Mengantar Pulang Nenek Jumaria, Buruh Tani yang Jadi Ikon Haji Dunia

- Nenek Jumaria, buruh tani asal Maros berusia 70 tahun, menjadi ikon global Makkah Route 2026 berkat kisah perjuangannya menabung puluhan tahun demi bisa berhaji.
- Selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci, Nenek Jumaria tetap sehat dan kuat tanpa mengalami sakit, serta menikmati seluruh fasilitas dan makanan yang disediakan.
- Usai menunaikan haji, ia kembali ke Maros untuk melanjutkan hidup sederhana sebagai petani sambil menyimpan tekad menabung lagi agar bisa berhaji di masa depan.
Jeddah, IDN Times — Rabu, 10 Juni 2026, menjadi hari yang paling dinanti oleh Nenek Jumaria (70 tahun), jemaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji, hari ini ia akan terbang kembali ke pelukan orang-orang tercinta di Tanah Air.
Nenek Jumaria bukanlah jemaah biasa. Kisah hidupnya yang bersahaja—menabung selama puluhan tahun dari upahnya sebagai buruh tani, lalu menyimpan uangnya di bawah kasur—telah menginspirasi dunia. Otoritas Arab Saudi memilihnya sebagai ikon global layanan Makkah Route (Fast Track) 2026, dan kisahnya diangkat dalam sebuah video pendek yang viral.
Namun, saat ditemui oleh awak media di ruang tunggu Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, tak ada sedikit pun raut kebanggaan berlebih di wajahnya. Ia tetaplah sosok Nenek Jumaria yang sederhana, ramah, dan penuh kepolosan, sesekali merapikan jilbabnya.
1. Semoga naik Haji lagi

Lebih dari dua dekade, Nenek Jumaria merajut mimpi di antara pematang sawah di Maros. "Lebih 20 tahun," akunya pelan saat ditanya berapa lama ia memanjatkan doa untuk bisa berhaji, sembari mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada. "Selama meninggal bapak sama mama, saya berdoa terus."
Dan rupanya, kerinduan pada Baitullah tak pernah surut. Jika ada yang menawarinya untuk kembali ke Tanah Suci tahun depan, Nenek Jumaria menjawab tanpa ragu, "Mau... Mau dong," ucapnya. Ia bahkan telah menyiapkan strategi sederhana, menyisihkan sebagian pendapatannya ke depan. "Saya kerja ini, dapat uang 1 tahun, supaya saya naik ke Tanah Suci," tekadnya.
Meskipun sederhana, Nenek Jumaria tetap ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarganya di Maros. Dari sebagian uang Riyal yang dimilikinya dan tambahan dari orang-orang baik yang tersentuh akan kisahnya, ia membeli oleh-oleh untuk para keponakan dan cucu-cucunya.
"Kurma, ceplak (kopiah), baju... ada mainan, boneka," ceritanya antusias. Uang sisa pun disimpannya rapi sebagai bekal sesampainya di Indonesia.
2. Sehat dan kuat selama beribadah

Satu hal yang membuat kagum adalah kondisi kesehatan Nenek Jumaria. Selama di Makkah, Madinah, hingga Arafah, ia mengaku tak pernah jatuh sakit, padahal tidak sedikit jemaah lansia lainnya yang tumbang. "Nggak... Nggak ada (sakit), sehat," ungkapnya.
Ketika ditanya apakah ia merasa kelelahan, ia menjawab dengan jujur, "Kecapean gara-gara nggak makan antimo, pusing... Nggak bisa saya naik mobil kalau tidak makan antimo, lupa makan obat," ceritanya.
Selain itu, ia juga sangat menikmati fasilitas dan makanan yang disediakan. "Enak semua... Enak sekali semuanya dikasih makan. Ayam, tempe..."* puji Nenek Jumaria.
3. Kembali ke pematang sawah

Kini, setelah perjalanan spiritualnya usai, Nenek Jumaria sudah bersiap untuk kembali ke kehidupannya di Maros. "Iya, kerja sawah lagi. Istirahat dulu di sana nanti pulang kerja lagi," tegasnya, membuktikan bahwa kerja keras adalah jalan hidupnya.
Kepulangan Nenek Jumaria hari ini bukan sekadar kepulangan seorang jemaah haji. Ia membawa pulang bukti nyata bahwa ketulusan, kesabaran menabung selama dua dekade, dan kepasrahan kepada Allah SWT akan selalu menemukan jalannya.
Selamat jalan pulang, Nenek Jumaria. Semoga menjadi hajjah yang mabrur dan impian untuk kembali ke Tanah Suci senantiasa dikabulkan!
















