Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Spot Bengong di Makassar yang Bikin Pikiran Langsung Reset
Warga melintas di area Pantai Losari saat matahari terbenam di Makassar, Sulawesi Selatan. (ANTARA FOTO/Arnas Padda)
  • Artikel menjelaskan bahwa bengong bukan tanda malas, melainkan proses aktif otak melalui Default Mode Network yang membantu kreativitas dan refleksi diri.
  • Lima lokasi di Makassar direkomendasikan untuk bengong berkualitas: Anjungan Losari, Pantai Akkarena, Pelabuhan Paotere, Taman Macan, dan Bandara Sultan Hasanuddin.
  • Setiap tempat memiliki efek psikologis berbeda—dari relaksasi alami hingga stimulasi empati—yang mendukung pemulihan mental dan keseimbangan pikiran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Pernah ngerasa capek tapi bingung mau ke mana? Bukan capek fisik, tapi capek yang susah dijelasin, misal capek sama notifikasi, capek sama keramaian, capek sama semua hal yang bergerak terlalu cepat. Kalau kamu sering ngerasa begitu, mungkin yang kamu butuhkan bukan tidur lebih lama atau liburan jauh. Mungkin yang kamu butuhkan cuma tempat untuk bengong sejenak.

Dan ternyata, bengong itu bukan kegiatan sia-sia. Ada ilmunya, lho. Selama ini bengong sering dianggap malas, tidak produktif, bahkan, kalau kamu orang Makassar, orang akan menegur "nanti kesambet". Padahal, neurosains dan psikologi sudah lama membuktikan sebaliknya.

Secara ilmiah, proses melamun atau bengong dikaitkan dengan diaktifkannya Default Mode Network (DMN) dalam otak, sebuah jaringan saraf yang mendukung otak untuk tetap memproses informasi meskipun sedang beristirahat dari tugas yang butuh konsentrasi tinggi.

Sederhananya, saat kamu bengong, otakmu tidak berhenti bekerja. Dia justru beralih ke mode yang berbeda yaitu mode yang lebih bebas, lebih kreatif, dan lebih reflektif.

Intinya, bengong yang berkualitas, di tempat yang tepat, bukan kemewahan. Dan Makassar punya banyak sudut yang cocok untuk itu. Di mana saja? Simak di bawah, ya!

1. Anjungan Losari: Tempat Senja Paling Klasik di Makassar

ilustrasi Pantai Losari, Makassar (wikimedia.org/Rainer Jehl)

Sudah bukan rahasia lagi. Kalau kamu belum pernah bengong di tepi Anjungan Losari sambil nunggu matahari tenggelam, berarti kamu belum benar-benar menikmati Makassar. Duduk di tepi, angin laut semilir, dan langit yang perlahan berubah dari kuning ke oranye ke ungu, itu adalah terapi gratis yang susah ditandingi.

Ada alasan ilmiah kenapa ini terasa begitu menenangkan. Dalam psikologi lingkungan, paparan terhadap pemandangan air terbuka terbukti menurunkan kadar kortisol atau hormon stres dalam tubuh. Fenomena ini disebut "blue space effect", diteliti secara sistematis oleh psikolog lingkungan Mathew White dari European Centre for Environment and Human Health, University of Exeter. Otak manusia secara evolusioner merespons keberadaan air sebagai sinyal keamanan dan kelimpahan, sehingga secara otomatis mengaktifkan respons relaksasi.

Angin laut yang kamu rasakan di Losari? Itu bukan sekadar nyaman secara fisik. Stimulasi ringan dari angin dan suara ombak membantu otak beralih ke mode DMN lebih cepat, memfasilitasi bengong yang berkualitas.

Lokasi: Jl. Penghibur, Losari, Ujung Pandang

Tiket: Gratis

Waktu terbaik: 17.00 – 18.30 WITA

2. Pantai Akkarena: Lebih Sepi, Lebih Efektif untuk Reset

Pantai Akkarena (instagram.com/pantaiakkarena)

Buat kamu yang merasa Losari terlalu ramai dan berisik, Pantai Akkarena adalah jawabannya. Pantai ini lebih kalem, pengunjung tidak sepadat Losari, dan area pinggir pantainya cukup luas untuk kamu duduk santai sambil melamun sepuasnya.

Dari perspektif psikologi, kebisingan sosial yang berlebihan justru menghambat aktivasi DMN. Ini yang disebut oleh para peneliti sebagai cognitive load yaitu beban kognitif dari lingkungan yang terlalu banyak stimulasi. Makanya, tempat yang lebih sepi secara paradoks justru lebih efektif untuk bengong produktif dibanding tempat yang ramai.

Penelitian Berman, Jonides, & Kaplan dari University of Michigan yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science menemukan bahwa berjalan atau duduk di lingkungan alam selama 20 menit saja sudah cukup untuk meningkatkan kapasitas memori kerja dan memperbaiki mood secara signifikan. Efek yang tidak ditemukan pada lingkungan urban dengan stimulasi tinggi.

