat memberikan arahan kepada Dinas Pariwisata di Balai Kota, Senin (5/5/2025). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Makassar, IDN Times - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menekankan agar program pariwisata dan ekonomi kreatif memberikan dampak langsung dan terukur bagi masyarakat. Hal ini disampaikan saat monitoring dan evaluasi (Monev) terhadap Dinas Pariwisata Kota Makassar di Balai Kota, Senin (5/5/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Munafri meminta seluruh program tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Dia menekankan inovasi dan kreativitas, khususnya dalam mendesain event-event pariwisata yang melibatkan masyarakat kecil dan UMKM lokal.

Dia mencontohkan ide penyelenggaraan festival fotografi di lorong-lorong kota yang disulap menjadi galeri terbuka. Hal ini sekaligus tempat promosi produk UMKM warga sekitar.

"Saya tidak ingin hanya melihat program yang mengesankan dari luar, tetapi harus jelas dampaknya kepada masyarakat. Harus bisa diukur efek terhadap ekonomi," kata Munafri.

1. Losari harus jadi ikon yang mengesankan

Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan (unsplash.com/Khairul Akbar)

Munafri juga menyoroti kawasan Anjungan Pantai Losari yang menurutnya belum memberikan kesan khas bagi wisatawan. Dia menginginkan pembenahan total kawasan tersebut agar lebih representatif sebagai ikon Kota Makassar.

"Losari ini jantung kota. Semua orang datang ke Makassar pasti ke Losari. Tapi apa yang mereka temui? Penjual kaos kaki tiga sepuluh ribu? Bukan itu yang kita harapkan," katanya. 

Dia menekankan kebersihan dan tata kelola Losari. Bahkan jika perlu, ada konsep event berkualitas yang mencerminkan identitas Makassar.

"Saya ingin program yang benar-benar membumi. Kita semua tahu, kalau ke Kota Makassar, pasti ke Losari. Tapi apakah Losari sudah memberikan kesan yang baik? Ini yang akan kita evaluasi," katanya.

2. Dorong kolaborasi, bukan pemerintah jadi EO

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Dalam arahannya, Munafri juga menegaskan pemerintah tidak seharusnya bertindak sebagai event organizer (EO). Pemerintah cukup berperan sebagai fasilitator, sementara ide dan pelaksanaan kegiatan dapat diserahkan kepada komunitas dan pelaku industri kreatif.

"Kalau saya sih selalu jangan selalu mau jadi EO. Artinya, kalau ada usulan yang datang dari teman-teman penggerak ekonomi atau penggiat kegiatan yang ada di Kota Makassar ini biarkanlah mereka, kita support pakai APBD-nya kita," katanya.

Dia juga membuka peluang kerja sama dengan penyelenggara event besar seperti F8. Kerja sama ini sepanjang memberikan dampak terhadap sektor wisata dan perhotelan di Kota Makassar.

"F8 kenapa tidak? Makanya saya bilang ini kan dilihat seperti apa prosesnya. Kenapa tidak kalau itu bisa kita bisa berkolaborasi tapi jangan lagi pemerintah kota yang melaksanakan semua itu," katanya.

3. Dispar siap tindaklanjuti arahan wali kota

Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, M Roem. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, M Roem, menyampaikan pihaknya telah menindaklanjuti arahan wali kota dengan menyusun program prioritas. Beberapa di antaranya adalah peningkatan lapangan kerja di sektor industri kreatif, penguatan peran Makassar Creative Hub, dan pembangunan pusat wisata mangrove di wilayah pesisir.

Ada juga festival kopi yang melibatkan pelaku warung kopi untuk mencari varian kopi terenak di Makassar. Nantinya, jurinya berasal dari kalangan barista profesional. 

Dia juga menyebutkan rencana penyusunan pola perjalanan wisata bahari bersama ASITA pada 16 - 17 Mei mendatang. Hal ini sebagai tindak lanjut dari kunjungan wali kota ke sembilan pulau beberapa waktu lalu.

"Semua arahan sudah kita laksanakan. Insyaallah dalam waktu dekat semua akan berproses. Pelan-pelan karena masih ada RPJMD dan renstra kita untuk lima tahunan," kata Roem.

Editorial Team

Related Article