Jalan tol layang AP Pettarani yang dikelola PT Makassar Metro Nusantara, anak usaha PT Nusantara Infrastructure. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
Selain suhu panas, BMKG menyoroti penurunan kualitas udara akibat polusi. Berdasarkan pola harian, kondisi kualitas udara cenderung memburuk mulai tengah malam hingga pagi hari.
Kondisi tersebut kemudian berangsur membaik dan kembali normal sekitar pukul 12.00 Wita.
Asriani menjelaskan, hasil pemantauan BMKG menunjukkan adanya pergerakan asap dari wilayah Kalimantan menuju Sulawesi Selatan.
““Kami melihat dari peta sebaran asap, arah angin dominan saat ini memang dari timur. Tapi data AWS menunjukkan angin juga datang dari barat. Penyebab utamanya adalah asap kebakaran hutan yang pusatnya terlihat di Kalimantan. Kemungkinan besar asap itu terbawa dari Kalimantan ke Sulawesi Selatan,” ungkapnya.
Menurut BMKG, emisi kendaraan belum menjadi faktor utama dalam penurunan kualitas udara kali ini. Perubahan arah angin justru sangat memengaruhi konsentrasi polutan di wilayah Sulsel.
Saat angin bergerak dari timur, kualitas udara cenderung membaik. Namun, ketika angin berembus dari barat, partikel asap dari Kalimantan berpotensi kembali masuk ke wilayah Sulsel.
BMKG memperkirakan kondisi udara tidak sehat masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan. Sebab, titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan masih terpantau dan belum sepenuhnya mereda.
“Faktor utamanya memang asap kiriman. Selain Kalimantan, jika angin dominan dari timur, asap dari kebakaran hutan di Papua dan Maluku juga bisa terbawa ke wilayah Sulawesi,” katanya.