Lokasi: Tanjung Bunga, Makassar

Tiket: Rp 10.000 – Rp 15.000

Waktu terbaik: Pagi (07.00 – 09.00) atau sore (16.00 – 18.00 WITA)

3. Pelabuhan Paotere: Bengong ala Pengamat Kehidupan

Perahu nelayan melintas di perairan Paotere dengan latar belakang proyek pembangunan Makassar New Port (MNP) di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (4/1/2024). (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

Paotere bukan tempat wisata mainstream, tapi justru itu yang bikin dia istimewa sebagai spot bengong. Di sini kamu bisa duduk di dermaga tua sambil lihat kapal-kapal nelayan bersandar, Pinisi yang masih beroperasi, dan aktivitas bongkar muat yang jadi rutinitas ribuan orang setiap hari.

Ini adalah praktik yang dalam sosiologi disebut "flânerie", konsep yang dipopulerkan filsuf Walter Benjamin dari tradisi Prancis dalam The Arcades Project (1927–1940), yaitu kegiatan mengamati kehidupan urban yang mengalir di sekitar kita tanpa terlibat langsung di dalamnya. Flânerie adalah bentuk bengong yang aktif secara kognitif tapi pasif secara sosial, menghasilkan pemahaman yang lebih dalam tentang realitas kehidupan.

Dari sisi psikologi, menyaksikan rutinitas orang lain yang konsisten dan berirama terbukti menginduksi kondisi yang disebut soft fascination dalam Attention Restoration Theory: perhatian yang terlibat tanpa memerlukan usaha. Kondisi ideal untuk pemulihan mental.

Lokasi: Jl. Sabutung, Ujung Tanah, Makassar

Tiket: Rp 5.000

Waktu terbaik: Pagi hari (06.00 – 09.00 WITA)

4. Taman Macan: Hijau di Tengah Kota, Mujarab untuk Otak

Taman Macan, lokasi yang dipilih untuk pembangunan Mal Pelayanan Publik. IDN Times / Aan Pranata

Taman Macan adalah bukti bahwa Makassar punya ruang hijau yang layak dinikmati. Tidak terlalu besar, tapi cukup rindang untuk duduk-duduk di bawah pohon sambil membiarkan waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.

Dalam environmental psychology, ada teori yang disebut Attention Restoration Theory (ART) yang dikembangkan oleh Rachel dan Stephen Kaplan dari University of Michigan. Teori ini menyatakan bahwa lingkungan alam termasuk taman kota, memiliki empat elemen yang secara unik membantu otak pulih dari kelelahan mental: being away (jauh dari rutinitas), extent (merasa berada di "dunia lain"), fascination (ketertarikan tanpa usaha), dan compatibility (lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan).

Taman kota memenuhi keempat elemen ART sekaligus. Inilah kenapa duduk 20 menit di Taman Macan bisa terasa lebih menyegarkan dibanding 20 menit scroll media sosial yang durasinya sama.

Lokasi: Jl. Urip Sumoharjo, Makassar

Tiket: Gratis

Waktu terbaik: 06.30 – 09.00 WITA

5. Bandara Sultan Hasanuddin: Ruang Liminal yang Paling Underrated di Makassar

Ilustrasi penumpang di Bandara Sultan Hasanuddin. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Tunggu dulu. Bandara? Untuk bengong?

Dengarkan dulu sebelum buru-buru skip. Bandara Sultan Hasanuddin bukan cuma tempat transit orang yang mau terbang. Bagi yang tahu cara menikmatinya, terminal keberangkatan dan kedatangan di sana adalah salah satu spot bengong paling kaya pengalaman di Makassar, dan ada penjelasan ilmiah yang sangat serius di balik ini.

Dalam kajian sosiologi dan filsafat ruang, bandara termasuk dalam kategori yang disebut "liminal space", konsep yang pertama kali dikembangkan antropolog Victor Turner dalam The Ritual Process: Structure and Anti-Structure (1969). Liminal berasal dari bahasa Latin limen, artinya ambang pintu. Ruang liminal adalah ruang peralihan, bukan di sini, bukan di sana. Di mana orang-orang berada di antara dua kondisi kehidupan.

Secara psikologis, berada di ruang liminal mendorong otak ke mode reflektif yang lebih dalam dari biasanya. Orang-orang di bandara membawa muatan emosional yang nyata dan terlihat: ada yang memeluk erat sebelum berpisah, ada yang berlari kecil sambil menyeret koper, ada yang menatap papan keberangkatan dengan ekspresi campur aduk antara excited dan takut.

Mengamati semua itu mengaktifkan neuron cermin (*mirror neurons*) dalam otak kita. Neuron cermin membuat kita secara otomatis ikut merasakan sebagian dari emosi yang kita saksikan tanpa harus terlibat langsung, lalu menghasilkan empati yang tiba-tiba muncul dan kesadaran yang lebih dalam tentang hubungan antarmanusia.

Tidak perlu punya tiket. Cukup datang, pesan kopi di kafe terminal, pilih kursi yang menghadap aliran orang, dan biarkan hidup orang lain jadi latar bengong terbaik yang pernah kamu punya.

Lokasi: Jl. Bandara Sultan Hasanuddin, Maros (±30 menit dari pusat Makassar)

Tiket masuk: Gratis (area publik terminal)

Kisaran biaya: Rp 25.000 – Rp 50.000 (kopi/minuman di kafe terminal)

Waktu terbaik: 07.00 – 09.00 atau 15.00 – 18.00 WITA (jam puncak penerbangan)

Jadi, spot bengong mana yang pertama mau kamu coba? Ingat: bengong yang kamu lakukan setelah membaca artikel ini bukan tanda kamu malas. Itu DMN-mu yang sedang bekerja.

Curated For You

Editorial Team

Related Article